29 August 2020, 19:51 WIB

Jika Positivity Rate diatas 10%, DKI Harus Tarik rem Darurat


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

EPIDEMIOLOG Universitas Indonesia Tri Yunis Miko memperingatkan agar Pemprov DKI Jakarta fokus dan serius dalam mencegah penularan covid-19. Pasalnya dalam sepekan ini, beberapa kali 'positivity rate' covid-19 Jakarta berada di atas ambang batas WHO yakni 10%.

Ia menyebut puncak kurva penularan covid-19 Jakarta pernah terjadi pada April lalu dengan jumlah 'positivity rate' sebesar 14%.

"Jangan sampai ini menjadi puncak kedua. Kalau sudah di atas 14%, jangan ragu, mau tidak mau, Pemprov DKI Jakarta harus tarik rem darurat," ungkap Tri saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (29/8).

Tri menyebut jika tidak melakukan pencegahan secara ketat saat ini, bukan tak mungkin 'positivity rate' Jakarta yang pernah mencapai 14% di bulan April akan terulang kembali.

Baca juga : Kasus Covid-19 di Jakarta Kembali Cetak Rekor, ada 888 Kasus Baru

Jika hal itu terjadi, dampaknya akan semakin banyak orang-orang yang harus dirawat, faskes akan penuh, dan bukan tidak mungkin akan meningkatkan jumlah kematian yang saat ini cukup rendah di Jakarta

"Khawatirnya juga ada kepanikan di tengah masyarakat ketika ini mulai dialami oleh tetangganya. Klaster komunitas meningkat," tukasnya.

Masyarakat harus terus diingatkan betapa berbahayanya penularan covid-19 terutama bagi warga rentan. Pemprov DKI juga diminta untuk konsisten menyosialisasikan dan mendengungkan terus langkah pencegahan melalui 3M.

"Jangan seperti PSBB saat ini, Pak Gubernur justru membuat pengumuman hanya melalui media sosial. Dikhawatirkan masyarakat menilai PSBB tak lagi penting. Yang bersuara hanya wagub. Saat ini saja masyarakat sudah acuh terhadap protokol kesehatan," pungkasnya.(OL-7)

BERITA TERKAIT