29 August 2020, 06:30 WIB

Program PRO Dukung Ekonomi Sirkular di Indonesia


(Fer/H-3) | Humaniora

PENANGANAN dan pengelolaan sampah plastik menjadi perhatian pemerintah sehingga diperlukan aksi yang lebih dari biasanya. “Kami berulang kali menyampaikan
komitmen kuat pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang tidak biasa, bukan business as usual, serta menerapkan pendekatan perubahan sistem dalam
memerangi sampah plastik dan polusi yang ditimbulkannya,” kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan saat meluncurkan
program Packaging Recovery Organisation (PRO) bersama PRAISE (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment) secara virtual di Jakarta,
beberapa waktu lalu.

Menko Luhut menambahkan, kolaborasi antara publik dan swasta ialah suatu kemitraan yang inklusif. Apalagi, saat ini perusahaan juga dituntut untuk berperan lebih
besar dalam upaya pengurangan produksi sampah plastik melalui konsep extended producer responsibility (EPR) dengan menerapkan ekonomi sirkular dalam pengelolaan
sampah, dengan terbukanya lapangan kerja baru.

Menko Luhut mengungkapkan implementasi pilot proyek PRO mulai dilaksanakan tahun ini di Surabaya dan Bali. “Diharapkan hal ini pun dapat membuka
120 ribu lebih lapangan kerja dalam industri daur ulang ini, serta 3,3 juta pekerja informal pendukungnya,” sebut Menko Luhut.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PRAISE Karyanto Wibowo kemudian menjelaskan keberadaan PRO dapat memberikan sudut pandang dan inovasi baru
dalam menghadapi berbagai tantangan pada pengelolaan sampah dan percepatan praktik ekonomi sirkular di Indonesia.

“Kami berharap pemerintah, sektor industri, dan sektor informal, serta semiinformal lain dapat bergabung dalam inisiatif ini untuk mewujudkan Indonesia yang lestari,”
ujarnya.

Program PRO telah dapat diimplementasikan di sejumlah wilayah, seperti Eropa, Meksiko, dan Afrika Selatan. Di Benua Eropa, PRO terdiri dari 31 negara anggota yang dikenal
sebagai The Green Dot dan mendapatkan kontribusi dari sekitar 150 ribu perusahaan sebagai pemegang lisensi.

Program tersebut berhasil menciptakan lebih dari 400 miliar barang yang dikemas per tahunnya dan terdaftar pada 140 negara lainnya. PRO di Indonesia merupakan
inisiatif dari enam perusahaan yang juga tergabung dalam PRAISE, yaitu Coca-Cola Indonesia, Danone Indonesia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Nestle Indonesia,
Tetra Pak Indonesia, dan PT Unilever Indonesia Tbk. (Fer/H-3)

BERITA TERKAIT