29 August 2020, 05:45 WIB

Pencairan PMN Tinggal Tunggu PP


(Wan/Des/Ant/E-2) | Ekonomi

DIREKTORAT Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan penyertaan modal negara (PMN) kepada lima BUMN yang masuk ke program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bisa cair pada September 2020. Pemerintah tengah menyusun peraturan pemerintah (PP) untuk menjadi payung hukumnya.

"Peraturan pemerintah sekarang masih proses, perkiraannya September bisa cair cepat," kata Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Meirijal Nur dalam diskusi daring di Jakarta, kemarin.

Lima BUMN yang mendapat PMN itu ialah Hutama Karya (HK) mendapat Rp7,5 triliun, Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) Rp6 triliun, Permodalan Nasional Madani (PNM) sebesar Rp1,5 triliun, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Rp500 miliar, dan PPA sebesar Rp5 triliun.

Total alokasi PMN untuk lima BUMN itu mencapai Rp20,5 triliun yang masuk ke pos pembiayaan korporasi untuk biaya penanganan covid-19 dan PEN yang mencapai total Rp695,2 triliun.

Menurut dia, PMN kepada lima BUMN itu masuk dalam investasi yang dipisahkan sehingga memerlukan peraturan pemerintah.

Meirijal menyebut alokasi anggaran PMN untuk lima BUMN itu ditandatangani pada Juni 2020 yang menjadi basis hukum besaran modal yang disetujui pemerintah untuk disuntikkan kepada BUMN tersebut.

Apabila PMN itu sudah dicairkan, lanjut dia, diharapkan berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa kembali terangkat dan membaik pada kuartal III-IV 2020.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengaku hingga kini pihaknya masih menanti perhatian dari pemerintah setelah perusahaan pelat merah itu membukukan rugi bersih sebesar US$712,72 juta atau setara Rp10,34 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS) di semester I-2020 berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit.

"Kami belum menerima stimulus ekonomi," tegas Irfan ketika dihubungi kemarin.

Sejak Juni lalu, Garuda Indonesia sudah dijanjikan akan menerima suntikan modal Rp8,5 triliun sebagai bagian dari program (PEN). Namun, hingga kini belum juga terealisasi. (Wan/Des/Ant/E-2)

BERITA TERKAIT