28 August 2020, 22:15 WIB

BIY Pertama yang Miliki Sistem Peringatan Dini Tsunami di ASEAN


Ardi T Hardi | Nusantara

PRESIDEN Jokowi meresmikan sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami Bandara Internasional Yogyakarta (BIY). Bandara ini menjadi bandara dengan sistem peringatan dini tsunami pertama .

Total biaya pembangunan bandara tersebut sekitar Rp11, 3 Triliun, terdiri dari Rp4,2 triliun untuk pembebasan lahan dan 7,1 triliun untuk pembangunan fisik.

"Menurut saya yang terbaik saat ini di Indonesia, nggak tahu, kalau ada bandara baru lebih baik lagi nggak tahu," jelas Presiden Joko Widodo saat peresmian Bandara Internasional Yogyakarta, dan Pengoperasian Menara Airnav Indonesia, serta Sistem Peringatan Dini Tsunami, Jumat (28/8).

Proyek BIY dibuat dalam kurun 20 bulan, diklaim menjadi bandara terbaik saat ini salah satunya sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami yang dimiliki. Selain itu, BIY juga sangat memperhatikan mitigasi bencana.

Bangunan BIY bisa menahan gempa bumi berkekuatan 8,8 skala richter. Selain itu, bangunan bandara juga bisa menjadi tempat evakuasi dari tsunami ketinggian genangan 10 meter dari topografi atau setinggi 12,5 meter dari
muka air laut. Tempat evakuasi pun bisa menampung lebih dari 12 ribu orang.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi , dan Geologi, Dwikorita Karnawati mengatakan, pembangunan sistem peringatan dini bencana sangat penting dibangun di bandara-bandara di Indonesia, termasuk di BIY. Pasalnya, Indonesia termasuk wilayah rawan bencana, misalnya gempa bumi, gunung berapi, dan tsunami.

"Sistem peringatan dini yang dibangun di BIY diperkuat dengan Internet of Thing (IoT) dan artificial intellegent," terang dia di BIY. Dengan demikian, BIY diharapkan bisa menyelamatkan jiwa pengunjung dan masyarakat di sekitarnya apabila terjadi tsunami.

Dengan IoT, 372 sensor gempa bumi yang ada di seluruh Indonesia bisa dipantau. Apabila terjadi gempa bumi, super komputer yang dilengkapi artificial intelegent di BMKG pusat secara otomatis dihitung kekuatan, posisi, dan kedalaman pusat gempa bumi yang terjadi untuk memprediksi ada potensi tsunami atau tidak.

"Hasil perhitungan tersebut langsung dikirim ke BIY dalam waktu 2-4 menit (setelah gempa bumi terjadi," terang dia. Informasi tersebut juga dikirim ke instansi terkait, seperti BNPB, BPBD, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan diteruskan ke masyarakat.

Untuk mengantisipasi bencana tsunami di BIY, alat-alat deteksi dini sudah dipasang sehingga bisa dibuat mitigasi bencana tsunami. Artinya, apabila terjadi tsunami, kita sudah bisa memprediksikan tinggi tsunami berapa meter
sehingga masyarakat sekitar dan pengunjung bandara bisa dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

Peringatan dini bahaya tsunami dibagi menjadi tiga, yaitu "Awas" apabila ancaman tsunami di atas 3 meter, "Siaga" apabila ancaman tsunami 0,5-3 meter, dan "Waspada" apabila ancaman tsunami di bawah 0,5 meter. Operator
bandara kemudian yang bertugas membunyikan sirine dan melakukan evakuasi.

BMKG tidak hanya membuat sistem peringatan dini tsunami di BIY, tetapi juga memasang berbagai peralatan untuk mengiformasikan cuaca. Informasi tersebut sangat dibutuhkan oleh operator bandara untuk menjaga keamanan dan
keselamatan pesawat saat akan lepas landas ataupun mendarat.

Beberapa alat yang dipasang di sekitar BIY, antara lain Intensitymeter, Accelerometer, Automated Weather Observation System, Earthquake Early Warning System,  hingga Warning Receiver System New Generation.

"Ini bandara di Indonesia satu-satunya yang dilengkapi dengan sistem peringatan dini tsunami, bahkan di ASEAN," jelas Dwikorita.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menambahkan bahwa pembangunan BIY telah memperhatikan mitigasi bencana sejak perancangan hingga pembangunan. Masyarakat pun tidak perlu khawatir karena kekuatan bangunan sudah dihitung untuk menahan guncangan gempa bumi maupun terjangan tsunami.

"Sepanjang pelaksanaan mitigasi didisain dan dilaksanakan dengan baik, itu (keberadaan bandara) baik dan tidak perlu dikhawatirkan," kata dia.

BMKG juga telah membangun Stasiun Meteorologi YIA untuk membantu menginformasikan cuaca kepada petugas bandara. Automated Weather Observation System telag dipasang guna mendeteksi gangguan cuaca.

"Ketika terjadi unsur-unsur (cuaca) yang membahayakan di bandara, kita akan menginformasikan ke Airnav untuk menunda penerbangan atau pendaratan," kata dia.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY Reni Kraningtyas menambahkan, untuk cuaca lebih luas, DIY dan sekitarnya bisa diakses lewat Stasiun Klimatologi BMKG DIY. "Kami saling mensuport terkait informasi informasi cuaca dan iklim," pungkas dia. (OL-13)

Baca Juga: Presiden Resmikan Bandara Internasional Yogyakarta

BERITA TERKAIT