28 August 2020, 21:32 WIB

Partisipasi Perempuan di Dunia Kerja Perlu Lebih Didorong


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

PEREMPUAN perlu didorong agar memiliki akses setara serta keberlanjutan di dunia kerja. Sebab masih banyak perempuan yang tak bisa melanjutkan bekerja akibat dibebankan oleh pekerjaan domestik hingga ekosistem kerja yang tidak mendukung.  

Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan partisipasi angkatan kerja pada kelompok kerja perempuan per Februari 2020 mengalami penurunan dari 55,6 persen menjadi 54,6 persen. Sedangkan, pada kelompok laki-laki masih jauh lebih tinggi dengan kenaikan dari sekitar 82 persen menjadi di level 83 persen. 

Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Maya Juwita mengungkapkan, ketimpangan posisi perempuan di dunia kerja ini perlu menjadi perhatian serius. Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 yang memberi pengaruh signifikan kepada perempuan. 

Ia menyebut, perempuan yang notabene banyak bekerja paruh waktu atau sektor jasa yang banyak terdampak Covid-19 tak sedikit yang kemudian lebih mudah kehilangan pekerjaan. 

"Aspek Covid-19 lebih memperparah. Sektor yang didominisi perempuan seperti pada retail, pariwisata," ujar Maya dalam webinar bertajuk Economic Sustainability Pathway: Indonesian Women in the Workforce, Jumat (28/8).

Dampak pandemi bagi perempuan, menurutnya juga diperparah dengan ketidakadilan beban domestik yang mesti ditanggung perempuan di ranah keluarga. Belum lagi, potensi masalah kekerasan yang mayoritas banyak dialami perempuan. 

Meski demikian, survei yang dilakukan oleh IBCWE berkolaborasi dengan Investing in Women menunjukkan, adanya potensi untuk mendorong cara bekerja perempuan yang lebih fleksibel serta ekosistem mendukung agar perempuan bisa bertahan di dunia kerja. Misalnya saja, terkait work from home (WFH) hingga cuti orang tua. 

Baca juga : Menaker : Pembahasan RUU Cipta Kerja dilakukan Secara Transparan

"Bekerja dari rumah bisa jadi produktif. Sangat menarik tentang flexible work arrangment," tegasnya. 

Executive Vice President Gajah Tunggal Group Catharina Widjaja mengamini hal itu. Ia menekan perempuan perlu didorong keberlanjutannya bukan hanya dalam konsep keterwakilan tetapi dan hak setara untuk berkembang dan ekosistem yang memadai.

"Kami melihat waktu kami menerima karyawan tidak membedakan harus perempuan atau laki-laki," kata dia. 

Dalam hal penyediakan ekosistem yang suportif bagi pekerja perempuan, HR Director Danone Indonesia Dedie Renaldi Manahera pun menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan banyak langkah konkret. Seperti inisiatif cuti melahirkan bagi perempuan 6 bulan dan laki-laki 10 hari untuk mendampingi istri.

"Post-natal program kita lagi genjot di saat sudah melahirkan, wanita mengambil 6 bulannya supaya bisa merawat anak. Kita komunikasi ke manajer utk terus berkomunikasi. The job harus digaransi," imbuhnya. 

Indonesia Country Program Manager Global Reporting Initiative (GRI) Lany Harijanti secara lebih jauh menegaskan, pentingnya investasi dukungan ke perempuan tidak hanya membantu perempuan berdaya namun juga akan bermanfaat bagi keberlanjutan perusahaan. 

"Itu juga akan membantu menyiapkan SGD (keberlanjutan) report. Lebih memudahkan bagi perusaaan atas apa yang sudah dana apa yang dilakukan," pungkasnya.  (OL-7)

BERITA TERKAIT