28 August 2020, 18:10 WIB

Fenomena Happy Hypoxia di Banyumas


Zubaedah Hanum | Humaniora

SEJAK Juli 2020, kasus rujukan covid-19 dengan pneumonia sedang sampai berat di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mulai mengalami peningkatan signifikan.

Salah satu pasien tiba di rumah sakit dalam keadaan tidak terlalu sesak tapi tidak lama kemudian makin memberat dan memerlukan ventilator. Setelah dilakukan analisis gas darah arteri ternyata pasien sedang mengalami hypoxia.

Saat pasien mengalami hypoxia, saturasi oksigen akan menurun di bawah level normal 90% dan mengakibatkan berkurangnya kemampuan ikatan hemoglobin terhadap oksigen. Pada akhirnya oksigen yang disampaikan ke seluruh sel pada jaringan tubuh juga berkurang.

Dari satu temuan ke temuan selanjutnya, Tim penyakit infeksi emerging (PIE) RSUD Prof Dr Margono Soekarjo makin mengintensifkan pengecekan saturasi oksigen pada pasien secara berkala untuk mengantisipasi kondisi pasien yang memburuk tiba-tiba.

Jika pengecekan tersebut menunjukkan pasien sedang mengalami hypoxia maka tim akan bertindak berdasarkan hasil analisis gas darah arteri pasien.

Salah satu dokter spesialis paru yang bertugas di RSUD Prof Dr Margono, Wisuda Moniqa Silviyana, SpP menjelaskan, dari hasil analisis gas darah arteri dapat terlihat apakah kondisi pasien tersebut masih dapat dikoreksi dengan pemberian terapi oksigen dengan masker oksigen, atau memang sudah perlu ventilator.

"Ada hitungannya. Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo sendiri tidak perlu menunggu lama karena ada alatnya jadi segera dipasang jika memang perlu ventilator," cetus Moniqa.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya akan tetap mempertimbangkan terlebih dahulu. Apabila memang masih memungkinkan dibantu dengan masker oksigen maka pasien akan dipasang masker oksigen saja.

Menurut Moniqa, pasien covid-19 di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo yang mengalami happy hypoxia sebagian besar bisa ditangani dengan baik namun ada juga yang meninggal dunia.

"Ketika terjadi happy hypoxia maka kami segera melakukan terapi pada pasien sesuai prosedur sehingga kondisi pasien dapat tertolong dan berangsur membaik. Namun bila kondisi pasien berlanjut karena infeksi makin parah, merusak paru dan terlanjur terjadi kerusakan luas pada jaringan paru maka pasien bisa tidak tertolong," katanya.

Dengan melakukan analisis gas darah arteri dan pengecekan saturasi secara berkala walau kondisi pasien terlihat baik-baik saja, maka dokter mengantisipasi kemungkinan terburuk. "Apabila pemeriksaan dan hasil AGD menunjukkan hypoxia maka kami segera melakukan koreksi oksigenasi, memberikan tatalaksana secepat mungkin agar selamat dan tidak menunggu sampai pasien sesak," katanya.

Kadar oksigen rendah

TIGA warga Banyumas, Jawa Tengah, meninggal dunia karena virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19, beberapa waktu lalu. Padahal, mereka tidak memiliki gejala covid-19 pada umumnya seperti demam tinggi, batuk, maupun flu.

Tim penyakit infeksi emerging (PIE) RSUD Prof Dr Margono Soekarjo menyatakan, ketiga pasien itu mengalami 'Happy Hypoxia' setelah menemukan rendahnya kadar oksigen yang ada di dalam tubuh mereka di bawah 90%.

"Ini menjadi salah satu gejala baru yang patut diwaspadai," ucap salah satu dokter spesialis paru yang bertugas di RSUD Prof Dr Margono, Wisuda Moniqa Silviyana, SpP.

Ia menjelaskan, Happy Hypoxia atau Hypoxemia syndrome didefinisikan sebagai kondisi seseorang dengan kadar oksigen rendah dalam tubuh tapi terlihat baik-baik saja. Beberapa pasien covid-19 yang mengalami Happy Hypoxia terlihat biasa-biasa aja padahal saat dicek, saturasi oksigennya sudah di level 70% hingga 80%.

"Menariknya adalah saat kami cek dengan alat yang disebut pulse oxymeter menunjukkan saturasi oksigennya rendah, hasil analisis gas darah arteri (AGD) juga menunjukkan tanda gagal napas. Tetapi pasien saat itu baik-baik saja, bisa berkomunikasi seperti biasa," bebernya.

Menurut Moniqa, ketiga pasien tersebut memiliki penyakit komorbid atau penyakit penyerta seperti gangguan jantung, hipertensi serta obesitas atau kegemukan. Namun, pasien tidak menunjukkan gejala hypoxia seperti, misalnya, sesak napas, gelisah, dan tubuh yang makin melemah. Pasien malah terlihat baik-baik saja.

Pada kondisi normal, terang Moniqa, seseorang biasanya memiliki saturasi oksigen antara 95%- 100%. Dalam keadaan saturasi oksigen normal maka sel darah merah atau hemoglobin dapat mengikat oksigen dengan baik lalu akan menyampaikannya ke seluruh sel pada jaringan tubuh.

Namun, saat mengalami hypoxia maka saturasi oksigen mengalami penurunan, di bawah level normal. Saturasi oksigen di bawah normal itu akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan ikatan hemoglobin terhadap oksigen dan pada akhirnya oksigen yang disampaikan ke seluruh sel pada jaringan tubuh juga berkurang.

Saat seseorang mengalami hypoxia, maka biasanya ada gejala yang ditunjukkan sejak awal seperti sesak napas, gelisah, hingga tubuh yang makin melemah, sebelum akhirnya kondisi makin memburuk.

"Namun fenomena yang berbeda terjadi pada beberapa pasien covid-19 yang kami tangani. Pasien tampak tidak sesak atau tidak begitu sesak atau hanya sedikit sesak dan masih dapat melakukan aktivitas, berbicara, seolah sedang tidak mengalami hypoxia," katanya.

Pasien tersebut seolah-olah dapat mennoleransi kondisi dalam tubuhnya sehingga tidak menunjukkan gejala penurunan saturasi sejak awal. Hingga nantinya kondisinya makin memburuk.

Saat saturasi oksigennya sudah anjlok, barulah pasien menunjukkan kondisi berat dan perburukan sehingga harus segera diberikan alat bantu napas.

Gejala sesak napas, kata dia, baru mulai tampak setelah terjadi konsolidasi berat pada jaringan paru. "Kalau dilihat dari patogenesisnya, dyspnea atau gejala sesak napas baru mulai tampak setelah jaringan paru mulai mengalami penurunan dan bahkan sudah terjadi konsolidasi berat, jadi jika gambaran parunya rusak berat maka gejala sesaknya baru muncul," katanya.

Komplikasi serius

MESKI tidak menunjukkan gejala umumnya seperti demam tinggi, batuk, pilek, flu atau sesak napas, pasien covid-19 yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) rentan mengalami komplikasi serius dalam organ tubuhnya.

Itulah yang terjadi pada tiga warga Banyumas, Jawa Tengah, yang meninggal dunia karena Happy Hipoxia setelah terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19, beberapa waktu lalu.

Tim Penyakit Infeksi Emerging (PIE) RSUD Prof Dr Margono Banyumas, Jawa Tengah, mengidentifikasi ketiga pasien tersebut dengan penyakit komorbid.

"Ketiga pasien tersebut juga memiliki penyakit komorbid atau penyakit penyerta seperti gangguan jantung, hipertensi serta obesitas atau kegemukan," terang salah satu dokter spesialis paru Wisuda Moniqa Silviyana, SpP yang bertugas di dalam tim tersebut.

Moniqa mengungkapkan, penyakit komorbid pada pasien dapat mempengaruhi imunitas dan imunitas yang menurun menyebabkan fungsi sel-sel imun juga menurun. Dengan demikian menjadi tidak maksimal dalam melawan infeksi yang terjadi.

Dari kasus covid-19 yang awalnya merebak di Kota Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019 lalu didapatkan data bahwa penyakit kardivaskular menempati urutan teratas penyebab kematian pada pasien covid-19.

Baca juga: Megawati Geram Kepada Pihak yang Kerap Minta Presiden Mundur

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto SpP (K), FISR, FAPSR menjabarkan, penyakit kardiovaskular itu berupa hipertensi, aritmia, jantung koroner, dan gagal jantung, ialah komorbiditas terbesar covid-19.

Disusul dengan penyakit gangguan pernapasan (respirasi), seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis/PPOK, tuberkulosis/TB paru, bekas TB paru, dan kanker paru.

Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena ACE-2 yang menjadi reseptor SARS-CoV-2 penyebab covid-19 terdapat di sistem kardiovaskular. "Kenapa kardiovaskular? Karena protein S pada virus korona berkaitan dengan reseptor sel host ACE-2 yang ditemukan di usus, ginjal, dan pembuluh darah. Secara imunologi, masuknya virus ke dalam sel menginduksi keluarnya sitokin yang meningkatkan keparahan," bebernya dalam sebuah webinar di kanal Youtube Persatuan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia (PAPDI), belum lama ini. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT