23 August 2020, 17:50 WIB

KPAI Minta Komitmen Semua Pihak Terapkan Protokol Kesehatan Ketat


Syarief Oebaidillah | Humaniora

Pembukaan sekolah di zona hijau dan zona kuning yang dinilai masih rentan terpapar pandemi covid -19 membutuhkan komitmen semua pihak dalam penerapan protokol kesehatan dengan baik.

"Semua pihak harus memiliki komitmen yang sama termasuk para orang tua agar anak-anak tidak rentan terpapar covid -19. Banyak hal termasuk terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung kepatuhan protokol kesehatan di sekolah, " kata Ketua KPAI Susanto menjawab Media Indonesia, Minggu (23/8).

Susanto mengingatkan setiap warga di satuan pendidikan mesti mendapatkan literasi terkait protokol kesehatan untuk menumbuhkan dan membangkitkan komitmen agar semua warga sekolah yang ada di zona hijau dan zona kuning yang diizinkan membuka sekolah tetap patuh pada protokol kesehatan.

Baca juga: September, Siswa dan Guru di Palembang Dapat Internet Gratis

"Hemat saya kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi fokus utama. Pemerintah daerah dan satuan pendidikan mesti menjelaskan kepada orangtua dan masyarakat mengingat saat ini kondisinya masih rentan," tegasnya.

Dikatakan hal ini memerlukan kearifan dan kesepahaman semua pihak. Ia mengaku KPAI mendapat informasi dari berbagai orangtua yang menghendaki ingin segera anaknya masuk sekolah karena berbagai faktor alasan.

42 Guru Meninggal

Pada bagian lain, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengutarakan keprihatinan atas meninggalnya 35 guru di Surabaya akibat covid-19 dan mengingatkan hal ini merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang telah mengorbankan guru sebagai garda terdepan di sekolah.

"Pendidik yang akan memberikan bekal bagi terciptanya generasi emas pada tahun 2045 nanti. Kondisi ini menunjukkan perlindungan terhadap guru sangat lemah di masa pandemi ini," kata Sekjen FSGI Heru Purnomo.

FSGI mencatat hingga 18 Agustus 2020 sudah ada 42 guru dan 2 pegawai Tata Usaha Sekolah yang meninggal karena covid-19. "Sebelum pandemi, sudah terjadi kekurangan guru, kalau para guru tidak dilindungi, maka potensi penularan covid-19 di lingkungan satuan pendidikan akan tinggi jika sekolah dibuka pemerintah daerah tanpa ada persiapan yang matang," kata Heru.

Heru menegaskan FSGI meragukan persiapan pembukaan sekolah dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat daftar periksa buka sekolah banyak tidak dipenuhi oleh sekolah. 

Contohnya di kabupaten Toba. “Walau statusnya zona oranye, 51 sekolah jenjang SMP di Kabupaten Toba, Sumatera Utara melakukan pembelajaran tatap muka, dengan ketentuan 3 hari masuk sekolah dalam seminggu dengan 3,5 jam tatap muka di sekolah. Ketika kami mengecek daftar periksa di Kemdikbud terkait pembukaan sekolah, ternyata dari 51 SMP tersebut yang mengisi baru 13 sekolah dan 37 sekolah belum mengisi. Dari 13 sekolah yang mengisi ternyata 1 SMP tidak punya toilet, 1 tidak punya CTPS, 4 tidak punya disinfektan dan 8 tidak punya thermogun,” tambah Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen FSGI.(H-3)

BERITA TERKAIT