15 August 2020, 15:10 WIB

Pemulihan Ekonomi Bergantung Keberhasilan Penanganan Covid-19


Ardi Teristi Hardi | Ekonomi

PAKAR ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM),Eddy Junarsin, mengatakan pemulihan ekonomi nasional sangat bergantung pada keberhasilan penanganan pandemi covid-19. Meski aktivitas perekonomian beberapa bulan terakhir mulai kembali berjalan, tren jumlah kasus Covid-19 yang tidak kunjung menurun menyebabkan banyak pelaku ekonomi masih akan menunggu perkembangan situasi.

"Kalau masih seperti ini, semua komponen ekonomi masih wait and see, jadi pertumbuhan akan sulit. Kalau bisa di atas nol itu sudah prestasi," kata Eddy dalam siaran pers, Sabtu (15/8). 

Situasi ekonomi di Indonesia sejalan dengan melemahnya ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Untuk mendorong kinerja perekonomian, pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah kebijakan moneter dan fiskal yang tepat, misalnya dengan menggenjot belanja negara dan menurunkan suku bunga. 

Langkah tersebut memang bukan merupakan solusi jangka panjang, namun bisa mendorong pemulihan aktivitas ekonomi dalam negeri yang sempat menurun drastis sebagai dampak dari penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Ia kembali menegaskan, perbaikan penanganan Covid-19 adalah langkah yang paling penting untuk membangkitkan kembali perekonomian Indonesia. Tanpa penanganan Covid-19 yang baik, kebijakan ekonomi yang diambil tidak akan memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

"Tapi kebijakan ekonomi walau arahnya sudah benar dan memang harus dilakukan, kalau kondisinya seperti ini kita tetap tidak akan ke mana-mana," terang dia.

Baca juga: Dorong Ekspansi Fiskal, Pemerintah Lanjutkan PEN di 2021

Eddy Junarsin juga memproyeksi, pertumbuhan negatif ekonomi Indonesia masih akan terjadi di kuartal III. Pertumbuhan ekonomi positif diproyeksikan baru bisa terjadi pada kuartal IV-2020.

"Kita perlu hati-hati di kuartal III, ini masih menjadi tanda tanya besar. Harapannya di kuartal IV bisa mulai positif meski tidak bisa tinggi, dengan catatan penanganan Covid-19 berjalan lebih baik," papar dia.

Berdasarkan catatan pemerintah, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi sebesar -5,32% (year on year/yoy), turun dibandingkan dengan capaian pada kuartal I sebesar 2,97% (yoy). 

Penurunan pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh komponen PDB, misalnya konsumsi rumah tangga terkontraksi -5,51% dan sektor investasi terkontraksi -8,61%.

Eddy menerangkan, Indonesia memang belum mengalami resesi jika resesi didefinisikan defisit perekonomian selama 2 kuartal berturut-turut. Namun, jika resesi dipahami sebagai penurunan aktivitas ekonomi secara umum, Indonesia sebenarnya bisa disebut sudah memasuki resesi.

"Ada kemungkinan kita sebenarnya sudah memasuki resesi dalam artian sebenarnya," pungkas dia. (A-2)

BERITA TERKAIT