15 August 2020, 13:20 WIB

Kapitra Imbau KAMI Jangan Hasut Rakyat Benci Pemerintah


Selamat Saragih | Politik dan Hukum

KELOMPOK oposisi yang masih berseberangan dengan pemerintah karena kekalahan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun lalu, tidak perlu membuat propaganda yang menghasut rakyat untuk membenci pemerintah.

"Jangan bikin propaganda untuk menghasut rakyat agar mendiskreditkan serta menebar kebencian kepada pemerintah," kata praktisi hukum Muhammad Kapitra Ampera dalam keterangan resminya, kemarin, terkait terbentuknya Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia (KAMI) yang diinisiasi Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin beserta koleganya.

Menurut dia, sudah seharusnya kelompok masyarakat di Indonesia bersatu mengatasi dampak buruk pandemi covid-19 yang terjadi saat ini. "Kalau kita mencinta Negeri ini, ayo kita bersama-sama untuk fokus bagaimana membantu sesama manusia mengatasi covid-19 ini," tuturnya.

Kapitra pun menilai apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini sudah cukup baik. Menurut dia, sekarang ini Indonesia secara pemerintahan cukup baik dalam mengatasi pandemi covid-19 dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura mencatat secara tahunan/year-on-year (YoY) ekonomi mereka menyusut 13,2% pada kuartal yang berakhir 30 Juni 2020. Adapun kondisi ekonomi Indonesia hanya terkontraksi minus 5,32%.

"Itu artinya, recovery ekonomi yang ambruk akibat pandemi covid-19 di negara kita lebih baik daripada negara-negara lainnya," ujarnya.

Itu sebabnya, Kapitra melihat, terbentuknya KAMI perlu dicermati lebih mendalam. Pembentukan KAMI bisa dikatakan sarat kepentingan politis lantaran tuntutan dan aksi yang akan dilakukannya dianggap tidak jelas.

Dia menilai wadah KAMI memiliki tujuan serta maksud yang lain terkait dengan misi penyelamatannya. Yang diperjuangkan oleh para pendiri KAMI tersebut bukan terkait bagaimana mengatasi dampak buruk pandemi covid-19, melainkan lebih pada arah politik akibat buntut kekalahan Pilpres tahun lalu. (OL-13)

BERITA TERKAIT