15 August 2020, 04:47 WIB

Ode untuk Olympique Lyonnaise


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

KETIKA Prancis dalam murka, kaki raksasa nya terangkat,

Dan sumpahnya menghujani udara, bumi, dan laut,

Menghentakkan kakinya yang kuat dan berkata bahwa dia akan bebas,

Bersaksi bagiku, betapa aku berharap dan takut!

Puisi yang ditulis Samuel Coleridge April 1798 itu pantas dipinjam untuk menggambarkan perjuangan yang akan dijalani Olympique Lyonnaise dini hari nanti. Lyon berangkat ke Lisabon, Portugal, untuk memainkan laga penting menghadapi Manchester City di perempat final Liga Champions.

Coleridge merupakan sastrawan Inggris yang awalnya mendukung Revolusi Prancis. Namun, ia kemudian berbalik menentang Prancis ketika negara itu menginvasi Swiss. Penyair Inggris itu kemudian menulis sebuah puisi berjudul Ode untuk Prancis.

Penggalan puisi di atas ialah bagian dari dukungannya kepada Revolusi Prancis. Semangat revolusi itulah yang harus digelorakan apabila Lyon ingin mencapai puncak kejayaan.

Ketika Lyon lolos ke perempat final dengan menyingkirkan raksasa Italia, Juventus, banyak yang melihat sebagai sebuah keberuntungan. Pada pertandingan kedua di Torino, mereka memang harus menyerah 1-2 oleh dua gol balasan yang dipersembahkan mahabintang Cristiano Ronaldo.

Namun, Lyon tetap lolos karena mampu mencuri gol di kandang Juventus. Gol Memphis Depay cukup untuk mengukuhkan kemenangan 1-0 yang mereka raih pada pertandingan pertama di Lyon.

Dengan modal itulah, Lyon tidak perlu rendah diri untuk menghadapi City. Mereka memiliki kekuatan untuk terus membuat kejutan. Di musim lalu ketika City sedang di puncak kejayaan, mereka mampu membungkam klub asal Inggris itu.

Melalui kaki-kaki yang kuat, Lyon harus membombardir gawang City dengan serangan bola-bola atas dan wallpass yang cepat. Apalagi, perempat final kali ini hanya dilakukan sekali sehingga cukup satu kemenangan agar bisa melangkah ke semifinal.

Bukan kaleng-kaleng

Lyon bukanlah klub ‘kaleng-kaleng’. Kalau kita mendengar nama-nama besar di sepak bola dunia seperti Karim Benzema, Hugo Lloris, Juninho, Michael Essien, Florent Malouda, dan Alexandre Lacazette, mereka merupakan jebolan dari Lyon.

Di tangan Rudi Garcia, Lyon menjadi tim yang disegani lawan. Raksasa Prancis, Paris St Germain, hanya bisa menang melalui adu tendangan penalti untuk mengalahkan Lyon dan merebut Piala Liga Prancis.

Pemain asal Belanda Memphis menjadi andalan Lyon. Kapten kesebelasan ini sudah mencetak enam gol di Liga Champions musim ini. Ujung tombak Lyon ini akan menjadi momok bagi City. Apalagi, ia pernah bermain untuk ‘Setan Merah’ Manchester United.

Memphis bisa berpasangan dengan Karl Toko Ekambi atau Moussa Dembele sebagai ujung tombak kembar. Rudi Garcia merupakan juru
taktik yang andal. Ia bisa memainkan pola 3-1-4-2 atau 3-5-2 tergantung pada lawan yang harus dihadapi.

Dengan kekuatan di lapangan tengah, Lyon bisa bermain lincah. Apalagi mereka punya dua gelandang yang agresif, Maxence Caqueret dan Maxwel Cornet. Ketika mereka menghempaskan City September 2018, kedua pemain itulah yang mempersembahkan dua gol kemenangan 2-1.

Lyon mempunyai satu gelandang lain yang Tangguh, yaitu Houssem Aouar. Pemain Prancis berusia 22 tahun itu diincar pelatih Josep Guardiola untuk dibawa ke City musim depan. Bersama Leo Dubois, ia menjadi pilar kekuatan lapangan tengah Lyon.

Menghadapi City, Rudi Garcia sangat mungkin menempatkan pemain asal Brasil, Bruno Guimaraes, sebagai breaker untuk menghadang pemain lawan sebelum masuk daerah pertahanan mereka. Peran Guimaraes penting untuk membantu dua rekannya asal Brasil, Fernando Macal dan Marcello, yang bermain di belakang.

Waspada

City menyadari lawan yang akan dihadapi dini hari nanti bisa menjadi pembunuh raksasa. Gelandang asal Jerman, Ilkay Guendogan, mengingatkan rekan-rekannya untuk waspada karena Lyon bisa membuyarkan mimpi mereka mengangkat trofi Liga Champions yang belum pernah diraih.

“Dengan hanya satu pertandingan yang dimainkan, segala sesuatu bisa terjadi. Apalagi mereka akan bermain tanpa beban sehingga kami harus berhati-hati menghadapi Lyon nanti,” kata Guendogan.

Pep Guardiola sangat mungkin mempertahankan tim yang mampu menjinakkan Real Madrid di 16 besar. Guendogan yang bermain apik akan mendampingi playmaker Kevin De Bruyne dan Rodrigo Hernandez. Meski David Silva dan Bernando Silva juga sudah siap untuk bermain, Guardiola kemungkinan mempertahankan a winning team.

De Bruyne merupakan nyawa dari City. Pemain asal Belgia itu tidak hanya luas visi permainannya, tetapi juga bermain sangat mobile. Kalau Guimaraes bisa mengendalikan pergerakan De Bruyne, City akan menghadapi kesulitan.

Trio Raheem Sterling, Gabriel Jesus, dan Phil Foden sangat membutuhkan pasokan bola dari De Bruyne. Kalau Pep Guardiola ingin serangan tim asuhannya tidak terputus, ia punya pilihan lain untuk memasukkan Riyad Mahrez mengisi tempat Foden.

Di barisan belakang, meski Benjamin Mendy siap tampil, Guardiola tampaknya puas dengan penampilan Joao Cancelo untuk mengisi posisi bek kiri. Demikian pula dengan pemain asal Prancis Aymeric Laporte yang akan berduet dengan Fernandinho di jantung pertahanan.

Titik kelemahan City ada di bawah mistar. Baik kiper Ederson Moraes maupun Claudio Bravo sering tidak konsisten penampilannya.

Pep Guardiola sangat berharap kali ini tim asuhannya tidak membuat kesalahan yang tidak perlu. Atalanta dan Atletico Madrid sudah merasakan akibat dari ‘pertandingan final’ ini. Mereka harus tersingkir karena gol di menit-menit terakhir. “Bagi saya pribadi adalah sebuah kegagalan besar apabila harus tersingkir dan tidak bisa mengangkat piala untuk City,” tegas pelatih berkepala plontos asal Spanyol itu.

Seperti diingatkan Coleridge, Guardiola jangan main-main dengan Prancis karena ketika murka, kaki mereka yang kuat akan bebas bergerak.

 

BERITA TERKAIT