15 August 2020, 02:30 WIB

Indonesia Optimistis Menyongsong 2021


Media Indonesia | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) membacakan pidato di Sidang Tahunan MPR & Sidang Bersama DPR dan DPD RI 2020 dan menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN 2021 di hadapan anggota DPR dalam Sidang Paripurna DPR RI di Jakarta, kemarin.

Poin terbesar dalam pidato Jokowi ialah sikap optimistis pemerintah dalam menyongsong tahun 2021. Jokowi menyebut pertumbuhan ekonomi pada tahun mendatang bisa mencapai 4,5%-5,5%.

Secara lengkap, isi pidato Nota Keuangan dan RAPBN 2021 yang dibacakan Presiden Jokowi sebagai berikut:

YANG saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak KH Ma'ruf Amin beserta Ibu Wury Estu Ma'ruf Amin. Yang saya hormati, ketua, para wakil ketua, dan para anggota MPR Republik Indonesia; yang saya hormati, ketua, para wakil ketua, dan para anggota DPR Republik Indonesia.

Yang saya hormati, ketua, para wakil ketua, dan para anggota DPD Republik Indonesia; yang saya hormati, ketua, para wakil ketua, dan para anggota lembaga-lembaga negara.

Yang saya hormati, Ibu Hajah Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia; yang saya hormati, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Yang saya hormati, Bapak Try Sutrisno dan Bapak Hamzah Haz; Yang saya hormati, Bapak Muhammad Jusuf Kalla beserta Ibu Mufi dah Jusuf Kalla.

Yang saya hormati, Bapak Boediono beserta Ibu Herawati Boediono; Yang saya hormati, Ibu Hajah Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Yang saya hormati, yang mulia para duta besar negara-negara sahabat dan para pimpinan perwakilan badan dan organisasi internasional.

Yang saya hormati, para Ketua umum partai politik yang hadir; Yang saya hormati, para hadirin, saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Semestinya, seluruh kursi di ruang sidang ini terisi penuh tanpa ada satu kursi pun yang kosong. Semestinya, sejak 2 minggu yang lalu, berbagai lomba dan kerumunan penuh kegembiraan, karnaval-karnaval perayaan peringatan Hari Kemerdekaan diadakan, menyelimuti suasana bulan Kemerdekaan ke-75 RI.

Namun, semua yang sudah kita rencanakan tersebut harus berubah total. Semua ini tidak boleh mengurangi rasa syukur kita dalam memperingati 75 Tahun Indonesia Merdeka.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, sebanyak 215 negara tanpa terkecuali sedang menghadapi masa sulit diterpa pandemi covid-19.

Dalam catatan WHO, sampai dengan tanggal 13 Agustus kemarin terdapat lebih dari 20 juta kasus di dunia dengan jumlah kematian di dunia sebanyak 737 ribu jiwa.

Semua negara, negara miskin, negara berkembang, termasuk negara maju, sedang mengalami kemunduran karena terpapar covid-19.

Krisis perekonomian dunia juga terparah dalam sejarah. Di kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi negara kita masih plus 2,97%, tapi di kuartal kedua, kita minus 5,32%.

Ekonomi negara-negara maju bahkan minus belasan persen, sampai minus 17%. Kemunduran banyak negara besar ini bisa menjadi peluang dan momentum bagi kita untuk mengejar ketertinggalan.

Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini sedang macet, sedang hang. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan restart, harus melakukan rebooting. Semua negara mempunyai kesempatan men-setting ulang semua sistemnya.

Momentum musibah pandemi

Saya menyambut hangat seruan moral penuh kearifan dari para ulama, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh budaya agar menjadikan momentum musibah pandemi ini sebagai sebuah kebangkitan baru untuk melakukan sebuah lompatan besar.

Inilah saatnya kita membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi besar, menjalankan strategi besar. Strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan.

Saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatanlompatan besar. Pada usia ke-75 tahun ini, kita telah menjadi negara upper middle income country. 25 tahun lagi, pada usia seabad Republik Indonesia, kita harus mencapai kemajuan yang besar, menjadikan Indonesia Negara Maju.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, kita harus melakukan reformasi fundamental dalam cara kita bekerja. Kesiapsiagaan dan kecepatan kita diuji. Kita harus mengevakuasi warga negara Indonesia dari wilayah pandemi di Tiongkok.

Kita harus menyiapkan rumah sakit, rumah isolasi, obat-obatan, alat kesehatan, dan mendisiplinkan protokol kesehatan. Semuanya harus dilakukan secara cepat dalam waktu yang sangat singkat.

Ketika krisis kesehatan tersebut berdampak pada perekonomian nasional, kita juga harus cepat bergerak: memberikan bantuan sosial bagi masyarakat melalui bantuan sembako, bansos tunai, subsidi dan diskon tarif listrik, BLT desa, dan subsidi gaji; membantu UMKM untuk memperoleh restrukturisasi kredit, memperoleh banpres produktif berupa bantuan modal darurat, dan membantu pembelian produkproduk mereka; membantu tenaga kerja yang menjadi korban PHK, antara lain melalui bantuan sosial dan program prakerja. Sesuatu yang tidak mudah.

Untuk itu semua, pemerintah cepat melakukan perubahan rumusan program; menyesuaikan program kerja dengan situasi terkini; melakukan realokasi anggaran dalam waktu singkat; menerbitkan Perppu No 1 Tahun 2020 yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi UU No 2 Tahun 2020; bersinergi dengan BI, OJK, dan LPS untuk memulihkan perekonomian.

Merubah pola pikir dan etos kerja

Krisis ini telah memaksa kita untuk menggeser channel cara kerja. Dari cara-cara normal menjadi cara-cara ekstra normal. Dari cara-cara biasa menjadi cara-cara luar biasa. Dari prosedur panjang dan berbelit menjadi smart short cut. Dari orien tasi prosedur menjadi orientasi hasil.

Pola pikir dan etos kerja kita harus berubah. Fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan.

Efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi harus diprioritaskan. Kedisiplinan nasional dan produktivitas nasional harus ditingkatkan. Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran.

Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, perjuangan untuk menghambat penyebaran covid-19, mengobati yang sakit, dan mencegah kematian sudah luar biasa kita lakukan. Atas nama rakyat, bangsa, dan negara, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para dokter dan perawat, serta seluruh petugas di rumah sakit, di laboratorium, di klinik-klinik kesehatan, dan di rumah isolasi, kepada tokoh masyarakat, para relawan, awak media, aparat TNI dan Polri, serta para ASN di pusat dan di daerah.

Dengan peristiwa pandemi ini, reformasi fundamental di sektor kesehatan harus kita percepat. Orientasi pada pencegahan penyakit dan pola hidup sehat harus diutamakan.

Penguatan kapasitas SDM, pengembangan rumah sakit dan balai kesehatan, serta industri obat dan alat kesehatan harus diprioritaskan. Ketahanan dan kapasitas pelayanan kesehatan harus kita tingkatkan secara besar-besaran.

Ketahanan pangan di tengah pandemi

Demikian pula halnya dengan ketahanan pangan, dengan menjamin kelancaran rantai pasokan makanan dari hulu produksi sampai hilir distribusi ke seluruh wilayah negeri. Efi siensi produksi pangan, peningkatan nilai tambah bagi petani, penguatan koperasi, dan metode korporasi petani akan terus ditingkatkan.

Food estate sedang dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasional, bukan hanya di hulu, melainkan juga bergerak di hilir produk pangan industri. Bukan lagi menggunakan cara-cara manual, melainkan menggunakan teknologi modern dan pemanfaatan kecanggihan digital.

Bukan hanya untuk pasar domestik, melainkan juga pasar internasional.

Saat ini sedang dikembangkan food estate di Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Sumatra Utara, serta akan dilakukan di beberapa daerah lain. Program ini merupakan sinergi antara pemerintah, pelaku swasta, dan masyarakat baik sebagai pemilik lahan maupun tenaga kerja.

Membangun kemandirian energi

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, upaya besar juga telah dan sedang dilakukan untuk membangun kemandirian energi. Pada 2019, kita sudah berhasil memproduksi dan menggunakan B20. Tahun ini kita mulai dengan B30 sehingga kita mampu menekan nilai impor minyak kita pada 2019.

Pertamina bekerja sama dengan para peneliti telah berhasil menciptakan katalis untuk pembuatan D100, yaitu bahan bakar diesel yang 100% dibuat dari minyak kelapa sawit, yang sedang uji produksi di dua kilang kita. Ini akan menyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani untuk kapasitas produksi 20 ribu barel per hari.

Hilirisasi bahan mentah yang lain juga terus dilakukan secara besar besaran. Batu bara diolah menjadi metanol dan gas. Beberapa kilang dibangun untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak jadi dan sekaligus menjadi penggerak industri petrokimia yang memasok produk industri hilir bernilai tambah tinggi.

Biji nikel telah bisa diolah menjadi fernikel, stainless steel slab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama untuk baterai litium. Hal ini akan memperbaiki defisit transaksi berjalan kita, meningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil.

Hal ini akan membuat posisi Indonesia menjadi sangat strategis dalam pengembangan baterai litium, mobil listrik dunia, dan produsen teknologi di masa depan.

Pembangunan super koridor

Prinsip yang sama juga kita gunakan dalam membangun kawasankawasan industri lainnya, termasuk pembangunan super koridor ekonomi pantai utara Jawa. Kawasan Industri Batang dan Subang-Majalengka sedang dikembangkan dalam waktu singkat, dirancang untuk mampu mengundang investasi berkualitas, yang bersinergi dengan UMKM kita, yang memberikan nilai tambah signifi kan untuk perekonomian nasional, dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Kawasan industri serupa juga akan dibangun di berbagai daerah di seluruh Indonesia yang selalu bersinergi dengan kewirausahaan masyarakat dan UMKM untuk menyediakan kesempatan kerja bagi generasi muda yang belum bekerja dan meningkatkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok negeri.

Oleh karena itu, ekosistem nasional yang kondusif bagi perluasan kesempatan kerja yang berkualitas harus kita bangun. Penataan regulasi harus kita lakukan. Regulasi yang tumpang-tindih, yang merumitkan, yang menjebak semua pihak dalam risiko harus kita sudahi.

Semua ini kita dedikasikan untuk perekonomian nasional yang adil, untuk kepentingan yang sudah bekerja, untuk kepentingan yang sedang mencari kerja, dan untuk mengentaskan kemiskinan dengan menyediakan kesempatan kerja yang berkualitas seluas-luasnya.

Kita ingin semua harus bekerja. Kita ingin semua sejahtera.

BERITA TERKAIT