15 August 2020, 01:50 WIB

Jaga Kesepakatan Pendiri Bangsa


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin meminta seluruh masyarakat Indonesia menjaga hasil kesepakatan nasional para pendiri bangsa saat membangun negara, Pancasila, dan UUD 1945.

“Ketiga hal ini (Pancasila, UUD 1945, dan NKRI) merupakan kesepakatan nasional (yang) dalam perspektif Islam disebut sebagai al mitsaq al wathany, kesepakatan nasional. Karena itu, bagi umat Islam, negara ini negara kesepakatan, darul mitsaq, yang harus dijaga dan dipelihara,” katanya dalam khotbah Jumat di Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Hadir dalam khotbah salat Jumat itu, yakni Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri anggota Kabinet Indonesia Maju. Karena itu, Wapres mengajak bangsa Indonesia untuk tidak henti bersyukur atas anugerah 75 tahun kemerdekaan Indonesia dengan cara merawat dan menjaganya.

“Mereka telah menyusun, menyepakati Pancasila sebagai dasar negara yang merupakan titik temu dari seluruh bangsa yang berbeda-beda. Yang dalam perspektif Islam disebut sebagai kalimatun sawaa, yaitu kesepakatan. Begitu juga dengan UUD 1945 dan bentuk negara NKRI,” pesan Wapres.

Menurut Wapres, sama halnya dengan negara Indonesia, Islam Indonesia merupakan Islam maal mitsaq, Islam yang di dalamnya ada kesepakatan yang harus dijaga, dipelihara, dan dihormati. 

“Karena umat Islam ialah umat yang senantiasa menjaga kesepakatannya, al muminuna ala syurutihim.” Terkait dengan HUT ke-75 RI, Wapres berharap semangat juang kemerdekaan ini juga harus dijadikan landasan untuk melawan pandemi covid-19 yang tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga sektor sosial dan ekonomi. 

“Dengan semangat itu pula kita jadikan landasan untuk menghadapi covid-19 yang tengah menimpa bangsa kita dan bahkan seluruh bangsa di dunia. Yang dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada sektor sosial dan ekonomi,” imbuhnya.

Wapres mengingatkan bahwa rahmat Allah akan diturunkan kepada mereka yang gigih berupaya untuk meraihnya melalui jalan kebaikan. Sebagaimana hal ini dilakukan para pejuang bangsa hingga akhirnya memperoleh kemenangan dan kemerdekaan.


Realistis

Dalam sidang tahunan, pidato Presiden Jokowi kali ini sangat berbeda dari tahuntahun sebelumnya. Itu karena Jokowi memaparkan kondisi sebenarnya yang dialami Indonesia dengan bahasa yang sederhana, berikut memupuk optimisme.

“Isi pidato Presiden kali ini sangat realistis dan optimistis. Dengan bahasa yang mudah dimengerti semua pihak, ia memaparkan bagaimana kondisi Indonesia saat ini, mengajak rekonsiliasi, hingga menanamkan optimisme,” kata pengamat politik Yunarto Wijaya.

Menurut dia, Presiden menjabarkan bagaimana porak porandanya semua negara dihantam pandemi covid-19, termasuk Indonesia. Pengakuan semacam ini sangat jarang keluar dari kepala negara.

“Dia menerjemahkan pula pesan yang terus diulang, yakni sense of crisis yang harus dimiliki semuanya. Rekonsiliasi termasuk pesan yang ditekankan Presiden tadi selain meminta masyarakat menanggalkan rasa paling islami hingga paling Pancasilais,” paparnya.

Pesan-pesan yang teruntai dalam pidato kali ini, kata dia, merujuk pada sebuah keinginan besar, yakni persatuan bangsa. Selain itu, kekuatan yang terpusat dan tidak tercerai berai juga sangat dibutuhkan Indonesia untuk keluar dari jeratan serta dampak covid-19. (Dhk/Cah/P-1)
 

BERITA TERKAIT