14 August 2020, 19:55 WIB

Bioskop Diyakini Tetap Tak Tergantikan


Fathurrozak | Weekend

PENUNDAAN kembali dibukanya bioskop cukup membawa pesimisme akan masa depan jalur eksibisi andalan bagi perfilman ini. Mau tidak mau, sineas pun harus beralih ke platform streaming berbayar atau biasa disebut juga layanan over-the-top (OTT). 

Namun di Tanah Air, hal itu masih lambat dilakukan. Terhitung, baru Guru-Guru Gokil yang mengumumkan peralihan platform rilisnya ke Netflix pada (17/8).

Di sisi lain, sesungguhnya OTT cukup menjanjikan karena pelanggan platform streaming terus naik jumlahnya. Publikasi Asosiasi Industri Video Asia (AVIA) juga melaporkan, kurun Agustus tahun lalu hingga April tahun ini terjadi peningkatan sebesar 33% jangkauan ke situs video legal.

Hal itupun disambut produser film Tanah Air. “Saya senang ketika membaca berita, jumlah subscriber vod meningkat. Artinya orang mau bayar untuk hiburan. Sehingga ini bisa dimaknai, profesi seperti yang saya jalani, dihargai lebih, papar produser Mandy Marahimin (Tanakhir Films) dalam diskusi panel bersama Netflix bertajuk Merayakan Keberagaman Cerita Indonesia, Jumat, (14/5). 

Produser Shanty Harmain pun menilai jika pandemi menjadi semacam fase pencarian baru bagi para pelaku industri film. Mereka harus jeli melihat peluang untuk bangkit, termasuk dalam soal pemasaran film. Ia meyakini jika bioskop tetap tidak tergantikan.
 
“Keinginan untuk menemukan sesuatu yang baru, curiosity itu besar. Apa yang terjadi selama pandemi ini adalah discovery. Sebelum pandemi ada tontonan yang terlewatkan misalnya. Saat ini dengan adanya teknologi, dan platform streaming, ini adalah fase discovery kalau yang saya lihat.”

Baik Mandy maupun Shanty, keduanya yakin jika kelak bioskop kembali buka dengan beberapa penyesuaian penonton akan tetap ada. Keduanya juga mengamini jika pengalaman menonton di ruang bioskop, tidak bisa tergantikan. 

Sementara itu, Communications Manager Netflix Kooswardini Wulandari menegaskan, dengan adanya platform OTT dan bioskop yang diuntungkan ialah penontonnya. Sebab, keduanya menjadi pelengkap akses hiburan dan cerita.

“Keberadaan SVOD (subscriber vod) dan bioskop itu bisa berdampingan. Analoginya seperti makanan. Kadang kita delivery, nyaman di rumah enggak kena macet. Namun di saat lain pengen keluar nikmati suasana. Keduanya masih ada dan berdampingan. Seperti kebutuhan terhadap makanan, dan cerita juga adalah sesuatu yang sangat mendasar. Pengalamannya bisa di ruang tamu, di handphone, bioskop," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT