13 August 2020, 11:30 WIB

Pentingnya Mengajari Anak Keberagaman Sejak Dini


Fetry Wuryasti | Weekend

TIDAK hanya orang dewasa, anak-anak pun kerap mengartikan kecantikan sebagai kulit yang putih, badan tinggi, hingga rambut lurus panjang. Sementara anak lelaki juga mengartikan sosok yang keren seperti sosok-sosok pahlawan di film Hollywood, yakni sosok kulit putih, berbadan tinggi, dan kekar. 
Pemahaman ini nyatanya tidak bisa diremehkan. Sebab di masa mendatang dapat mengarah ke potensi sikap rasis. Anak-anak bisa kurang menghargai orang-orang yang tidak memiliki fisik seperti itu. Bahkan, lebih ironis, ketika anak-anak bisa memandang rendah diri sendiri karena tidak berkulit putih, berbadan tinggi, dan langsing.

Untuk menghaindari sikap rasis seperti itu, penghargaan terhadap keberagaman fisik dan ras harus diajari sejak dini.  Itu berarti sejak usia 3 tahun, sesuai dengan hasil penelitian para ahli.
Dilansir Channel News Asia, Psikolog Anak, Ann-Louise Lockhart, PsyD, menyarankan cara belajar yang mudah melalui mainan. "Mereka belajar, berinteraksi, tumbuh, dan membangun pemahaman mereka tentang dunia mereka melalui permainan. Mereka belajar tentang hubungan sosial dan keluarga melalui permainan, termasuk bagaimana berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain," kata kata Dr Lockhart.

Saat mendorong keberagaman melalui permainan, orang tua dan pengasuh dapat menjelajahi aktivitas dan memberikan mainan yang membantu anak-anak mengenali perbedaan dan merangkul kesamaan, dan memberi tahu mereka bahwa warna yang beragam itu normal.

Anda bisa mengumpulkan boneka dari berbagai spektrum warna, membantu anak-anak menciptakan konsep diri yang mengakui perbedaan. “Ketika anak-anak melihat diri mereka terwakili dalam mainan, buku, film, musik, makanan, dan karya seni mereka, itu membentuk konsep diri mereka,” kata Dr Lockhart.

Yelitsa Jean-Charles, pendiri dan kepala eksekutif Healthy Roots Dolls, mengatakan dia membuat perusahaan bonekanya untuk mewakili anak-anak masa kini. Dia bilang terinspirasi oleh Tes Boneka tahun 1940-an oleh psikolog Kenneth B dan Mamie P Clark. Para peneliti menunjukkan boneka yang identik, kecuali warna kulitnya, kepada 253 anak kulit hitam berusia antara tiga dan tujuh tahun untuk menguji persepsi ras anak-anak.

"Mereka menemukan bahwa mayoritas anak mengaitkan karakteristik positif dengan boneka putih dan karakteristik negatif pada boneka hitam. Penemuan ini menunjukkan bagaimana anak-anak kulit hitam merasa rendah diri dan kehilangan harga diri mereka selama masa pemisahan, prasangka dan diskriminasi," kata Jean-Charles.

Dengan perusahaan mainannya, Jean-Charles telah menormalkan boneka berkulit hitam. Jean-Charles mengatakan bahwa antara 20 hingga 40 persen pelanggannya adalah orang tua non-kulit hitam dengan anak-anak kulit berwarna yang secara khusus membeli bonekanya untuk berdiskusi tentang keragaman dengan anak-anak mereka atau untuk memiliki boneka yang mewakili anak-anak mereka dalam corak dan tekstur rambut.

Selain boneka, orang tua juga bisa memasukkan keberagaman pada permainan seperti Lego, kegiatan melukis, menari, dan bermain peran. Dr Lockhart mengatakan bahwa melalui permainan, anak-anak dapat bereksperimen dengan pandangan mereka tentang dunia, kemudian membongkar dunia itu, membangun dunia baru, dan mencobanya lagi.

Studi lainnya menyarankan membaca buku yang berfokus pada keragaman atau melalui permainan sandiwara di rumah. Ini memungkinkan anak-anak untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan melatih empati juga.

Bermain peran dapat membantu menciptakan ruang aman untuk percakapan yang dipimpin anak, dan mereka merasa nyaman untuk mengajukan pertanyaan dan menjelajahi topik tentang ras dan budaya. “Untuk menciptakan ruang bagi anak-anak untuk bercakap-cakap terkait ras dan keragaman, orang tua juga harus menerima perbedaan, sehingga bisa berdiskusi dengan cukup nyaman untuk topik apapun yang ditanyakan anak," kata kata Kira Hudson Banks, seorang psikolog dan pendidik lebih dari 20 tahun. (M-1)
 

BERITA TERKAIT