13 August 2020, 07:45 WIB

Curhat Para Sineas Asia di Masa Pandemi


Fathurrozak | Weekend

DAMPAK pandemi memang juga menerpa industri hiburan, termasuk perfilman. Para sineas harus memutar otak untuk tetap berproduksi maupun memasarkan karya.

Curhat para sineas Asia Tenggara di tengah sulitnya masa pandemi terungkap di diskusi virtual bertajuk 2020 in South East Asia: perspective from Indonesia, Malaysia, Myanmar, and the Philippines, Selasa (11/8) yang diselenggarakan oleh program Open Doors di Locarno Film Festival. Mereka memaparkan situasi terkini industri sinema di masing-masing negara saat ini, dan yang menjadi fokus perhatian mereka.
 
Situasi di Filipina saat ini, tidak banyak produksi yang dilakukan. Para sineas lebih banyak bergiat dalam pengembangan naskah dan pasca produksi. Berbeda dengan Indonesia yang kini beberapa rumah produksi sudah memulai kembali produksi mereka. 
 
“Kami menunggu waktu yang tepat untuk berproduksi, memilih ketika situasi sudah aman baru melanjutkan. Saat ini hanya berfokus pada pengembangan naskah dan pasca produksi,” papar sutradara dan penulis Filipina Antoinette Jadaone, pada Selasa, (11/8).
 
Namun, Antoinette menggarisbawahi efek pandemi juga berdampak pada banyaknya para pekerja film yang kehilangan pekerjaan. Apalagi, dengan ditutupnya ABS-CBN oleh pemerintah, juga ikut berdampak pada ekosistem perfilman dalam negeri. 
 
“Banyak dari kita, baik pekerja tv dan yang berproduksi di film kehilangan pekerjaan. Dengan ditutupnya jaringan ABS-CBN itu artinya juga kami kehilangan investor potensial untuk konten kami,” tambah Antoinette.
 
Sementara, dokumentarian dan produser Myanmar Thuthu Shein memaparkan sedikit sejarah perkembangan sinema di negaranya. Thuthu menyampaikan, meski Myanmar punya sejarah sinemanya yang panjang, ia menyebut kebangkitan sinema di negerinya mulai menemukan titik baliknya pada medio 2010. Negara ini memiliki sejarah panjang terhadap penyensoran film.  
 
“Mulai tahun 2010 negara mulai terbuka. Kami bisa membuat festival, kita mulai festival, generasi mudanya juga bergiat membuat dokumenter, dan tentunya ada peluang untuk menyampaikan cerita mereka sendiri. Ini menjadi awal baru bagi film independen di Myanmar,” kata Thuthu.
 
Meski ia juga masih menayangkan situasi mengenai industri film yang berada di bawah kementerian komunikasi dan informasi, alih-alih kementerian kebudayaan. Belum lagi, setiap produksi para sineas diminta untuk menyerahkan naskah mereka dahulu, sebagai bagian dari penyensoran. Usai produksi, hasil film pun masih harus ditinjau dulu oleh beberapa kementerian.
 
“Misalnya apakah ada adegan merokok, itu nanti urusannya dengan menteri kesehatan. Lalu apakah ada adegan minum wine, itu urusannya dengan menteri kebudayaan. Adegan ciuman saja tidak boleh. Di sini masih menerapkan aturan dari tahun 1960-an, yang saat itu berada di bawah rezim militer. Ini perlu diperbarui, perlu ada aturan baru.”
 
Walau situasi secara general cukup berbeda antara Malaysia dan Myanmar, produser asal Malaysia Nandita Solomon mengaku saat ini yang menjadi fokusnya tidak jauh berbeda dengan Thuthu, yakni melihat perkembangan sinema independen. Pertumbuhan sinema independen di Malaysia ditandai Nandita menemukan momentumnya pada era 1990-an, ketika perubahan teknologi dalam memproduksi film memudahkan lebih banyak orang, sehingga lebih bisa diakses.
 
“Industri kami didominasi oleh (film) mainstream. Tahun 2018 kami memiliki tiga film yang mencapai box office dengan jumlah penonton yang belum pernah dicatatkan sebelumnya. Kebanyakan genre yang diproduksi ya horor, aksi, horor komedi. Tahun lalu, yang menjadi film terbanyak ditonton, ada dari animasi, BoboiBoy, Agen Ali, dan Upin Ipin, yang menuai sukses juga di Indonesia,” kata Nandita.
 
“Sementara (sinema) independen kami masih harus berjuang, untuk menemukan penonton dan pendanaannya. Lanskap sinema indie kami tidak berubah banyak sejak Malaysian New Wave,” kata produser film Bunohan ini merujuk pada momentum kebangkitan sinema independen Malaysia.
 
Mouly Surya, yang filmnya mendatang Perang Kota (The City is a Battlefield) terpilih sebagai bagian dari program Open Doors Hub di Locarno, mengutarakan industri film di Indonesia berkembang secara baik sejak dua dekade terakhir. Mouly juga menyebutkan situasi industri yang sempat ‘mati suri’ pada era 1980-1990-an dengan banjirnya film-film Hollywood.
 
“Tetapi sejak medio 2000-an beberapa filmmaker mencoba merilis film mereka sendiri di bioskop. Setelah itu berkembang terus sampai saat ini. Jumlah penontonnya bertumbuh, jumlah filmnya juga. Yang menjadi fokus utama saya sebenarnya adalah kurangnya sumber daya. Sekolah film, atau sekolah seni secara general tidak populer di sini. Main issue saya adalah saat ini di industri kami kekurangan sumber daya pekerjanya, melihat dengan banyaknya produksi.” (M-1)
 

BERITA TERKAIT