13 August 2020, 03:37 WIB

40 Juta Dosis Vaksin Siap di Akhir Tahun


M Iqbal Al Machmudi | Humaniora

UJI klinis vaksin fase III atas CoronaVac, vaksin covid-19 produksi Sinovac Biotech Ltd, Tiongkok, dijadwalkan tuntas pada Januari 2021. Secara paralel, produksi vaksin itu akan dimulai Oktober mendatang di PT Bio Farma dengan kapasitas 10 juta dosis per bulan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan hal itu dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Asosiasi Pengusaha In donesia 2020 secara daring, kemarin.

“Targetnya, vaksin sudah mulai bisa diproduksi Oktober mendatang dengan kapasitas 10 juta dosis per bulan, dan hingga akhir tahun akan diproduksi 40 juta dosis,” cetus Airlangga.

Kapasitas produksi vaksin hasil kerja sama PT Bio Farma dan Sinovac Biotech Ltd itu diharapkan mencapai 120 juta dosis per tahun.

Dukungan penuh pun disiapkan demi kesuksesan program tersebut. “Pemerintah sudah mengang garkan untuk penyediaan vaksin sebanyak 30 juta-40 juta dosis di PT Bio Farma dan pemerintah memberi pendanaan sebesar Rp5 triliun tahun ini. Tahun depan mungkin bisa
disiapkan Rp40 triliun sampai Rp50 triliun,” kata Menko Perekonomian.

Selain Bio Farma, melalui PT Kalbe Farma, Indonesia juga bekerja sama dengan Genexine Consortium, perusahaan asal Korea Selatan, dalam pengembangan vaksin korona. Kerja sama uji klinis fase III dijadwalkan pada September 2020-Maret 2021. Adapun persetujuan kondisional oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) diperkirakan keluar pada Agustus 2021, dengan kapasitas vaksin ditargetkan hingga 50 juta dosis per tahun.

Upaya lain dalam mendapatkan vaksin korona juga dijalankan melalui PT BHCT Bioteknologi Indonesia. Bekerja sama dengan China Sinopharm International Corporation, perusahaan itu melakukan uji klinis fase I dan II di rumah sakit rujukan covid-19. Uji klinis mulai dilakukan April lalu di Tiongkok.

Selain Indonesia, berbagai negara pun terus berjuang mendapatkan vaksin. Amerika Serikat (AS), kemarin, dilaporkan meneken kontrak senilai US$1,5 miliar (sekitar Rp22 triliun) dengan produsen obat Moderna Inc terkait dengan pembelian 100 juta dosis calon vaksin korona buatan Moderna.

Adapun Rusia, kemarin, menjadi negara pertama di dunia yang resmi mendaftarkan vaksin covid-19. Tenaga kesehatan dan guru menjadi subjek pertama yang akan divaksinasi. Salah satu putri Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan telah divaksinasi sebagai sukarelawan dalam pengujian vaksin.

Bahan baku

Corporate Secretary PT Bio Farma Bambang Heriyanto menyatakan bahan baku CoronaVac, vaksin korona asal Tiong kok yang tengah diuji klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, menggunakan bahan baku halal. Bio Farma selaku calon produsen, imbuh Bambang, akan secepatnya melakukan sertifi kasi halal kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Untuk sertifikasi halal, sekarang memang belum karena belum bisa dikeluarkan ketika vaksin sedang uji klinis. Nanti sertifikasi halal MUI akan dilakukan saat proses registrasi,” ujarnya di Bandung, kemarin.

Pada bagian lain, Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito menyatakan pihaknya mendampingi uji vaksin covid-19 fase III yang dijadwalkan tuntas pada Januari 2021.

“Kami mendampingi berkaitan dengan jaminan terhadap keamanan, mutu, dan khasiatnya dari awal, sejak protokol uji klinis vaksin tersebut dirumuskan, termasuk dengan tim peneliti, sponsor, dan produsennya,” jelas dia.

Badan POM akan menganalisis data dari uji klinis tersebut. Jika memenuhi syarat, vaksin tersebut akan mendapatkan izin edar. “Karena uji klinis dalam situasi pandemi, kami memberikan percepatan melalui izin penggunaan dalam masa darurat,” kata dia.

Bila produk itu sudah mendapat izin edar, fasilitas produksi atas vaksin tersebut juga harus melewati sertifikasi dari Badan POM. Setelah vaksin beredar di masyarakat dalam bentuk imunisasi, Badan POM masih akan memberikan pendampingan karena efek samping vaksin bisa
berbeda-beda pada setiap orang. (BY/AT/Psy/Ant/X-6)

BERITA TERKAIT