13 August 2020, 06:30 WIB

Pandemi Ancam Kesehatan Jiwa Masyarakat


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

Pandemi covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa dan mental masyarakat. Hal ini dapat dilihat antara lain dari banyaknya kasus kekerasan selama beberapa bulan terakhir.

Demikian disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam Forum Diskusi Denpasar12, kemarin. “Adanya tekanan dan beban ekonomi mengakibatkan tindakan yang merugikan atau berdampak bagi seseorang, keluarga, dan masyarakat,” kata Mbak Rerie-sebutan akrab Lestari.

Negara, lanjut Rerie, perlu hadir untuk memberikan perlindungan total, menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat sebab kesehatan mental dan jiwa merupakan bagian dari pertahanan suatu bangsa. “Apabila bangsa sehat dengan memiliki mental dan jiwa yang sehat, bangsa itu akan menjadi kuat. Sebaliknya, apabila mental dan jiwa tidak cukup kuat, kita akan menghadapi ancaman yang nyata di depan,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Asian Fe­deration of Psychiatric Association Nova Riyanti Yusuf mengatakan saat ini masyarakat sedang berada dalam kondisi eksperimen psikologi terbesar yang pernah terjadi di dunia. Kondisi yang tidak biasa ini mampu memengaruhi hormon kortisol atau hormon stres seseorang hingga menimbulkan beberapa dampak pada tubuh.

“Kalau ada yang punya keluhan muncul asam lambung, migrain, kurang tidur, hipertensi, depresi, daya tahan tubuh menurun, ini adalah beberapa dampak dari hormon stres atau kortisol yang terus meningkat pada saat kita sedang menghadapi pandemi seperti saat ini,” terang Nova.

Dia mengungkapkan orang muda berpotensi lebih besar mengalami gangguan cemas menyeluruh (GCM). Orang yang menghabiskan banyak waktu membahas pandemi dan tenaga kesehatan juga rentan mengalami masalah kejiwaan.

Berdasarkan data dari swaperiksa di laman Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada Mei 2020, dari 2.364 orang yang memeriksakan diri, 69% di antaranya mengalami masalah psikologis.

Promotif

Menurut Nova, untuk mengurangi timbulnya masalah kejiwaan pada seseorang, perlu dilakukan upaya promotif dan preventif, dari meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat tentang kesehatan jiwa, meningkatkan penerimaan dan peran masyarakat tentang kesehatan jiwa, hingga menghilangkan stigma diskriminasi.

Upaya promotif dan preventif dapat dilakukan di dalam keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, dan media massa. “Upaya promotif di lingkungan keluarga dalam bentuk pola asuh dan pola komunikasi,” imbuhnya.

Sementara itu, dosen psikologi UI Latifah Hanum menuturkan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) dan Kementerian Kesehatan telah menghadirkan layanan Sehat Jiwa (Sejiwa) yang dapat diakses melalui nomor 119 ext 8 bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan psikologi. “Sejauh ini, layanan Sejiwa sangat membantu masyarakat yang menbutuhkan konsultasi psikologis, terutama perubahan-perubahan masif akibat covid-19,” tuturnya. Latifah menilai sistem layanan Sejiwa perlu dibuat lebih terstruktur, seperti layanan keluarga berencana (KB) dari tingkat kecamatan hingga provinsi, sehingga masyarakat awam bisa lebih mengenal dunia kesehatan jiwa. (H-3)

BERITA TERKAIT