13 August 2020, 02:55 WIB

Trauma Ledakan Beirut Menambah Luka Baru


MI | Internasional

TANYA tidak bisa sendirian di kamar. Carla, selama berharihari, mengira perang akan dimulai. 

Orang-orang yang selamat dari ledakan 4 Agustus di Beirut, Libanon, masih terguncang karena bencana yang merusak kota mereka. Ledakan yang menghancurkan ibu kota Libanon itu telah menewaskan 171 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang.

Carla sedang berada di balkon di lingkungan lama Beirut ketika dia merasakan gedung itu berguncang. “Awalnya saya mengira itu serangan udara karena saya mengaitkan kebisingan itu dengan apa yang saya ingat dari perang 2006,” kata pria berusia 28 tahun itu kepada AFP.

“Ini refleks dari perang, setiap kali ada yang rusak, mereka langsung menyapu,” kata Carla.

Dia sekarang tinggal bersama keluarganya dan mengatakan dia tidak siap secara emosional untuk kembali ke rumahnya yang
dilanda ledakan. Bahkan di rumah orang tuanya, dia tidak bisa tidur.

“Mobil yang lewat di jalan menjadi suara pesawat terbang. Semuanya sekarang memicu kenangan perang 2006. Saya tidak pernah menyadari betapa perang itu sebenarnya telah membuat saya trauma,” tambahnya. 


Tekanan psikologis

Doctors of the World, sebuah badan amal internasional, menghabiskan beberapa hari di distrik karantina yang menghadap lokasi ledakan. Anggota staf mereka menawarkan dukungan psikologis gratis kepada penduduk.

Direktur Noelle Jouane mengatakan warga pada hari-hari pertama setelah ledakan terlalu sibuk mencari perawatan medis atau membersihkan puingpuing dari rumah mereka. Namun, ketika keadaan normal perlahan kembali, mereka tampak lebih siap untuk berbicara. 

“Itu membantu meredakan semua amarah mereka,” katanya.

Namun, di Distrik Mar Mikhael yang hancur, suara gedebuk sedikit saja memicu alarm. Di pintu masuk ke lingkungan itu, seorang lelaki tua dikejutkan benturan palu pada pelat besi. Dia segera merunduk dan menempelkan tubuhnya ke kap mobilnya.  “Itu tadi bukan apa-apa,” seorang pejalan kaki meyakinkannya. Beberapa saat kemudian, ketakutan mencengkeram seluruh jalan, dengan orang-orang berhamburan keluar setelah desas-desus menyebar bahwa lokasi ledakan 4 Agustus sekali lagi terbakar.

Rima Makki, manajer aktivitas kesehatan mental untuk Doctors without Borders (MSF) di Libanon, mengatakan banyak warga mengalami trauma. Kepanikan, ketakutan, dan dalam beberapa tindakan situasi tertentu menjadi reaksi normal terhadap peristiwa abnormal.

Omar, seniman visual, yakin bahwa dia bisa saja terbunuh atau terluka akibat ledakan yang menghancurkan lingkungannya. Untungnya, pria berusia tiga puluhan tersebut tidak ada di rumah saat itu. 

“Pisau beterbangan dari dapur, seluruh fasad kaca pecah di dalam rumah,”  katanya. (CNA/AFP/Faustinus Nua/I-1)

BERITA TERKAIT