12 August 2020, 22:19 WIB

Rektor UT : Banyak Salah Kaprah soal PJJ


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PANDEMI covid-19 dinilai memberikan pelajaran sangat berharga dalam penyelenggaraan pendidikan di tanah air, ketika dipaksa untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk semua jenjang pendidikan.

Namun begitu, penyelenggaraan PJJ di jenjang pendidikan dasar dan menengah atau dikdasmen serta pendidikan tinggi dijumpai masih banyak terjadi salah kaprah karena kurang mempedulikan kontribusi maksimal peserta didik.

Banyak keluhan siswa, orang tua dan masyarakat, termasuk guru bahwa PJJ tidak efektif, PJJ membosankan, dikonsepsikan sebagai suatu yang negatif.

"Kondisi ini yang terjadi sehingga persepsi masyarakat menjadi keliru tentang PJJ. Pasalnya yang dilakukan bukan PJJ, tetapi pembelajaran darurat. Sebab mereka tidak punya keterampilan memindahkan pembelajaran ke laptop. Guru atau dosen tidak memiliki keterampilan untuk melaksanakan PJJ, " papar Rektor Universitas Terbuka ( UT) Ojat Darojat dalam Virtual Talk Show Temu Public Figure 2020 - Universitas Terbuka,

Ojat melanjutkan situasi ini diperparah dengan bahan ajar bukanlah bahan ajar yang didesain untuk PJJ, tapi untuk kegiatan tatap muka.

Baca juga : Apkasi Minta Mendikbud Beri Solusi Masalah Pendidikan di Daerah

"Sehingga dari sisi bahan ajar pun tidak optimal memberikan kontribusi. Jadi ada pekerjaan rumah atau PR besar kita bersama yaitu harus ada upaya bersama mengkonversi bahan ajar di ruang kelas dapat dilaksanakan untuk PJJ, " tegas Ojat.

Ojat mengingatkan sarana dan infrastruktur menjadi masalah besar apalagi Indonesia negara berkembang dan ribuan pulau tersebar hingga daerah terdepan, terluar dan tertinggal ( 3T) sehingga banyak siswa yang tidak memiliki akses jaringan. Terlebih lagi, masih ada masalah ekonomi keluarga sehingga tidak punya perangkat.

Ojat menambahkan UT sebagai kampus PJJ yang didirikan 36 tahun lalu mengemban tiga misi utama, pertama pemerataan pendidikan di masyarakat. Tidak boleh di negeri ini ada masyarakat yang tidak memiliki akses ke pendidikan tinggi.

Kedua, pemberian kesempatan kepada orang-orang yang sudah bekerja yang ingin meningkatkan kompetensi ke jenjang lebih tinggi.Ketiga, meningkatkan daya tampung PTN.

Dengan nada optimistis, Ojat menegaskan UT selalu menjadi perguruan tinggi yangunggul dalam PJJ dengan berbekal pengalaman 36 tahun.

"UT akan tetap menjadi yang terdepan. Pada saat ini UT mendapatkan amanah dari pemerintah untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar atau APK perguruan tinggi serta meningkatkan jumlah mahasiswa dari 300 ribu menjadi 1 juta mahasiswa, " pungkas Ojat. (OL-7)

BERITA TERKAIT