12 August 2020, 21:34 WIB

Lawan Rentenir, NTB Luncurkan Program Mawar Emas


Yusuf Riaman | Ekonomi

LOMBOK TIMUR, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Zulkieflimansyah meluncurkan program Melawan Rentenir Berbasis Masjid, atau disingkat Mawar Emas untuk membantu UKM dan pedagang kecil di daerah ini.

Sebanyak 50 peserta Mawar Emas hadir dan menerima pembiayaan mikro pada acara peluncuran. Mereka hadir mewakili 417 orang dari seantero Pulau Lombok yang telah siap menerima pencairan tahap 1 Mawar Emas.

Gubernur mengatakan,pr ogram ini yang pertama di Indonesia. Kesempatan ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan legacy daerah ini, bukan hanya di NTB tapi menjadi contoh di Indonesia.

"Secara ide memang semua orang bisa, namun secara praktik tidak semua orang bisa melakukan, baru kita yang merealisasikannya," kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah saat peluncurandi Masjid Nurul Ikhsan Keruak, Lombok Timur, Rabu (12/08).

Peluncuran dilakukan bertepatan dengan Hari Nasional UMKM 2020. Zul optimistis, dengan dukungan OJK program Mawar Emas akan sukses, karena lokomotifnya adalah OJK. Dijelaskan gubernur, program Mawar Emas adalah program pemerintah Provinsi NTB untuk membantu UKM dan pedagang-pedagang kecil yang selama ini lebih nyaman dan lebih mudah meminjam ke rentenir dengan berbunga tinggi. "Akibat berbunga tinggi akhirnya jadi beban yang sangat berat, dan membuat lingkaran setan kemiskinan yang susah diputus," ujarnya.

Gubernur berharap, dengan program Mawar Emas ini pedagang dan masyarakat kecil akan dapat difasilitasi dan didekatkan dengan institusi keuangan, seperti Bank NTB Syariah, sehingga mampu mendapatkan pinjaman dan memperoleh modal di Bank NTB Syariah dengan lebih mudah dan lebih nyaman, dibandingkan ke rentenir.

Melalui program ini masyarakat kecil bisa meminjam uang dan modal ke Masjid, akan membuat Masjid selain sebagai pusat ibadah bisa sekaligus menjadi pusat ekonomi dan sosial. "Hari ini kami mulai dari Lombok Timur, untuk selanjutnya menyusul di kabupaten dan kota se-NTB," ujarnya.

Bupati Lombok Timur, H. Sukiman Azmi, mengatakan, saat ini rentenir sudah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat di Lombok Timur (Lotim). Mulai dari petani, nelaya bahkan para TKI juga tidak lepas dari praktek rentenir.

Untuk ia menaruh harapan besar kepada 1,2 juta penduduk Lotim, jika masyarakat dapat tersentuh program ini, maka akan mendatangkan berkah bagi masyarakat Lotim dan akan menjalar ke Kabupaten lainnya di NTB.

Program inovatif Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) NTB ini hadir untuk membantu pelaku usaha mikro yang acap kali kesulitan mengakses kredit atau pembiayaan konvensional. Umumnya mereka tidak memiliki agunan berupa sertifikat tanah atau BPKB. Jarak tempuh ke kantor lembaga keuangan yang relatif jauh, dengan tingkat literasi (pemahaman) dan inklusi (akses) keuangan yang rendah.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2019, tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat NTB sebesar 34,65% dan 62,73%. Jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 38,03% dan 76,19%.

Kondisi itulah sehingga pelaku usaha mikro dan masyarakat kecil rentan terjerat hutang rentenir, atau yang dikenal dengan istilah bank subuh atau bank rontok.    Melalui koordinasi dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB, kegiatan Mawar Emas dipusatkan di masjid sebagai pusat peradaban dan sumber kemakmuran.

Takmir masjid dan ketua kelompok pengajian ditunjuk menjadi ujung tombak program, sehingga diperlukan pembekalan dan pendampingan secara intensif. Diantaranya, pelatihan takmir masjid se-Pulau Lombok.

Para takmir masjid yang telah mengikuti pelatihan akan menjaring kelompok ibu-ibu jemaah masjid yang membutuhkan akses permodalan usaha. Selanjutnya mereka akan dibina dan memperoleh pembiayaan sebesar Rp2 juta dari PNM Mekar (skema 1), atau pembiayaan qardhul hasan tanpa bunga sebesar Rp1 juta rupiah dari Bank NTB Syariah (skema 2).

Pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan lebih besar juga dapat dihubungkan dengan produk tanpa agunan Bank NTB Syariah.

Kepala OJK Provinsi NTB Farid Faletehan selaku Pengarah TPAKD Provinsi NTB menekankan pentingnya akses pembiayaan yang mudah dan murah bagi pelaku usaha mikro. Kehadiran Mawar Emas diharapkan mampu melepaskan masyarakat dari rentenir, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah NTB.

Ke depan, TPAKD NTB akan mengundang keterlibatan lembaga jasa keuangan lainnya, agar Mawar Emas dirasakan manfaatnya di seluruh penjuru Nusa Tenggara Barat. (OL-12).

BERITA TERKAIT