12 August 2020, 20:38 WIB

Apkasi Minta Mendikbud Beri Solusi Masalah Pendidikan di Daerah


mediaindonesia.com | Humaniora

PARA Bupati di seluruh Indonesia mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim untuk segera mencarikan solusi konkret untuk mengurangi dampak negatif bagi anak-anak didik selama pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Poin inilah yang disampaikan Sekretaris Jenderal Apkasi (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia ), Najmul Akhyar, dalam webinar Apkasi bekerja sama dengan Gredu Asia dengan mengangkat tema ‘Digitalisasi Sekolah dalam Mendukung Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19’ di Jakarta, Rabu (12/8).

"Terus terang kami para bupati ini merasakan resah yang mendalam, melihat anak-anak kita yang sudah lebih dari setengah tahun ini mereka tidak lagi belajar di bangku sekolah, ini tentu hal yang luar biasa. Kami mengetuk kepada Pak Menteri agar anak-anak kita yang tidak bisa sekolah akibat pandemi Covid-19 ini bisa segera dicarikan solusi yang riil,” imbuh Najmul.

Najmul yang juga menjabat Bupati Lombok Utara melihat, dengan sistem belajar di rumah yang saat ini berlangsung, jelas membutuhkan effort yang tidak sedikit.

Ia mengatakan, “Kalau di daerah kami sendiri guru-guru ada yang turun langsung dengan mendatangi ke rumah masing-masing, cuman ini membutuhkan energi yang besar dan ini tidak seefektif jika dilakukan belajar secara tatap muka di kelas seperti sebelumnya.”

“Sehingga diskusi kita tentang digitalisasi sekolah melalui sistem belajar jarak jauh di tengah masa pandemi ini bisa menjadi solusi untuk mengisi kekosongan waktu anak-anak kita supaya mereka produktif juga dalam proses belajar mengajar,” ujar Najmul.

Namun ada hal yang perlu digarisbawahi, lanjut Najmul, bahwa mendidik anak-anak didik itu tidak hanya sekadar bicara mengenai bagaimana mengisi kapasitas otak mereka, atau hanya bicara hal-hal yang bersifat akademis semata, tetapi kita harus mengacu pada substansi tertinggi dari pendidikan nasional adalah pendidikan moral dan pembangunan karakter anak-anak bangsa.

“Kalau kita menganggap bahwa belajar itu hanya mentransfer ke otak mereka saja dan dengan kondisi berlama-lama menempatkan anak-anak kita tidak di kelas lagi, kami jelas khawatir pendidikan kita ini akan kehilangan makna,” jelas Najmul.

“Akan kering dari nilai-nilai karakter kebangsaaan kita, sehingga kami berharap jika pandemi ini cepat berlalu, maka anak-anak kita ini segera kembali menemukan dirinya, belajar di kelas seperti masa-masa sebelum adanya pandemi Covid-19,” tuturnya.

Apkasi, lanjut Najmul, menjadi sangat penting untuk mengisi kekosongan waktu anak-anak didik serta mendorong agar mereka tetap produktif. 

Ia mengatakan, “Ini artinya belajar jarak jauh itu harus bisa menciptakan suasana, di mana pun mereka berada di rumah atau di mana saja, mereka tetap merasa menjadi siswa, mereka ini merasa tetap dalam suasa belajar.”

Najlmul juga menyoroti dua metode pembelajaran yang bisa kita diskusikan, yang pertama proses belajar jarak jauh secara daring dengan menggunakan teknologi.

“Tetapi ada mereka-mereka ini yang di kampung-kampung, di dusun-dusun yang barangkali mereka ini tidak memiliki akses internet dan fasilitas laptop atau bahkan gadget smatphone. Inilah yang harus menjadi catatan Pak Mendikbud bagaimana anak-anak ini bisa mendapatkan keadilan yang sama jika ingin program belajar jarak jauh ini bisa berjalan sukses,” paparnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT