12 August 2020, 13:28 WIB

Pandemi Covid-19 dan Disrupsi Pembelajaran 


Prof. Dr. H. R. Agus Sartono, MBA. | Humaniora

Covid-19 dan Dampaknya

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan saja, namun juga pada sektor yang lain, seperti ekonomi, sosial dan pendidikan. Seluruh kegiatan pada sektor tersebut melemah karena pembatasan sosial yang harus dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Jika ditanya, negara mana yang siap dengan kondisi ini? Tentu jawabannya, tidak ada satupun negara yang siap dengan kondisi ini.

Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu, pandemi ini memaksa semua kita untuk mulai menyusun strategi di tengah keterbatasan yang ada untuk kembali bangkit dan menghidupkan sektor ekonomi, industri, pariwisata hingga pendidikan. Hal ini mau tidak mau harus dilakukan karena diperkirakan hingga akhir tahun ini, belum ada vaksin yang dapat secara efektif membunuh virus ini.

Artinya, jika kita menunggu kondisi benar-benar aman untuk kembali beraktivitas, maka pertumbuhan ekonomi akan mandeg, dimana hal ini akan menimbulkan dampak yang lebih besar dari kondisi yang ada saat ini. Dengan demikian, pilihan terbaik saat ini adalah mulai menghidupkan kegiatan di semua sektor dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, inilah yang dinamakan dengan New Normal atau Kebiasaan Baru.

Bagaimana dengan dampak pandemi ini dibidang pendidikan? Hingga saat ini, tercatat 188 negara terdampak Covid-19 yang terpaksa menutup satuan pendidikannya. Sedangkan di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kemendikbud (update Juni 2020), terdapat 646.192 satuan pendidikan, 68.801.708 siswa dan 4.183.591 guru dan dosen yang terdampak Covid-19 dan harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh, baik secara daring maupun luring.

Bagi negara-negara maju dimana jaringan listrik dan internet sudah menjangkau semua wilayahnya, pembelajaran secara daring tentunya bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Lain halnya dengan Indonesia yang memiliki karakteristik geografis yang unik dengan sebaran infrastruktur dan jaringan untuk mendukung pembelajaran daring masih sangat terbatas.

Menurut data Kemdikbud dan Kemenag (2020), masih ada 46.143 satuan pendidikan atau 17% yang belum memiliki akses internet, dimana angka tersebut didominasi oleh jenjang SD/MI, yaitu sejumlah 34.739. Hal ini tentunya membuat PJJ daring sangat sulit dilakukan pada jenjang tersebut.

Mengingat resiko Covid-19 yang juga mengancam anak-anak, tentunya PJJ daring menjadi pilihan terbaik saat ini. Jika anak-anak usia SD/MI terpapar, maka tidak mungkin mereka akan dikarantina sendiri, pastinya mereka tetap akan membutuhkan pendampingan orang tua.

Sebaran satuan pendidikan tanpa akses internet tersebut tidak hanya di daerah 3T (terluar, terpencil dan tertinggal), di daerah-daerah yang sudah maju sekalipun masih ada satuan pendidikan yang belum mempunyai akses. DIY misalnya, provinsi yang dikenal dengan Kota Pelajarnya ini ternyata masih memiliki 86 sekolah yang belum mempunyai akses internet. Atau jika kita mau gambaran yang lebih besar lagi, setidaknya terdapat 7.000 sekolah di Pulau Jawa yang masih belum tersentuh jaringan internet. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk mengimplementasikan kebijakan pendidikan terkait penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh secara daring.

 


Sumber: Kemendikbud dan Kemenag, diolah 2020

Dengan kondisi diatas, apa yang bisa kita lakukan untuk tetap menjaga kelangsungan pembelajaran bagi anak-anak kita? Bagaimanapun juga, hak pendidikan anak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara. Skenario pertama untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan adalah dengan menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh secara daring.

Sebagaimana diatur dalam SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan pada Masa Darurat Penyebaran Covid-19, satuan pendidikan harus menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh sejak akhir Maret 2020. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa metode ini tidak dapat berjalan secara optimal, pembelajaran jarak jauh secara daring merupakan skenario terbaik dari yang terburuk karena metode ini tidak melibatkan tatap muka dan kontak fisik langsung sehingga kesehatan peserta didik dapat terjamin.

Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh

Tantangan pembelajaran daring tidak hanya pada keterbatasan akses internet pada satuan pendidikan saja, namun juga keterbatasan akses internet di suatu wilayah secara keseluruhan. Akses internet di sekolah dapat digunakan oleh guru, namun apakah bisa dipastikan bahwa seluruh peserta didik dapat mengakses internet dari rumah mereka masing-masing? Jika memang seluruh peserta didik berada dalam wilayah yang terakses internet, apakah mereka semua mempunyai fasilitas pendukung untuk pembelajaran daring, seperti gawai pintar, laptop atau PC?

Selanjutnya, jika mereka mempunyai fasilitas dimaksud, apakah orang tua mereka mampu menyediakan pulsa/paket data untuk pelaksanaan pembelajaran? Untuk menjawab kendala-kendala tersebut, pemerintah telah menyediakan berbagai solusi. Mulai dari memberikan kelonggaran penggunaan dana BOS untuk pembelajaran jarak jauh, menyediakan aplikasi belajar online gratis, hingga menggandeng TVRI  dan RRI sebagai media untuk menyampaikan konten pembelajaran jarak jauh bagi wilayah yang tidak terjangkau internet.

Tantangan berikutnya adalah kesiapan guru dalam melaksanakan pengajaran secara daring, baik dalam hal pengoperasian media pembelajaran maupun penyiapan konten pembelajaran yang menarik. Lagi-lagi dalam hal ini kompetensi guru menjadi komponen yang sangat penting.

Pembelajaran daring telah memaksa guru untuk belajar mengoperasikan fasilitas multimedia untuk menyusun konten pembelajaran yang menarik bagi siswa. Dalam hal ini, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah menyelenggarakan banyak pelatihan pembelajaran daring untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyelenggarakan pengajaran daring dan penyiapan konten pembelajaran.

4 Kompetensi dalam Konten Pembelajaran

Terdapat beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam pembelajaran, yaitu knowledge, skills, attitude dan values (OECD: The Future that We Want, 2018). Idealnya, keempat kompetensi akan diperoleh siswa secara optimal melalui pembelajaran tatap muka.

Namun pada kondisi saat ini, keempat hal tersebut harus diberikan pada siswa melalui pembelajaran jarak jauh. Knowledge (pengetahuan) dan skills (keterampilan) masih memungkinkan diberikan pada siswa melalui media pembelajaran jarak jauh karena kompetensi tersebut dapat dipelajari secara mandiri. Lain halnya dengan, attitude (sikap) dan values (nilai), dimana kedua kompetensi ini harus ditanamkan pada siswa melalui keteladanan dan contoh nyata yang hanya dapat diperoleh siswa melalui interaksi sosial dengan guru dan rekan-rekannya.

Pembelajaran daring tidak dapat mengakomodir kedua kompetensi ini secara optimal karena siswa harus tetap di rumah dan menerapkan social distancing. Untuk itu, peran orang tua dalam mendampingi putra putrinya selama belajar dari rumah sangat penting untuk memastikan anak dapat mengembangkan attitude (sikap) dan value (nilai) dalam dirinya meskipun melalui pembelajaran daring. Selain itu, guru juga harus mempersiapkan konten pembelajaran yang mencakup keempat kompetensi tersebut. Konten pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak seharusnya hanya memuat pengetahuan dan keterampilan saja, tapi juga harus ada konten pengembangan sikap dan nilai di dalamnya.

Alternatif Penyelenggaraan Pembelajaran

Lalu pembelajaran seperti apa yang paling efektif untuk dilakukan saat ini? Blended learning dapat menjadi opsi terbaik saat ini karena metode ini dapat menjawab kendala pembelajaran daring di Indonesia dengan luasnya wilayah dan disparitas infrastruktur dan sosial ekonomi yang sangat tinggi di dalamnya. Blended learning merupakan kombinasi pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran tradisional tatap muka.

Metode ini sudah sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk membuka sekolah dengan menerapkan model kelas bergiliran (shift) selama masa pandemi Covid19 sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19.  

Blended Learning sangat mungkin untuk diterapkan di semua wilayah, bahkan di wilayah yang belum memiliki akses internet sekalipun karena pembelajaran dan penugasan tidak sepenuhnya dilaksanakan secara online. Terdapat beberapa keuntungan dari metode pembelajaran ini, di antaranya: kehadiran di sekolah berkurang karena jadwal yang bergantian (tatap muka dan online) dengan demikian tidak banyak siswa yang harus hadir di sekolah pada waktu bersamaan; memungkinkan siswa untuk melaksanakan tugas praktek secara langsung dengan diawasi guru yang secara bersamaan dapat digunakanoleh guru untuk menanamkan kompetensi attitude (sikap) dan value (nilai) pada siswa; dan siswa dapat bersosialisasi di lingkungan sekolah sehingga mereka dapat mengembangkan kognisi dan afeksi secara optimal.

Disrupsi Pembelajaran untuk Pendidikan Masa Depan

Satu hal yang dapat kita petik dari pandemi ini, yaitu tuntutan untuk melakukan inovasi pembelajaran di tengah segala keterbatasan atau kita kenal dengan istilah disrupsi pembelajaran. Pembelajaran tradisional yang selama ini kita lakukan bertransformasi menjadi pembelajaran daring. Guru dipaksa untuk meningkatkan kompetensinya dalam menggunakan alat multimedia dan menyusun konten pembelajaran online. Peserta didik dilatih untuk memanfaatkan gadget dalam pembelajaran sehingga gawai pintar yang selalu ada di tangan tidak lagi hanya digunakan untuk mengakses game online dan media sosial. Orang tua yang sebelumnya ‘lepas’ tanggung jawab terhadap keberlangsungan pembelajaran putra putrinya dituntut untuk memberikan dukungan selama proses belajar di rumah sehingga meningkatkan hubungan emosional orang tua dan anak.

Fakta ini kemudian membuat kita berpikir bahwa tidak selamanya hal yang buruk akan membawa konsekuensi buruk juga. Pandemi ini telah membuktikan bahwa guru-guru justru menjadi lebih kreatif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Terdapat beberapa best practices inovasi pembelajaran yang telah diterapkan oleh satuan pendidikan di berbagai wilayah di Indonesia selama masa pandemi ini. Misalnya di Provinsi Sumatera Selatan, satuan pendidikan menggunakan aplikasi dengan sistem offline dalam mendistribusikan materi dan tugas sehingga menghemat kuota internet.

Sedangkan untuk peserta didik yang tidak mempunyai fasilitas multimedia, sekolah mengirimkan materi dan tugas kepada siswa dengan memanfaatkan jasa kurir atau ojek online. Perhatian dan keterlibatan orang tua dalam pembelajaran dari rumah yang sangat besar terdapat di Provinsi Gorontalo.

Orang tua setuju untuk berbagi fasilitas pembelajaran maupun kuota internet pada peserta didik yang membutuhkan, sehingga peserta didik yang tinggal berdekatan membentuk kelompok kecil untuk belajar bersama dengan menggunakan fasilitas dan paket internet yang disediakan oleh salah satu orang tua siswa, tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

Berbeda lagi dengan inovasi yang dilakukan Provinsi DIY, dimana beberapa satuan pendidikan merintis radio streaming untuk pembelajaran, meskipun jangkauannya hanya 3-4 kilometer. Sedangkan di Kab. Semarang, sebelum tahun ajaran baru, satuan pendidikan melakukan survey pada orang tua siswa untuk mengidentifikasi beberapa hal, yaitu pemetaan tempat tinggal siswa berikut status wilayah dimaksud, alat transportasi yang digunakan siswa untuk ke sekolah dan pilihan sistem pembelajaran oleh orang tua siswa. Dari hasil survey ini, disepakati kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring.

Namun demikian, bagi siswa yang tidak mempunyai fasilitas pembelajaran, sekolah tetap menyediakan solusi dengan meminta siswa untuk datang ke sekolah secara berkala untuk mengambil dan mengumpulkan materi/tugas dari guru. Artinya, tidak ada paksaan bagi siswa maupun orang tua untuk menyediakan fasilitas pembelajaran di rumah.

Satu contoh inovasi pembelajaran yang layak untuk kita cermati bersama adalah inovasi dari SMP N 6 Padang Panjang. Sekolah ini mengembangkan perangkat bernama Remote Area Community Hotspots for Education and Learning (RACHEL). Sistem ini mulai dikembangkan oleh SMPN 6 Padangpanjang sejak tahun 2019 sebelum adanya pandemi Covid-19. Kemanfaatan RACHEL sangat dirasakan pada masa pandemi Covid-19 ketika KBM harus dilakukan secara jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR). RACHEL mendukung KBM secara elektronik/digital dan berjarak jauh tanpa memerlukan paket data internet. Persyaratan utamanya hanyalah siswa atau orangtuanya harus memiliki gawai (gadget) yang dapat terkoneksi ke jaringan wifi.

Siswa SMPN 6 Padangpanjang atau orangtuanya hanya perlu mendekati perangkat (hotspot) yang telah dipasang di beberapa titik di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan menggunakan gawai, siswa dapat mengaktifkan fitur wifi dan mengkoneksikan ke jaringan RACHEL berkode RPI.

Setelah masuk ke browser lalu mengetik 10.1010.10 untuk dapat mengakses bahan ajar dan tugas-tugas dari sekolah. Selain untuk mengunduh bahan ajar, pada waktu yang sama siswa/orangtua siswa juga sekaligus dapat mengunggah tugas pelajaran yang telah dikerjakan sebelumnya. Aplikasi RACHEL bisa menampung seluruh tugas maupun bahan pembelajaran, baik berupa video maupun buku elektronik. Bahan pembelajaran diunggah secara manual ke server mini oleh Guru IPA (sebagai pengembang RACHEL) dengan mendatangi setiap hotspot sekali seminggu.

Siswa juga mengunduh bahan pembelajaran dari server mini dan sekaligus mengunggah tugas yang telah dikerjakan ke server mini seminggu sekali. Kapasitas aplikasi ini dalam streaming mampu menjangkau 15 orang sedangkan kapasitas pengumpulan tugas dalam 1 titik lokasi RACHEL mampu menampung 60 tugas siswa. Proses KBM bersifat fleksibel tanpa ditentukan jadwal rutinnya setiap hari. Dengan demikian siswa dapat menggunakan gawai sesuai ketersediaan dan kebutuhan di rumah masing-masing. Frekuensi waktu 1x seminggu memberi ruang yang cukup sehingga tidak membuat siswa berkumpul di lokasi hotspot.

Berbagai contoh di atas merupakan bukti nyata bahwa guru-guru kita adalah orang-orang terpilih yang dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Justru dengan kondisi ini, pemerintah dapat membuat semacam kompetisi inovasi pembelajaran sehingga dapat memacu semangat para guru untuk terus meningkatkan kreativitasnya dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh dan menyiapkan konten pembelajaran daring.

Hasil dari kompetisi ini tentunya akan sangat bermanfaat dan dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk merencanakan pola pembelajaran digital di masa depan. Tentunya hal tersebut harus didukung dengan komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan jaringan di seluruh wilayah Indonesia.

Jika hal ini disiasati dengan baik oleh pemerintah dan didukung oleh sektor swasta, maka bukan tidak mungkin pendidikan di Indonesia justru akan berkembang dengan lebih baik setelah masa pandemi ini berakhir. Lalu, apakah Anda siap untuk turut berpartisipasi pada transformasi pendidikan di masa depan?

Tentang penulis:

Prof. Dr. H. R. Agus Sartono, MBA. saat ini aktif menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama di Kemenko PMK RI dan juga merupakan Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. (OL_09)

 

BERITA TERKAIT