11 August 2020, 12:50 WIB

Ganjar Minta Sekolah Zone Kuning Lakukan Simulasi Sebelum Dibuka


Akhmad Safuan | Nusantara

SEBANYAK 14 daerah di zone kuning di Jawa Tengah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diijinkan pembelajaran tatap muka, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta harus ada simulasi terlebih dulu dan agar ada standar operasional prosedur (SOP) yang baik.

Pemantauan Media Indonesia Selasa (11/8) kasus covid-19 di Jawa Tengah masih nomor tiga tertinggi di Indonesia, hingga kini tercatat masih 11.149 kasus dengan 68,45 persen (7.631 orang) sembuh, 22,27 persen (2.483 orang) masih dirawat dan 9,28 persen (1.035 orang) meninggal.

“Ada peningkatan jumlah pasien covid-19 yang sembuh hingga mencapai 258 orang dalam sehari ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo.

Meskipun masih tinggi kasus covid-19 di Jawa Tengah, namun beberapa daerah sudah mulai melakukan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan ketat yakni dari mulsi cek suhu setiap siswa masuk, wajib cuci tangan, bermasker dan faceshield serta menjaga jarak dengan membagi siswa menjadi tiga gelombang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga telah mengizinkan daerah zone kuning untuk membuka sekolah dengan pembelajaran tatap muka, di Jawa Tengah terdapat 14 daerah yakni Batang, Kota Tegal, Banjarnegara, Temanggung, Pemalang, Tegal, Sragen, Purbalingga, Wonosobo, Brebes, Magelang, Boyolali, Cilacap dan Klaten.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan membuka sekolah kembali dengan pembelajaran tatap muka masih diperhitungkan dengan matang, karena jika tidak hati-hati dan waspada cukup berbahaya karena covid-19 masih menjadi ancaman serius, apalagi siswa cukup rentan.

Membuka sekolah lagi, demikian Ganjar, harus memperhatikan kondisi covid di daerah setempat, yakni dengan melihat tingkat penyebaran covid-19 di masing-masing daerah yang berbeda kondisinya, karena ada daerah dengan katagori rawan, sedang dan kurang.

Selain itu, ungkap Ganjar Pranowo, sebelum membuka sekolah tatap muka, harus ada kesepakatan komite dan wali murid, sehingga pihak sekolah dan orang tua sama-sama memperhatikan anak didik baik ketika di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Demikian juga dengan jumlah peserta didik, lanjut Ganjar, harus ada pembatasan jumlahnta yakni dengan membagi waktu sekokah menjadi tiga dalam sepekan, serta ada pembatasan jam sekolah agar tidak penuh satu hari. “Saya minta harus ada simulasi dulu agar sesuai SOP protokol kesehatan,”  tambahnya. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT