11 August 2020, 02:40 WIB

Mengembalikan Pakem Membatik di Sendangduwur


(Dwi Tupani/H-3) | Humaniora

SEORANG perempuan berjilbab terlihat sedang meniup canting yang baru saja dicelupkan ke malam. Tangan kiri memegang kain mori dengan motif bunga dan kupu-kupu. Ia merupakan salah satu pembatik di Desa Sendangduwur, Kabupaten Lamongan, yang sebelumnya mengikuti pelatihan membatik dari pakar batik asal Pekalongan, Mustar Sidiq.

“Batik Lamongan itu dibuatnya secara autodidak, warisan turuntemurun. Pembuatannya pun diajarkan dari rumah ke rumah, mulut ke mulut. Belum ada teknik membatik yang standar di desa kami,” terang Ketua Koperasi Wanita (Kopwan) di Bidang Batik, Rohayatin, 53, kepada Media Indonesia, Kamis (7/8), yang juga turut dalam pelatihan.

Menurut Rohayatin, motif khas batik Lamongan ialah bandeng lele yang menjadi motif khas wilayah tersebut. Namun, motif asli dari Sendangduwur ialah melati.

“Bahkan, motif tersebut sudah ada sejak zaman Sunan Drajat, salah satu Wali Songo asal Lamongan,” kata Rohayatin.

Saat diwawancarai secara terpisah, Mustar Sidiq mengakui pada dasarnya batik lamongan masuk ke generasi batik tua yang dipengaruhi Tiongkok. “(Motif) batik Lamongan itu mirip dengan Lasem, motif pesisiran. Masuknya batik ke Lamongan sama dengan Lasem, yaitu oleh pedagang,” cerita Sidiq.

Setelah Sunan Drajat menyebarkan Islam di Lamongan, batik Lamongan berkembang dengan nuansa Islam. Konsep pelatihannya, ujar Sidiq, ialah mengembalikan batik pada cita rasa aslinya. Menurutnya, pelatihan batik di desa Sendangduwur fokusnya ialah menjadikan perajinnya wirausaha andal.

“Kami mengajarkan mengembalikan teknik batik aslinya. Bagaimana mencanting yang benar dan bukan mengubah motifnya,” tuturnya. Mustar Sidiq pun juga mengajarkan pamasaran (marketing) batik agar lebih berdaya.

Pada 2020, pelatihan Mustar Sidiq di Lamongan didukung program penelitian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia yang dipimpin Lilawati Kurnia.

Lilawati kurnia bersama timnya memilih Desa Sendangduwur karena motifnya memiliki ciri khas. Hal ini terpancar dari guratan Batik Sendang yang berkembang pada masa transisi Majapahit-Demak-Giri.

“Sayangnya, sebagian besar batik daerah ini belum bisa dipasarkan secara komersial karena masih kurang nilai jualnya. Batik yang ditawarkan masih kasar, baik secara motif maupun kurang isian atau kurang halus pencantingannya,” ujar Lilawati yang juga pengajar program studi Cultural Studies di FIB UI itu.

Oleh karena itu, target dari program Pengmas di Sendangduwur Lamongan ialah menjadikan produksi batik tulis di sana mencapai kualitas halus sebuah batik, baik motif maupun pewarnaannya. (Dwi Tupani/H-3)

BERITA TERKAIT