11 August 2020, 02:25 WIB

Jadikan Konservasi sebagai Budaya


(Fer/H-2) | Humaniora

KEPEDULIAN pada konservasi alam harus dibiasakan sejak dini agar mendarah daging menjadi budaya bangsa.

Hal itu diutarakan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong dalam Aksi Bersih Kawasan Konservasi dan Penanaman Pohon yang dipusatkan di Taman Wisata Alam Angke, Kapuk, Jakarta, kemarin.

Aksi ini merupakan bagian dari peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus.

"Jadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup kita sehari-hari agar selanjutnya berkembang menjadi budaya bangsa yang dapat kita wariskan kepada generasi-generasi penerus kita," ujarnya saat membacakan sambutan Menteri LHK Siti Nurbaya.

Wamen menyontohkan konservasi mangrove di TWA Angke Kapuk yang tadinya merupakan bekas areal tambak. Daerah mangrove yang bagus ternyata meminimalkan kerusakan jika ada tsunami dan berfungsi untuk sekuestrasi karbon/penyimpan karbon. "Simpanan karbon terbesar itu ada di tanah mangrove, lebih besar empai kali lipat dari terestrial atau daratan," sebutnya.

Selain itu, mangrove juga dapat mencegah intrusi air laut ke darat, memfi lter racun-racun dari limbah/B3, dan mengandung environmental service/jasa lingkungan berupa keindahan alam dan kesegaran, juga potensial sebagai ekowisata.

Menteri LHK Siti Nurbaya menyatakan kawasan konservasi merupakan rumah bagi keanekaragaman jenis satwa dan tumbuhan sehingga keberadaannya harus dijaga dan dipelihara.

Upaya pengelolaan pada kawasan konservasi saat ini dilakukan pada kawasan suaka alam (KSA), kawasan perlindungan alam (KPA), dan taman buru (TB).

Sayangnya, kata Siti, sebagian besar ekosistem penyangga di luar konsevasi, seperti mangrove, gambut, rawa, dan karst, telah mengalami kerusakan akibat pembangunan infrastruktur. (Fer/H-2)

BERITA TERKAIT