10 August 2020, 22:06 WIB

Kepala BNPT : Penanggulangan Terorisme Berbasis Kesejahteraan


M Taufan SP Bustan | Politik dan Hukum

KEPALA BNPT Komjen Boy Rafli Amar mengaku, penanggulangan dan pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme masih terus dilakukan. Namun, saat ini penerapannya dengan berbasis pembangunan kesejahteraan.

Menurutnya, dalam peraktiknya program tersebut dijalankan dengan melibatkan tim Satgas Sinergitas Nasional dan daerah.

"Jadi semua pihak kita libatkan, ada 38 lembaga, kementerian, badan, forum, dan masyarakat. Karena fokus kita saat ini dan kedepan bagaimana program penanggulangan berbasis pada pembangunan kesejahteraan masyarakat," tegas Boy kepada mediaindonesia.com saat melakukan kunjungan kerja di Palu, Senin (10/8). 

Dia menjelaskan, lewat sinergisitas tersebut langkah pemberdayaan masyarakat akan lebih maksimal dilakukan dengan menggenjot beberapa sektor, termasuk sektor perkebunan, industri kecil, dan menengah, serta sektor-sektor lainnya. 

Sementara, rencana aksinya lanjutnya Boy, terdapat tiga strategi pertama yakni kontraradikalisasi yang ditujukan terhadap kelompok atau orang pendukung, simpatisan, dan masyarakat yang belum terpapar paham radikal,yaitu dengan melaksanakan kegiatan pencegahan.

Kedua, strategi deradikalisasi yang merupakan upaya menanggulangi paham radikal atau menurunkan kadarnya menjadi tidak radikal, pada kegiatan di dalam lembaga pemasyarakatan dan di luar lembaga pemasyarakatan.

Ketiga, pemenuhan sarana kontak yang merupakan strategi intelijen penggalangan dengan memfokuskan pada aspek pemenuhan sarana kontak, yang ditujukan untuk membantu membangun, memperbaiki, mengadakan, mengoptimalkan, mendukung sarana, dan fasilitas umum secara terbatas.

"Nah, semua hal itu akan kami lakukan bersama-sama," jelasnya. 

Baca juga : Lusa, Polri Bakal Tetapkan Tersangka Baru Kasus Joko Tjandra

Terkait program deradikalisai di Poso, tambah Boy, masih terus dilakukan. Di mana, anak-anak remaja yang ada di Poso terus dikawal sehingga tidak ikut dalam pegerakan kejahatan teror yang mana terus dilancarkan kelompok MIT. 

"Karena meyakinkan mereka (anak-anak remaja) ini juga tentu perlu waktu. Nah, kami memerlukan pelibatan para toko agama, untuk menyelamatkan anak muda kita dari doktrin kelompok MIT," ujarnya. 

Boy menilai, apa yang digencarkan kelompok MIT di Poso adalah bentuk anti kemanusian. Oleh karena itu, jangan sampai anak-anak muda yang adadi Poso begabung dengan kelompok tersebut. 

"Kita selamatkan semua orang dalam pembangunan yang bersifat positif. Dan dijauhkan dari kelompok MIT," ujarnya. 

Metode pelibatan tokoh agama dalam program deradikalisasi di Poso,menurut Boy, khususnya dalam memoderasi alam pikiran. Karena jangan sampai anak-anak muda di Poso tergiur propaganda jaringanteror.

"Karena kita tahu bersama yang sering digunakan kelompok teror dalam propaganda kan seolah-olah berjuang atas nama agama. Padahal kan tidakseperti itu. Nah di Poso, itu yang kita hindari sampai ke anak-anak muda," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT