10 August 2020, 11:11 WIB

Istana Sebut Indonesia belum Alami Resesi


Nur Azizah, Andhika Prasetyo | Ekonomi

JURU bicara presiden bidang ekonomi Arif Budimanta mengatakan Indonesia belum bisa disebut mengalami resesi. Berdasarkan konsensus ekonomi di seluruh dunia, resesi merupakan pertumbuhan negatif perekonomian berturut-turut selama dua kuartal dihitung secara tahunan (y-o-y).

"Jadi, jika sebuah negara mengalami pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut dihitung secara kuartalan (q-t-q) bukan secara tahunan (y-o-y) maka itu belum bisa disebut mengalami resesi," kata Arif kepada wartawan, Senin (10/8).

Arif mengatakan Indonesia bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi kuartal III secara tahunan dapat mencapai nilai positif. Sementara pertumbuhan negatif pada kuartal II telah diprediksi sebelumnya sebagai konsekuensi dari wabah Covid-19.

Baca juga: Terancam Resesi, Kadin Minta RUU Cipta Kerja Disahkan

"Ya karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pada kuartal I kita masih tumbuh positif 2,97% (y-o-y) dan di kuartal III kita punya peluang kembali ke level positif setelah bergeraknya lagi aktivitas perekonomian dengan protokol adaptasi kebiasaan baru," jelas dia.

Arif menyampaikan kontraksi ekonomi tidak hanya terjadi di Indonesia. Kejadian serupa juga dialami oleh seluruh negara di dunia

"Hampir seluruh negara mengalami hal serupa bahkan dengan kontraksi yang lebih tajam seperti yang terjadi di Uni Eropa -14,4%, Singapura -12,6, Amerika Serikat -9,5%, Malaysia -8,4%," terangnya.

Ia pun mengklaim Indonesia lebih baik dari negara lain. Ini lantaran Presiden Joko Widodo sudah mengantisipasi dengan beragam program perlindungan sosial.

"Presiden memberikan arahan untuk melakukan program dan fasilitas yang sifatnya counter cyclical untuk mendorong ekonomi domestik khususnya konsumsi masyarakat sehingga tidak membuat ekonomi kita terkontraksi lebih dalam lagi," terang Arif. (OL-1)

BERITA TERKAIT