10 August 2020, 04:00 WIB

Pedagogy of Heart


Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma | Opini

PEMBAHASAN tentang heart di pendidikan muncul dalam term seperti pedagogy of heart atau pendidikan kalbu. Istilah heart yang digunakan dalam kedua term tersebut bukan dalam pengertian fisis. Setidaknya, ada tiga pertanyaan untuk memandu perbicangan kita sekarang, yaitu apakah yang dimaksud dengan heart? Mengapa pedagogy of heart penting untuk diangkat kembali, dan apa pewujudannya?


Makna heart

Kata heart dikenal dalam ilmu kesehatan (kedokteran) dan ilmu lainnya seperti filsafat, agama, psikologi, dan pendidikan. Dalam dunia medis, heart atau jantung ialah organ dengan ukuran mendekati kepalan tangan, terletak di rongga dada di antara dua paru-paru. Fungsi utama jantung ialah memompa darah ke seluruh tubuh dan menampungnya kembali setelah dibersihkan di paru-paru. (Paramon’s Editorial Team: 2001 dan Ganong: 2005).

Di luar ilmu kedokteran, Johnson dan Neagley (2011) menyebutkan heart ialah suatu simbol untuk dimensi yang lebih dalam dari diri manusia seperti emosi, intuisi, dan spiritual. Pengertian kata heart yang tumpang-tindih menurut sumber-sumber yang ada mencakup; esensi (hakikat), pusat emosi, perasaan manusia, pemikiran yang dalam (innermost thought), integritas, keberaniaan, atau spirit.

Spirit dijelaskan dalam beberapa term seperti prinsip hidup, bagian yang menstimulasi seseorang, sumber pokok atau mendasar dari suatu kesadaran dan entuasisme dan inspirasi yang dapat dijadikan dasar atau klaim tentang kemanusiaan yang utuh (full humanity) (Johnson; Neagley: 2011).

Dalam kajian agama (Islam), dikenal antara lain kata qalb yang merupakan salah satu bagian dari unsur nafsani. Unsur nafsani terdiri atas tiga bagian; al-aql (akal), al-qalb (hati) dan al-nafs (nafsu). Di antara ketiga-tiga elemen nafsani ini, hati (al-qalb) bertanggung jawab dalam menolong, mengawal, dan mengendali struktur dan elemen jiwa yang lain (Mujib dan Mudzakir: 2002 seperti dikutip Jalil; Stapa; Abu Samah: 2016).

Dalam kajian agama (Islam), kata qalb disebutkan 168 kali dalam Quran untuk memberi penjelasan tentang keyakinan atau keimanan, kebolehan merasa seperti takut, gembira, ketenangan ketika berzikir kepada Allah, dan penjelasan tentang kemampuan untuk berpikir dengan menggunakan akal (Jalil; Stapa; Abu Samah: 2016).

Imam Alghazali membagi makna qalbi dalam dua pengertian, yaitu pertama, qalb dalam pengertian fisis sejalan dengan pengertian jantung dari ilmu kedokteran, yaitu daging kecil yang terletak di dada sebelah kiri dan di dalamnya terdapat ronggarongga yang menyalurkan darah hitam dan berperan sebagai sumber nyawa manusia. Kedua, merujuk ke sesuatu yang halus (lathifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyah) dan kerohanian yang ada hubungannya dengan hati jasmani.

Definisi kedua ini menggambarkan hakikat diri manusia dan berfungsi untuk merasa, mengenal, dan mengetahui ilmu (Jalil; Stapa; Abu Samah: 2016; al-Maktakbah Asy-syaamilah) atau spiritual heart atau qalbun salim/hati yang bersih (Yusuf : 1999). Hati hakikatnya ialah ‘...one that is free of defects and spiritual blemishes’.


Urgensi

Kebutuhan akan pedagogy of heart dapat ditimbang dari perspektif agama dan keilmuan lainnya termasuk pendidikan abad ke-21 yang menuntut perimbangan antara ‘kepala/otak’ dan ‘hati’. Houston (2011) menyebutkan ‘the head bone is connected to the heart bone’.’

Pendidikan telah dibanjiri dengan mandat-mandat yang cenderung kuat pada head bone sehingga penempatan hati dan roh dalam pendidikan cenderung tersisihkan. Misalnya; motivasi dan keterampilan membangun koneksi merupakan dimensi pendidikan yang lebih banyak ditemukan dalam heart sehingga upaya menyeimbangkan ‘kepala dan hati’ harus dikembangkan di sekolah dan menjadi tanggung jawab guru, pimpinan dan pengawas (Houston: 2011).

Nason dan Hanapi (2019) membeberkan beberapa alasan tentang pengangkatan pendidikan kalbu dalam pendidikan Malaysia berbarengan dengan respons terhadap pendidikan abad ke-21; pertama, kalbu/hati memainkan peranan penting bagi seseorang, sebab ia bukan sekadar organ fisis yang tanpa roh. Pendidikan yang bertumpu pada pengembangan akal semata melahirkan pendidik dan peserta didik yang menguasai ilmu, tetapi tidak serta-merta mengamalkan, apalagi memperjuangkannya.

Kedua, fungsi hati juga sebagai alat memperoses ilmu pengetahuan. Ilmu harus diamalkan dan dorongan mengamalkan ilmu datang dari hati. Peran qalb sangat penting terkait dengan akhlak seseorang dan bahkan menjadi fondasi bagi baik atau buruk/rusaknya umat manusia.


Wujud dan praktik

Pewujudan atau praksis pedagogy of heart diwujudkan antara lain dalam; pertama, education in heart menyentuh heart secara fi sis dalam kajian medis (kedokteran). Education in heart menyuguhkan materi tentang pemikiran dan hasil kajian mutakhir berkaitan dengan jantung untuk membantu para dokter, konsultan dalam kardiologi dan trainee cardiologists mendalaminya.

Fasilitasi mencakup halhal yang berkaitan penyakit jantung, gagal jantung, cardiomyopathy, valve disease, electrophysiology, congenital heart disease, imaging techniques, dan general cardiology (Mill: 2001).

Kedua, pendidikan spiritual. Dalam pandangan ahli Barat, spiritual bisa bersumber kepada agama dan bukan (agama). Pendidikan spiritual didasarkan pada pandangan tentang kesadaran akan pengalaman spiritual atau memercayai spiritualitas dalam kehidupan manusia. Spiritualias ialah kemampuan menyentuh diri seorang dan beyond oneself, yaitu kemampuan transendental (Leicester; Modgil: 2005). Spiritualias adalah perjalanan pribadi (personal journey) terhadap pemenuhan diri dan koneksi dengan nilai yang terdalam yang mendorong eksistensi.

Ia merupakan personal quest yang membawa seseorang kepada kehidupan yang lebih bermakna (White: 2013). Pendidikan spiritual mencari kebenaran tentang (kehidupan) dunia melalui berpikir (filsafat), apresiasi terhadap alam, kesusastraan, dan lainnya; termasuk spiritual inquiry seperti musik dan membaca kitab suci, sikap seperti memaafkan, bersyukur dan kedermawanan, serta ibadah ritual seperti meditasi, puasa dan sembahyang (White: 2013).

Ketiga, tazkiyatun nafsi. Tazkiyah secara etimologis punya dua makna; penyucian dan pertumbuhan. Zakatun-nafsi artinya penyucian (tathahhur) jiwa dari segala penyakit dan cacat, merealisasikan (tahaqquq) berbagai maqam padanya, serta menjadikan asma’ dan shifat sebagai akhlaknya (takhallua).

Pada akhirnya tazkiyah ialah tathahhur, tahaqquq, dan takhalluq. Tazkiyah memiliki berbagai sarana seperti shalat, infak, puasa, (al-Lail: 17-18) haji, zikir, fikir, tilawah Quran, renungan, muhasabah, dan dzikrulmaut yang apabila dilaksanakan secara sempurna/memadai akan memberi pengaruh terhadap pengamalan tauhid, ikhlas, sabar, syukur, santun, jujur, dan cinta kepada Allah (Hawwa:1993). Tazkiyah hati dan jiwa hanya bisa dicapai melalui berbagai ibadah dan amal atau muamalah dengan Allah dan makhluk (Hawwa:1993). Walallahu a’lam.

BERITA TERKAIT