10 August 2020, 03:55 WIB

Pertanian Penyelamat Ekonomi


Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian | Opini

SEPERTI diprediksi banyak lembaga dunia dan para pakar, pandemi covid-19 akan berdampak dahsyat terhadap perekonomian global. Prediksi tersebut terbukti, saat sejumlah negara telah mengalami resesi seperti Korsel, Singapura, Jerman, AS, Jepang, Prancis, dan Italia. Indikator resesi mengacu pada penurunan produk domestik bruto (PDB), merosotnya pendapatan riil, jumlah lapangan kerja, penjualan ritel, dan terpuruknya industri manufaktur.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa PDB Indonesia kuartal II 2020 tumbuh -5,32% jika dibandingkan dengan kuartal II 2019 (year on year/YoY), dan tumbuh -4,19% jika dibandingkan dengan kuartal I 2020 (quarter on quarter/QoQ). Tapi di balik angka tersebut, terdapat fakta yang perlu kita selisik. PDB pertanian justru melesat mencapai 16,24% pada triwulan II (QoQ). Bahkan, catatan dari YoY, hanya pertanian yang tetap tumbuh positif hingga 2,19%. Pertumbuhan sektor pertanian sekaligus membuat kontribusinya terhadap ekonomi nasional terus menguat.

Kontribusi sektor pertanian pada kuartal II 2019 hanya 13,57%, tapi pada kuartal II 2020 meningkat menjadi 15,46%. Capaian kinerja sektor pertanian tersebut sebetulnya telah diprediksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Sejak awal pandemi, Menteri SYL menyebutkan bahwa sektor pertanian akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Argumennya jelas, pangan dan produk pertanian merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa tergantikan. Karena itu, di tengah pelemahan ekonomi dunia akibat pandemi, sektor pertanian menjadi bisnis yang paling menjanjikan. Perlu telaah dalam mengungkap sektor pertanian kita tetap berkinerja positif di tengah melemahnya sektor lain.

Menteri Pertanian selaku penanggung jawab sektor pembangunan pertanian sejak awal telah merumuskan serangkaian kebijakan. Salah satunya fokus pada peningkatan produksi pangan dengan stimulus pelaku usaha pertanian, seperti relaksasi kredit usaha rakyat (KUR) pertanian, serta mempercepat bantuan sarana dan prasarana serta subsidi pertanian. Menteri SYL juga meluncurkan subsidi transpor pangan dari daerah surplus ke daerah minus sehingga distribusi pangan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Tak hanya di hulu, Kementan juga berupaya mengoptimalkan industri pertanian di hilir dengan menggerakkan ‘Pasar Mitra Tani’ dan memperbaiki penyerapan produksi pertanian yang ada di seluruh provinsi. Kementan bekerja erat dengan perusahaan rintisan teknologi (start-up) sektor jasa distribusi. Langkah ini bertujuan agar masyarakat dapat mengakses bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau di tengah menurunnya daya beli.

Juga program optimalisasi pekarangan melalui kegiatan Pertanian Keluarga dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Bentuk konkret P2L di lapangan ialah awareness masyarakat terhadap pola budi daya pertanian di perkotaan. Semakin banyak rumah tangga perkotaan yang memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk bertanam.

Hal lain ialah kinerja ekspor pertanian. Data BPS menunjukkan ekspor pertanian di April 2020 mencapai US$0,28 miliar atau tumbuh 12,66% (YoY). Kenaikan ekspor itu didapat dari empat subsektor unggulan, yakni perkebunan, tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan. Nominal kenaikan bahkan mencapai lebih dari Rp12 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 7,47% sejak 2019 sampai Maret 2020.

MI/Duta

 


Menjaga kinerja

Kinerja sektor pertanian yang tetap positif sampai kuartal II 2020 ini tentu sangat melegakan. Namun, di kuartal III dan IV 2020 terdapat tantangan yang menjadi kewajiban kita untuk menjaga kinerja dan menyiapkan kebijakan antisipatif. Penopang utama pertumbuhan positif PDB sektor pertanian kuartal lalu ialah subsektor tanaman pangan. Di kuartal II 2020 ini, tanaman pangan tumbuh 9,23% (YoY) dan 19,54% (QoQ).

Secara historis dan tradisional, panen raya biasanya jatuh pada Maret. Namun, di 2020, panen raya bergeser sampai April. Dampak pergeseran panen raya tanaman pangan dan perkebunan, menurut Menteri SYL, terlihat di kuartal II dan memberikan kontribusi yang positif.

Perlu diantisipasi di kuartal III dan IV, berdasarkan studi analisis statistika inferensial, kontribusi subsektor tanaman pangan ini akan menurun, khususnya di kuartal IV, sehingga di kuartal III dan IV nanti, subsektor peternakan, hortikultura, dan perkebunan perlu didorong menjadi motor utama penggerak ekonomi. Juga perhatian yang sama untuk subsektor jasa dan industri turunan pertanian di kuartal IV.

Kementerian Pertanian (Kementan) tetap berupaya senantiasa dekat dan mendukung para petani. Di tengah pandemi, Kementan gencar memberikan bantuan dan pendampingan agar aktivitas pertanian terus memberikan kontribusi maksimal terhadap ekonomi nasional. Produksi pangan harus tetap berjalan lancar dan relatif tidak menemui banyak masalah. Salah satu langkah konkret pendampingan petani oleh Kementan ialah KUR sektor pertanian. Program itu memiliki alokasi dana mencapai Rp50 triliun, dan setengahnya telah terserap tahun ini.

Dalam jangka pendek, penyaluran KUR, selain menjaga proses produksi, diharapkan mampu menangkal dampak pandemi covid- 19. Proses pencairan KUR pertanian sudah dimudahkan. Petani hanya diharuskan memiliki lahan garapan produktif, rancangan pembiayaan anggaran, dan sejumlah syarat untuk kepentingan pengecekan status debitur di Bank Indonesia (BI checking). Secara teknis, dalam penyalur an KUR, Kementan bekerja sama dengan bank BUMN.

Di awal semester I 2020, Kementan juga telah mengubah postur anggaran. Perubahan itu menggambarkan fokus Kementan pada peningkatan aspek produksi dan kesejahteraan petani. Pada tahun anggaran 2020, Kementan telah mengalokasikan dukungan pencegahan penularan covid-19 sebesar Rp40,42 miliar serta pengamanan ketersediaan pangan sebesar Rp1,46 triliun. Dana sebesar itu dibelanjakan dalam bentuk kegiatan operasi pasar pangan murah dan stabilisasi harga pangan, serta bantuan penyerapan gabah, transportasi/angkut distribusi pangan dan pemantapan ketersediaan stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok.

Selain itu, revisi anggaran sebesar Rp1,15 triliun difokuskan pada kegiatan social safety net yang sebagian besar berbentuk padat karya seperti gerakan pengendalian OPT, olah tanah dan percepatan tanam, rehabilitasi jaringan irigasi, perpipaan dan perpompaan, bantuan benih, dan penguatan P2L.

Padat karya menjadi salah satu kunci penting (key factor) agar pertumbuhan PDB sektor pertanian tetap berada di zona hijau. Sebagaimana yang telah diperkirakan, subsektor jasa pertanian dan industri turunannya ialah kontributor dominan terhadap pertumbuhan PDB sektor pertanian pada kuartal IV sehingga program padat karya diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi pelaku pertanian, di luar periode panen raya.

Mungkin tak banyak disadari, pandemi covid-19 telah memperkuat nilai tradisional bangsa Indonesia sebagai negeri agraris. Para petani, pekebun, dan peternak yang terus konsisten membudidayakan komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan membuktikan ketangguhan dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Kinerja mereka juga harus terus didukung dan ditingkatkan melalui kebijakan dalam sistem penyuluhan dan pengaplikasian sistem pertanian cerdas (smart farming) berbasis internet of things (IoT) yang menjadi roh revolusi industri generasi keempat (4.0).

BERITA TERKAIT