10 August 2020, 05:15 WIB

Demonstran Libanon Tuntut Pemerintahan Diab Mundur


Faustinus Nua | Internasional

DEMONSTRASI antipemerintah, Minggu (9/8), di ibu kota Libanon, Beirut, yang berujung rusuh menuntut semua pejabat pemerintahan Libanon mundur.

Perdana Menteri Hassan Diab bersama para menteri dinilai telah gagal memperbaiki krisis di negara itu baik krisis ekonomi maupun keamanan yang berujung pada ledakan dahsyat, Selasa (4/8) lalu.

Dikutip France24, dalam demonstrasi hari kedua tersebut, pengunjuk rasa melempar batu, memblokir jalan dekat, dan bahkan melakukan pembakaran. Untuk membubarkan massa yang beringas, aparat keamanan Libanon terpaksa menembakkan gas air mata.

"Kami memberi para pemimpin ini begitu banyak kesempatan membantu kami dan mereka selalu gagal. Kami ingin mereka semua mundur, terutama Hizbullah, karena mereka adalah milisi dan hanya mengintimidasi orang-orang dengan senjata," kata Walid Jamal, seorang demonstran yang turut dalam aksi tersebut.

Baca juga: Pasukan Keamanan Libanon Bentrok dengan Pemrotes

Dia mengatakan keterlibatan kelompok bersenjata Hizbullah sebagai bagian dari krisis keamanan di negara itu. Pasalnya, milisi yang didukung Iran itu sangat berpengaruh di Libanon dan memiliki menteri dalam pemerintahan.

Ulama terkemuka Libanon Maronit Kristen, Patriark Bechara Boutros al-Rai, mengatakan semua anggota kabinet harus mundur. Ledakan Beirut merupakan puncak dari kegagalan pemerintah, sehingga tidak hanya satu pejabat yang mundur.

"Pengunduran diri seorang anggota parlemen atau menteri tidak cukup. Seluruh pemerintah harus mengundurkan diri karena tidak dapat membantu negara pulih," katanya.

Bersamaan dengan aksi tersebut, Minggu (9/8), Menteri Informasi Manal Abdel Samad menyatakan mengundurkan diri dari pemerintahan Perdana Menteri Hassan Diab.

Dia mengungkapkan alasan dirinya mundur adalah karena ledakan dan kegagalan pemerintah melakukan reformasi.

Kepergian Manal diikuti pengunduran diri Menteri Lingkungan Libanon Damianos Kattar. Dia mengatakan telah kehilangan harapan dalam rezim yang menghancurkan beberapa peluang.

"Mengingat malapetaka besar, saya telah memutuskan menyerahkan pengunduran diri saya dari pemerintahan," ungkapnya.

Adapaun, ledakan lebih dari 2.000 ton amonium nitrat pada Selasa (4/8) menewaskan 158 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang. Hal itu menambah runtuhnya politik dan ekonomi Libanon dan memicu seruan keras agar pemerintah mundur. (OL-1)

BERITA TERKAIT