10 August 2020, 03:27 WIB

Optimisme Indonesia Keluar dari Krisis


Despian Nurhidayat | Politik dan Hukum

TINGKAT kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Joko Widodo dalam menyelesaikan permasalahan dan membawa Indonesia keluar dari krisis hingga kini masih tinggi.

Ini terlihat dari hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mengatakan sekitar 79% responden percaya terhadap kebijakan Presiden Jokowi dan hanya sekitar 20% yang menyatakan tidak percaya.

“Ini adalah modal penting bagi Presiden Jokowi. Terutama karena warga menilai ekonomi Indonesia terus memburuk,” ungkap Manajer Program SMRC Saidiman Ahmad dalam konferensi video, kemarin.

Survei berlangsung pada periode 29 Juli-1 Agustus 2020 dengan wawancara per telepon kepada 1.203 responden yang terpilih secara random dengan margin of error 2,9%.

Hasil itu, kata Saidiman, menunjukkan kenaikan yang stabil atas dukungan terhadap Presiden Jokowi dalam tiga bulan terakhir. “Pada
survei 20-22 Mei, tingkat kepercayaan pada kemampuan Presiden Jokowi menangani krisis ekonomi sempat turun menjadi 69%. Namun, setelah itu secara perlahan tingkat kepercayaan terus naik,” ujarnya.

“Sejauh ini mayoritas warga sangat atau cukup percaya Presiden Jokowi mampu membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi akibat wabah covid-19, dan penilaian ini cukup stabil dalam tiga bulan terakhir,” tegas Saidiman.

Masalah ekonomi

Survei SMRC juga menunjukkan bahwa 87% responden menganggap kondisi ekonomi nasional sekarang lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Padahal di akhir Juni, persentase warga yang menganggap kondisi ekonomi lebih buruk adalah 72%.

Di sisi lain, survei menunjukkan persentase warga yang menganggap kondisi ekonomi rumah tangga lebih buruk mencapai 69%. Artinya, hampir tidak ada perubahan dibandingkan akhir Juni, ketika angkanya mencapai 70%.

Terkait investasi asing, survei nasional SMRC menunjukkan masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk membangun sikap positif. Ini disebabkan 54% responden tidak setuju dengan anggapan kehadiran pengusaha asing membawa efek positif bagi perbaikan ekonomi, sedangkan yang setuju hanya 37%.

“Mereka yang berpendidikan dan berpendapatan lebih tinggi dan mereka yang tinggal di perkotaan akan cenderung menganggap lebih positif kehadiran investasi asing bagi ekonomi Indonesia dibandingkan yang berpendidikan dan berpendapatan lebih rendah serta tinggal di perdesaan,” ujar Saidiman.

Menurut Saidiman, temuan ini penting untuk diperhatikan pemerintah mengingat peningkatan investasi asing merupakan salah satu strategi utama yang diperlukan untuk menggenjot ekonomi nasional.

Dalam menanggapi hasil survei tersebut, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengatakan investasi dari penanaman modal asing (PMA) dapat menjadi jawaban bagi Indonesia agar mampu keluar dari jurang resesi.

Permasalahan yang terjadi saat ini, tambahnya, masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap PMA. Hal tersebut dibuktikan dengan kurangnya dukungan terhadap RUU Cipta Kerja. “Saya menyarankan agar sosialisasi terhadap investasi asing perlu diperbaiki,” ujar Aviliani. (X-11)

BERITA TERKAIT