10 August 2020, 05:30 WIB

Perkuat Stabilitas Sektor Keuangan


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

POIN krusial yang harus dilakukan pemerintah guna mencegah terjadinya krisis yang berkepanjangan akibat pandemi covid-19 ialah menjaga stabilitas sektor keuangan. Salah satunya ialah menguatkan cadangan devisa. Bila itu dilakukan, Indonesia dapat bertahan meski sektor keuangan di negara lain bermasalah.

“Kalau semua negara punya permasalahan finansial yang sama, kita tidak bisa meminta bantuan. Kita masih harus terus memantau situasi keuangan ini karena kalau ini masuk ke sektor keuangan, krisis ini akan berlipat-lipat beratnya untuk ditangani,” tegas Ketua Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dalam dalam diskusi secara virtual, Sabtu (8/8).

Untuk diketahui, Bank Indonesia pada Jumat (7/8) melaporkan cadangan devisa Indonesia berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Pada Juli 2020, cadangan devisa Indonesia berada di angka US$135,1 miliar. Jumlah itu naik signifikan jika dibandingkan dengan bulan lalu sebesar US$131,7 miliar.

Posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 9 bulan impor atau 8 bulan 6 hari impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, menurut BI, cadangan devisa sebesar US$135,1 miliar juga berada di atas kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Yose menambahkan, sektor keuangan masih terjaga meski di tengah tekanan krisis ekonomi akibat pandemi covid-19. Pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, kata dia, telah berhasil menjaga sektor keuangan dari krisis akibat pandemi. Pemerintah mengeluarkan kebijakan pertama melalui restrukturisasi utang atau kredit kepada perbankan.

Namun, ia tidak memungkiri telah terjadi peningkatan default (gagal bayar) dan kredit bermasalah di perbankan sejak pandemi menyebar. “Memang ada peningkatan default atau utang yang tidak dibayarkan, tapi tidak banyak naiknya secara umum. Salah satu sebabnya ialah pemerintah, BI, dan OJK memprioritaskan sektor keuangan. Pertama kali itu sudah ada program restrukturisasi kredit dan ini kelihatannya cukup berhasil,” terang Yose.

Potensi risiko sektor keuangan muncul da­­ri jumlah utang pemerintah dan korporasi. Khusus Indonesia, lanjut Yose, permasalahan utamanya ialah pada utang korporasi yang berdenominasi dolar Amerika Serikat.

“Di Indonesia risiko keuangan bukan datang dari utang pemerintah, melainkan dari korporasi. Terutama yang denominasinya dolar AS. Ini cukup besar dan risikonya makin besar kalau rupiah kita terdepresiasi,” jelas Yose.

Rupiah tertekan

Risiko sektor keuangan juga bisa terjadi dari tekanan terhadap rupiah. Menurut Kepa­la Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah pada pekan depan akan mengalami penurunan atau melemah pada kisaran 14.450-14.800 per dolar AS.

Menurut Ariston, pelemahan itu tentunya disebabkan beberapa faktor baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Pekan depan pasar akan memperhatikan perkembangan hubungan AS-Tiongkok yang makin memanas dan pembicaraan paket stimulus kedua AS yang masih menemui deadlock, di samping perkembangan penularan covid-19 yang masih terus meninggi,” ungkapnya, kemarin.

Lebih lanjut, Ariston menuturkan bahwa faktor-faktor tersebut dikatakan bisa memberikan sentimen negatif ke aset berisiko, terasuk rupiah, pekan depan. Dari dalam negeri, sentimen negatif terhadap kurs rupiah akan datang dari potensi resesi di Indonesia. “Indikasi pemulihan ekonomi dan kelancaran distribusi stimulus pemerintah bisa membantu memperbaiki sentimen,” sambungnya.

Tekanan juga terjadi pada indeks harga saham gabungan (IHSG). Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan IHSG akan bergerak melemah pada perdagang­an pekan depan. (Des/E-3)

BERITA TERKAIT