10 August 2020, 04:05 WIB

Pasukan Keamanan Libanon Bentrok dengan Pemrotes


MI | Internasional

PASUKAN keamanan Libanon, kemarin, menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa yang memenuhi alun-alun utama Beirut. 

Demonstran yang mencoba mencapai kawasan gedung parlemen di pusat kota membalas dengan melemparkan batu. Kekerasan oleh kelompok pemuda tersebut menandai protes antipemerintah. 

Mereka mengecam keterlambatan pemerintah dalam menangani kasus ledakan mematikan di pelabuhan Beirut baru-baru ini yang menghancurkan sebagian besar gedung dan perumahan di ibu kota dan menewaskan lebih dari 150 orang.

Ledakan dari ribuan ton amonium nitrat yang disimpan di gudang pelabuhan tersebut diduga dipicu kebakaran. Bencana ini ialah yang terbesar dalam sejarah Libanon dan menyebabkan kerusakan senilai lebih dari US$10 miliar. Insiden itu juga menyebabkan ratusan ribu
orang kehilangan tempat tinggal.

Tuan rumah konferensi Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menjadi tuan rumah bagi Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin politik lainnya dalam konferensi donor melalui video yang didukung PBB. Tujuan konferensi, yaitu meningkatkan bantuan darurat bagi Libanon.

Seorang asisten Macron menolak untuk menetapkan target konferensi. “Bantuan darurat dibutuhkan untuk rekonstruksi, bantuan makanan, peralatan medis dan sekolah, serta rumah sakit,” kata pejabat itu.

Perwakilan dari Inggris, Uni Eropa, Tiong kok, Rusia, Mesir, dan Yordania diharapkan bergabung dalam konferensi tersebut yang diselenggarakan Macron dari kediaman musim panasnya di Riviera. Namun, Israel dan Iran tidak akan ambil bagian.

Trump juga akan berpartisip asi dalam konferensi video tersebut. “Semua orang ingin membantu,” tulis Trump melalui Twitter.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Jerman menyebut negaranya akan memberikan tambahan 10 juta euro untuk bantuan darurat, selain sumbangan penyelamatan yang sedang meluncur.

Membangun kembali Beirut bisa menghabiskan miliaran dolar. Para ekonom memperkirakan ledakan tersebut bisa menghapus hingga 25% PDB negara itu. (AFP/Ant/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT