10 August 2020, 01:15 WIB

Memantik Budaya Baca Pengganti Gim


MI | Humaniora

BANYAKNYA pelajar yang suka menghabiskan waktunya setiap hari hanya untuk bermain gim di warung-warung kopi di Pangkalpinang. 

Kondisi tersebut membuat Feriyandi prihatin. Waktu emas itu sepertinya terbuang percuma. Tidak menunggu lama, bersama beberapa rekannya, Feriyandi berinisiatif menghubungi teman-temannya yang punya hobi menulis dan membaca.

Mereka diminta membantu menumbuhkan budaya baca tulis di kalangan anak-anak muda tersebut. Selanjutnya, pada 27 Januari 2017, bersama dua rekannya, Darul Aitin dan Muhammah Sukri, Feriyadi mendirikan Komunitas Literasi Bangka Belitung. 

“Saya memang hobi membaca, makanya saya tertarik untuk mendirikan komunitas literasi ini. Saya juga ingin generasi muda yang menghabiskan waktu main gim di warkop mau mengisi waktunya dengan hal yang bermanfaat seperti membaca buku agar lebih cerdas,” kata pria yang akrab disapa Komeng ini.

Terlihat mudah, namun butuh sekitar dua tahun untuk mengumpulkan buku, cari donatur yang bersedia membantu beli rak buku, biaya sewa tempat rumah literasi, sekaligus sekretariat. “Luar biasa upaya kami,” ujar Komeng yang mengaku sampai saat ini belum ada bantuan apa pun dari pemerintah daerah.

Hingga pada 2019 semua mulai terbuka. Komunitas Literasi Babel mendapatkan bantuan buku sebanyak 115 judul dan 3 paket buku cerita anak-anak dari Kemendikbud. 

Saat ini rumah baca yang beralamat di Jl KH Abdul Hamis 207 Taman Sari, Kota Pangkalpinang itu sudah memiliki koleksi 872 judul buku, mulai dari buku cerita anak, buku motivasi, buku kewirausahaan dan agama, sosial politik, dan novel.

“Semua buku itu sumbangan donatur dan Kemendikbud,” imbuh dia.

Bahkan dalam tiga tahun berdiri, Komeng dan rekannya bisa menempatkan pojok baca di sejumlah warung kopi di Pangkalpinang. Mereka sengaja menempatkan bukubuku itu di sudut warung kopi, tujuannya agar anak-anak muda tergerak untuk membaca saat di warung kopi.

Lebih dari itu, Komunitas Literasi Babel juga memiliki berbagai program seperti kelas menulis artikel dan buku, serta pelatihan jurnalitik. “Kelas menulis ini banyak diminati para guru, tapi kita batasi hanya 40 orang,” ujar Komeng.

Komunitas Literasi Babel kini dikelola 42 pengurus aktif. Anggotanya sekitar 400 orang. “Bagi siapa pun yang ingin membaca atau pinjam buku tidak dipungut biaya. Syaratnya, hanya identitas diri,” katanya.

Di masa pandemi covid-19, diakui Komeng, Komunitas Literasi Babel hanya melakukan pelatihan secara virtual literasi digital dalam bidang kewirausahaan. “Kami dari gerakan literasi masyarakat akan selalu siap bersinergi dalam rangka mencerdaskan generasi muda di Bangka Belitung,” pungkas Komeng.(Rendy Ferdiansyah/H-1).

BERITA TERKAIT