09 August 2020, 03:50 WIB

Asep Hidayat Mustopa: Menghidupkan Kembali Jali


Bagus Pradana | Weekend

ASEP Hidayat Mustopa, 33, merupakan warga Desa Waluran Mandiri, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, yang berhasil memopulerkan kembali tanaman jali atau juga dikenal dengan nama lokal hanjali.

Awalnya, tanaman tersebut kalah populer jika dibandingkan dengan tanaman pangan lain, seperti padi dan jagung, bahkan nyaris terlupakan. Namun, berkat kegigihan Asep dalam memperkenalkan kembali hanjali, kini tanaman ini berhasil menjadi komoditas utama di desa kelahirannya.

Asep membudidayakan tanaman hanjali sejak 2010 saat ia kembali ke kampung setelah bekerja menjadi buruh migran di Arab Saudi.

Awalnya, tidak mudah meyakinkan warga di tempat tinggalnya untuk menanam hanjali. Namun, setelah mereka mengetahui nilai ekonomi tanaman ini relatif tinggi, warga pun tertarik membudidayakan tanaman ini. Apalagi, Asep siap membeli hanjali hasil panen milik warga dengan harga lebih tinggi dari harga gabah.

“Untuk masyarakat di sini, hanjali tidak populer. Paling-paling hanya ditanam sebagai tanaman pagar. Biasanya untuk memagari tanam padi, luarnya ditaami hanjali atau dibiarkan tumbuh liar di lahan kosong tanpa perawatan. Mereka dulu menganggap hanjali ini sebagai tanaman gulma,” ungkap Asep saat menjadi narasumber di acara Kick Andy yang ditayangkan Minggu malam (9/8).

Bila dibandingkan dengan tanaman pangan lain, menurut Asep, tanaman hanjali ini lebih mudah dibudidayakan karena memiliki ketahanan yang baik, bahkan di musim kemarau, dan tak banyak memerlukan pengairan. Pemanfaatan hanjali pun beragam, mulai alternatif pangan yang diolah menjadi pengganti beras, dodol, rengginang, atau tape, hingga dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan aksesori, seperti kalung dan gelang.

“Sebenarnya hanjali ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. Bahkan, pada zaman Belanda, tanaman ini jadi primadona. Dari pengalaman saya berkeliling Sukabumi inilah, yang menjadi cikal bakal saya tahu tentang tanaman pangan, tahu tentang hanjali ini,” sambung Asep yang juga berprofesi sebagai pendamping program keluarga harapan di Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi itu.

Pada 2015, Asep mulai merangkul warga di desanya yang mayoritas mantan buruh migrant. Dia mulai mengajak ibu-ibu menanam dan mengolah tanaman hanjali sebagai produk pangan alternatif. Tak hanya menggerakkan warga menanam hanjali, Asep juga memperkenalkan program yang ia sebut pirus, singkatan dari pipir imah diurus atau memanfaatkan pekarangan sekitar rumah sebagai perladangan sederhana untuk meningkatkan ketahanan pangan desa.

Tak hanya itu, Asep juga memelopori pengembangan agrowisata berbasis komunitas atau integrated tourism farming (ITF) di Desa Waluran. Bahkan, kini desa tersebut telah masuk sebagai bagian dari Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang ditetapkan UNESCO pada 2018. “Sekarang orang lebih mengenal desa kami sebagai Desa Wisata Hanjali daripada Desa Waluran Mandiri,” pungkas Asep.

Berkat usahanya, Asep mendapat penghargaan sebagai juara pertama Pelopor Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat dan Sukabumi Award 2019 sebagai pelaku usaha industri menengah berprestasi. (M-4)

BERITA TERKAIT