08 August 2020, 12:11 WIB

Rusia, Tiongkok, dan Iran Berupaya Pengaruhi Pemilu AS


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

RUSiA  mendukung Donald Trump, Tiongkok mendukung Joe Biden, dan Iran sedang berusaha untuk menabur kekacauan dalam pemilihan umum presiden Amerika Serikat. Peryataan itu disampaikan seorang pejabat tinggi intelijen, William Evanina, Jumat (7/8) dalam penilaian serius tentang campur tangan asing dalam Pilpres AS November mendatang.

Pernyataan Direktur Pusat Kontraintelijen dan Keamanan Nasional itu menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya pemilu 2016, ketika Rusia memanipulasi media sosial untuk membantu Trump dan 'merugikan' lawannya Hillary Clinton.

"Rusia menggunakan berbagai tindakan  terutama merendahkan mantan Wakil Presiden Biden dan apa yang dilihatnya sebagai 'kemapanan' anti-Rusia," kata Evanina. 

"Ini konsisten dengan kritik publik Moskow terhadapnya ketika dia menjadi Wakil Presiden atas perannya dalam kebijakan pemerintahan Obama di Ukraina dan dukungannya untuk oposisi anti-Putin di Rusia."

Evanina mengidentifikasi Andriy Derkach, seorang politikus Ukraina pro-Rusia, sebagai yang menyebarkan klaim tentang korupsi termasuk melalui panggilan telepon yang bocor untuk menyerang kampanye Biden.

The Washington Post melaporkan Derkach telah berulang kali bertemu dengan pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, yang telah mendorong teori konspirasi tentang mantan wakil presiden tersebut. Evanina juga memperingatkan beberapa aktor terkait Kremlin menyebarkan klaim palsu tentang korupsi untuk melemahkan Biden, sementara yang lain mencoba untuk meningkatkan pencalonan Presiden Trump melalui media sosial dan televisi Rusia.

Evanina, pejabat intelijen tinggi yang memantau ancaman terhadap pemilu, adalah orang yang ditunjuk Trump. Pernyataannya mencantumkan Tiongkok sebelum Rusia tetapi menyajikan bukti yang kurang spesifik tentang campur tangan langsung oleh Beijing.

"Kami menilai Tiongkok lebih mengingingkan Presiden Trump yang menurut Beijing tidak dapat diprediksi tidak terpilih lagi," kata Evanina. 

"Tiongkok telah memperluas upaya pengaruhnya menjelang November 2020 untuk membentuk lingkungan kebijakan di Amerika Serikat, menekan tokoh politik yang dipandangnya bertentangan dengan kepentingan Tiongkok, dan menangkis serta melawan kritik terhadap Tiongkok," terangnya.

Dia menambahkan Beijing menyadari semua upaya ini dapat memengaruhi pemilihan umum presiden. Evanina menyoroti kritik Tiongkok terhadap penanganan Trump terhadap pandemi virus korona, penutupan konsulat Tiongkok di Houston, dan tanggapan Gedung Putih atas tindakan Tiongkok di Hong Kong dan Laut China Selatan. Pada Jumat, AS menjatuhkan sanksi kepada kepala eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, dan 10 pejabat senior lainnya. Trump juga memerintahkan tindakan keras terhadap pemilik aplikasi populer TikTok dan WeChat.

baca juga: Tiongkok-AS Ingatkan Potensi Konflik

Iran, sementara itu berusaha untuk merusak atau mendiskreditkan institusi demokrasi AS dan Trump, dan memecah belah negara itu menjelang pemilihan umum 2020, demikian pernyataan Evanina. Upaya Iran dalam hal ini mungkin akan fokus pada pengaruh online, seperti menyebarkan disinformasi di media sosial dan menyebarkan kembali konten anti-AS. Motivasi Teheran untuk melakukan kegiatan semacam itu, sebagian didorong oleh persepsi terpilihnya kembali Presiden Trump akan mengakibatkan berlanjutnya tekanan AS terhadap Iran dalam upaya untuk mendorong perubahan rezim. (The Guardian/OL-3)

BERITA TERKAIT