07 August 2020, 23:41 WIB

LIPI Kembangkan Perangkat Monitoring Ekosistem Mangrove


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

INDONESIA memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia dengan variasi habitat dan keragamanan hayati yang melimpah. Total lahan mangrove di Indonesia mencapai 3.112.989 hektare atau 22,6 persen dari total ekosistem mangrove di dunia yang seluas 13.760.000 hektare.

“Mangrove yang sehat memiliki kontribusi besar dalam aspek ekonomi sosial masyarakat sekitarnya, serta berperan melindungi wilayah pesisir dari bencana alam laut,” kata Augy Syahailatua, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam pernyataan tertulis, Jumat (7/8).

Augy menuturkan, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI bekerja sama dengan COREMAP-CTI telah melakukan pemantauan bakau di lebih dari 40 lokasi di Indonesia. Hasil penelitian menghasilkan ribuan kumpulan data struktur komunitas mangrove dari berbagai habitat yang kemudian digunakan untuk mengembangkan perangkat pemantau mangrove Monmang dan menyusun buku indeks kesehatan mangrove MHI atau Mangrove Health Index.

Monmang adalah aplikasi berbasis Android yang bermanfaat untuk melakukan input data dan analisis langsung dari situs lapangan saat melakukan monitoring. Aplikasi ini menyediakan parameter struktur komunitas seperti kepadatan, ukuran morfologi, frekuensi, dominasi dan indeks kesehatan mangrove.

“Monmang dapat memudahkan pengukuran kanopi dan dapat menfasilitasi ekspor data ke spreadsheet,” jelas peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, I Wayan Eka Dharmawan.

Eka menjelaskan, LIPI telah mengumpulkan ribuan dataset komunitas mangrove dari berbagai habitat.

Baca juga : Kenali Microbiome Salah Satu Sumber Masalah Kulit

“Dataset ini ukuran satuannya per plot. Per plotnya kita mempunyai lebih dari 1.300 plot,” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan, selama ini yang menjadi kendala adalah keterbatasan waktu dan tenaga untuk menjangkau luas area, jumlah habitat, jumlah plot, dan keterwakilan data. Aplikasi Monmang mampu meringkas semuanya termasuk menghitung persentase luasan kanopi ketika survey sedang dilakukan.

Sementara buku indeks MHI (Mangrove Health Index) dibangun berdasarkan tiga parameter struktur tegakan hutan mangrove, yaitu kerapatan kanopi, rata-rata diameter batang pohon dan jumlah tegakan tiang atau pohon mangrove yang berukuran kecil (diameter batang < 5 cm). Indeks ini dapat menggambarkan stasus kesehatan mangrove, baik dari sisi vegetasi dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya sehingga dapat membantu pengelola ekosistem mangrove dalam menentukan aksi-aksi pengelolaan.

Eka menjelaskan, dengan data sebanyak ini, cukup mampu mengembangkan perangkat kondisi kesehatan mangrove.

“Namun kami tidak ingin berhenti sampai disitu. Kami ingin data tersebut bisa dimanfaatkan secara nasional juga publikasi internasional,” tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT