07 August 2020, 04:05 WIB

Nasib Globalisasi setelah Covid-19 Berakhir


Agus Sugiarto Advisor, Otoritas Jasa Keuangan | Opini

DUNIA diperkirakan mengalami suatu perubahan yang fundamental setelah munculnya pandemi covid-19 yang terjadi sejak beberapa bulan yang lalu. Oleh karena itu, pandemi ini akan memicu berbagai perubahan kebijakan politik dan ekonomi negara-negara di dunia.

Mantan menteri luar negeri AS, Dr Henry Kissinger, mengatakan bahwa dunia tidak akan pernah sama lagi setelah pandemi ini berakhir sehingga menjadi tantangan bagi para pemimpin dunia untuk segera mengatasinya, dan menerapkan kebijakan baru guna membangun masa depan yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah bagaimana peran dari globalisasi itu sendiri setelah pandemi covid-19 berakhir, apakah masih menguntungkan bagi masyarakat global.


Contagion effect

Efek globalisasi melalui konektivitas dan pergerakan manusia yang semakin terbuka antarnegara ternyata juga memberikan dampak negatif. Virus covid-19 yang pertama kali muncul di Wuhan ternyata dengan kurun waktu yang sangat cepat telah menjadi wabah yang menakutkan di seantero penjuru dunia.

Banyak negara yang terpaksa harus menutup perbatasan negara mereka untuk mengurangi dampak penyebaran yang lebih besar. Sampai sekarang pun masih banyak negara yang membatasi kedatangan orang asing ke negara mereka guna mencegah penularan yang lebih besar. Akibatnya, pergerakan manusia antarnegara menjadi tidak sebebas dulu lagi setidaktidaknya sampai pandemi berakhir.


Bibit deglobalisasi

Menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah globalisasi masih diperlukan lagi setelah pandemi berakhir? Sulit untuk menjawab ya atau tidak, mengingat beberapa fakta yang terlihat saat ini menunjukkan bahwa kondisi ‘deglobalisasi’ sebenarnya telah muncul di sektor ekonomi sebelum pandemi muncul.

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS dengan konsep ‘Trumpnomics’ yang diwujudkan dengan kebijakan proteksionisme yang tinggi sudah menciptakan bibit-bibit deglobalisasi bagi perdagangan dunia.

AS di bawah kepemimpinan Trump mencoba membangun kembali kejayaan ekonomi negara adidaya itu melalui kebijakan proteksi yang sangat berlawanan sekali dengan semangat perdagangan bebas. Apabila nanti Donald Trump terpilih lagi dalam pemilihan presiden di November 2020, dipastikan prospek globalisasi perdagangan dunia akan kembali mengalami masa-masa yang suram.


Kelompok pro dan kontra

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa selama ini para ahli terpecah menjadi dua kelompok, yaitu yang mendukung dan menolak keberadaan globalisasi.

Mereka yang menolak keberadaan globalisasi memiliki berbagai pendapat yang masuk akal. Pertama, globalisasi dianggap menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar antara kelompok orang kaya dan kelompok miskin.

Walaupun globalisasi diklaim berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi global, ada anggapan bahwa negara maju lebih diuntungkan jika dibandingkan dengan negara miskin dalam perdagangan bebas itu.

Kedua, kehadiran perusahaan multinasional yang beropersi di negara-negara sedang berkembang dianggap telah melakukan ‘abuse’ dalam bentuk upah buruh yang rendah, jam kerja yang lebih panjang, mempekerjakan buruh di bawah umur, dan lain-lain.

Ketiga, perusahaan multinasional yang beroperasi di negara-negara yang sedang berkembang juga dianggap telah mengeksploitasi sumber kekayaan alam negara itu tanpa batas sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat dahsyat.

Keempat, kemudahan konektivitas manusia dan barang itu juga menjadi penyebab semakin meningkatnya kejahatan multinasional yang terorganisasi, seperti meningkatnya perdagangan narkoba di berbagai penjuru dunia dan lalu lintas perdagangan manusia.

Kelompok yang pro terhadap globalisasi memberikan beberapa argumen yang juga tidak kalah menariknya. Pertama, bahwa stabilitas politik dan ekonomi dunia yang telah berlangsung lama setelah berakhirnya Perang Dingin merupakan salah satu kontribusi nyata dari globalisasi. Bertambahnya negara-negara yang keluar dari garis kemiskinan juga merupakan salah satu wujud nyata dari adanya globalisasi.

Kedua, arus perdagangan bebas telah memberikan peluang yang sama bagi negara maju dan sedang berkembang untuk meningkatkan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan.

Ketiga, globalisasi telah menjadi pemicu munculnya inovasi dan tingkat persaingan yang semakin ketat sehingga mendorong terciptanya kualitas barang yang semakin bagus dan murah.

Keempat, globalisasi memberikan berbagai insentif dan juga kemudahan tarif impor barang bagi negara yang sedang berkembang sehingga barang-barang produk mereka dapat bersaing dengan harga yang lebih murah di pasar global. Munculnya WTO dan juga G-20 sebagai ‘think thank’ perdagangan dunia dianggap telah mengarahkan dunia ke arah yang lebih makmur bagi seluruh umat manusia.

Kelima, munculnya globalisasi juga mendorong li beralisasi politik di berbagai negara. Karena itu, muncul demokrasi di berbagai negara yang sebelumnya ialah negara otoriter. Setelah melihat argumen di atas, sepertinya dunia masih memerlukan globalisasi mengingat globalisasi telah melahirkan sistem ekonomi terbuka yang memberikan peluang yang sama bagi semua negara.

Globalisasi membuka kerja sama internasional untuk mengatasi pandemi covid-19 beserta dampaknya yang tidak mungkin bisa diatasi sepenuhnya apabila tiap-tiap negara berjalan sendiri-sendiri. Namun, aspek ketahanan nasional juga harus diperkuat dalam segala bidang untuk mencegah dan menangkal dampak negatif dari globalisasi itu sendiri.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

BERITA TERKAIT