06 August 2020, 18:25 WIB

Harga Telur dan Rokok Pengaruhi Inflasi di Tasikmalaya


Kristiadi | Nusantara

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya telah mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tasikmalaya mengalami inflasi 0,13 persen (mtm) di bulan Juli 2020. Angka tersebut selama ini lebih rendah dibandingkan sebelumnya sebesar 0,15 persen (month to month/mtm).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun 2020 berjalan di Kota Tasikmalaya adalah 1,24 persen (year to date/ytd) dan inflasi tahunan 1,28 persen (year over year/yoy). Angka tersebut selama ini masih lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat 1,54 persen (yoy) dan inflasi di Jawa Barat sebesar 2,21 persen (yoy).

Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya, Heru Saptaji mengatakan untuk inflasi yang terjadi di Kota Tasikmalaya terutama masih didorong dengan meningkatnya permintaan kenaikan harga telur ayam. Pasokan telur di pasar tradisional dan modern di Tasikmalaya dan wilayah lain, sambungnya, selama ini masih terbatas.

Baca juga: Sulsel Tak Gegabah Buka Pintu Wisatawan Mancanegara

"Untuk mengatasi pasokan telur ayam berada di wilayah Priangan Timur khususnya Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, perlu dilakukan percepatan hingga perluasan kerja sama antardaerah dengan sentra produsen telur ayam. Salah satu contohnya adalah bekerja sama dengan Blitar, sebagai sentra produsen ayam ras," kata Heru, Kamis (6/8/2020).

Heru mengatakan tekanan inflasi selanjutnya berasal dari kenaikan harga rokok kretek filter. Kenaikan cukai rokok 23 persen di awal tahun yang dibebankan secara berkala terutama kepada konsumen menyebabkan harga rokok jadi naik.

Harga emas perhiasan terpantau meningkat 3,70 persen (mtm). Ini sejalan dengan kenaikan harga emas dunia yang melonjak dari USD 1.781 per ons pada akhir Juni 2020 menjadi USD 1.957 per ons pada akhir Juli 2020.

"Tekanan inflasi yang lebih rendah dari bulan sebelumnya didukung oleh penurunan harga bawang merah karena selama ini banyak petani sudah melakukan panen di berbagai daerah sentra," tukas Heru.

Harga bawang putih, imbuhnya, turun karena stok tercukupi dengan lancarnya impor dan distribusi. "Tapi tarif angkutan antarkota yang sebelumnya mengalami inflasi tinggi, di bulan Juli tercatat deflasi karena ada penyesuaian kembali harga pada beberapa armada bus antarkota," ujarnya.

Menurut Heru, tingkat konsumsi rumah tangga di Kota Tasikmalaya terpantau cukup terjaga dan berbagai aktivitas ekonomi sudah mulai kembali normal.

"Namun, masyarakat tetap perlu untuk selalu menjaga protokol kesehatan dengan selalu memakai masker dan juga menghindari kerumunan di masa pandemi covid-19. Namun, bagi UMKM dan pelaku usaha diimbau supaya mereka selalu meningkatkan penjualan secara online dan masyarakat tetap bertransaksi secara digital atau nontunai," paparnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT