06 August 2020, 06:00 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Bakal Minus Tahun Ini


Despian Nurhidayat | Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan tidak akan berada di level positif tahun ini.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan akan berada pada level minus 1,0%.

Hal ini tidak lepas dari beratnya beban pemulihan yang harus ditanggung akibat performa ekonomi terjerembab cukup dalam pada Semester I 2020.

Perkiraan ini jelas lebih rendah daripada proyeksi awal yakni masih  positif 0,02%.

“Laju pemulihan ekonomi akan sangat tergantung pada seberapa baik pemerintah dalam mengendalikan penyebaran covid-19 di Indonesia dan keefektifan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang akan datang. Kami (juga) tetap memperkirakan PDB pada triwulan III 2020 itu minus, tetapi dalam tingkat yang lebih rendah daripada triwulan II 2020,” ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, kemarin.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pada triwulan II 2020 memiliki pengaruh besar pada gerak perekonomian. Akibatnya, perekonomian mengalami kontraksi untuk pertama kalinya  sejak terakhir kali terjadi pada triwulan I 1999  sebesar -6,13%.

“Realisasi kontraksi triwulan II 2020 ini memang lebih rendah daripada perkiraan kami--6,09% yoy, tetapi lebih tinggi daripada ekspektasi pasar --0,72% yoy,” ujar Andry.

Di sisi lain pemerintah optimistis pada triwulan III dan IV-2020 ada tren perbaikan ekonomi karena sejumlah indikator menunjukkan sinyal positif.

“Ada keyakinan bahwa ini akan recover dalam bentuk shape pembalikan sehingga triwulan kedua adalah bottom ekonomi Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melalui video konferensi di Jakarta, kemarin.

Dalam pemaparannya, Menteri Airlangga menjelaskan indikator purchasing managers index (PMI) manufaktur yang sebelumnya pada Maret mencapai 27,5 kemudian pada Juli melonjak menjadi 46,9.

Kemudian indikator lainnya, lanjut dia, penjualan kendaraan bermotor terjadi tren perbaikan dari minus 82,3% pada Mei 2020 naik menjadi minus 54,6%.

Pertumbuhan penjualan ritel terjadi tren perbaikan dari minus 20,6% pada Mei menjadi minus 14,4% pada Juli 2020.

Indeks keyakinan konsumen juga tumbuh dari 77,8 pada April menjadi 83,8 pada Juni. Survei kegiatan dunia usaha juga menunjukkan tren optimisme pada kuartal III-2020 sebesar minus 5,1 dari survei pada kuartal II-2020 sebesar minus 13,1.

Pertanian positif

Di tengah potret buram pertumbuhan triwulan II, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertanian menjadi satu dari 5 sektor usaha yang mampu menahan laju pertumbuhan minus ekonomi nasional.

“Pertumbuhan pertanian ini mengurangi laju kontraksi selama triwulan II 2020,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Sektor pertanian tumbuh positif sebesar 16,24% secara q to q dan tumbuh 2,19% secara yoy. Adapun kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) di triwulan II 2020 meningkat menjadi 15,46% dibanding kontribusinya pada triwulan II 2019 yang hanya 13,57%.

Pertanian merupakan salah satu dari 5 sektor yang berkontribusi besar pada PDB selain industri, perdagangan, konstruksi dan pertambang­an. Namun, pada triwulan II 2020 ini hanya sektor pertanian yang tumbuh positif di tengah pandemi covid-19. (Mir/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT