05 August 2020, 21:32 WIB

Kolaborasi Bantu Dunia Usaha Bertahan di Tengah Pandemi


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

DAMPAK ekonomi Covid-19 sangat terasa di kalangan masyarakat, Pengusaha nasional Sandiaga Uno mengungkapkan, dari surveri yang dilakukannya ada 67 persen masyarakat yang merasa perekonomiannya semakin memburuk sejak pandemi Covid-19.

Menurut Sandiaga, pandemi Covid-19 ini membuktikan prinsip ekonomi yang baik adalah ekonomi yang memberikan keleluasaan atau kelonggaran kepada para usahawan yang sedang membutuhkan.

Dia menilai pentingnya kolaborasi dalam bisnis yang memberi manfaat seperti menumbuhkan inovasi, membangun network, memangkas biaya bisnis, menyelesaikan masalah. 

Melalui kolaborasi, dua usaha berbeda dapat melengkapi kelemahan satu sama lain, sehingga kinerjanya dapat lebih efektif dan efisien dan keduanya mendapatkan win-win solution

“Dari kolaborasi juga bisa belajar banyak hal baru dari mitra yang bisa meningkatkan kemampuan usaha kita menyampaikan value,” tegasnya dalam webinar yang digelar Universitas Wiraraja Madura, Jawa Timur.

Menurut Sandiaga, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membentuk kolaborasi yang tepat dalam situasi new normal. Salah satunya adalah memperhatikan cakupan dan durasi kolaborasi karena kolaborasi bukan open-ended. Pastikan kolaborasi sesuai target.

Selain itu, penting pula untuk memperhatikan tren konsumen yang sangat dinamis dan berubah-ubah secara cepat dan maksimalkan digital marketing untuk menggaungkan kolaborasinya. Perlu juga ditinjau melalui monitoring dan evaluasi dari kolaborasi itu. 

Baca juga : Menkeu Kaji Bansos buat Pekerja Berpendapatan di Bawah Rp5 Juta

“Kuncinya kita harus bisa beradaptasi dengan hasil outcome dan performa dari kolaborasi untuk menentukan whether to stop or lanjut,” ujar Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu..

Di kesempatan yang sama, Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menegaskan pandemi Covid-19 memberikan efek domino pada aspek sosial, ekonomi dan keuangan. 

“Pandemi Covid-19 memberikan efek domino pada aspek sosial, ekonomi dan keuangan. Menciptakan krisis kesehatan dengan belum ditemukannya obat, vaksin dan minimnya alat dan tenaga medis,” katanya.

Covid-19 juga memberi ancaman pada perekonomian Indonesia dari sisi konsumsi dan dunia usaha, yang mana sisi konsumsi dan Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) menurun dari 5,3% menjadi 2,7% dan investasi mengalami penurunan sebesar 3,3%.

"Untuk dunia usaha semuanya mengalami penurunan. Usaha manufaktur, perdagangan, transportasi, akomodasi serta pertanian mengalami penurunan tajam. Koreksi pertumbuhan ekonomi pun akan menimbulkan peningkatan pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja yang berdampak pada meningkatnya masyarakat miskin di Indonesia,” ucap Kamrussamad.

Untuk menangkal dampak di bidang ekonomi, pemerintah telah meluncurkan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang bertujuan untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dan masyarakat dalam menjalankan usahanya.

“Program ini dilaksanakan dengan prinsip asas keadilan sosial, sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, mendukung pelaku usaha, menerapkan kaidah-kaidah kebijakan yang penuh kehati-hatian, serta tata kelola yang baik, transparan, akseleratif, adil, dan akuntabel sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tidak menimbulkan moral hazard, serta adanya pembagian biaya dan risiko antar pemangku kepentingan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing,” kata pendiri KAHMIPreneur itu. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT