05 August 2020, 14:56 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Saat ini Terendah Sejak Krisis Moneter


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia yang minus 5,32% pada triwulan II 2020 merupakan pertumbuhan negatif terdalam sejak triwulan I 1999 kala terjadi krisis moneter.

"Kalau kita melacak kembali kepada pertumbuhan ekonomi secara triwulanan, pertumbuhan minus 5,32% ini adalah terendah sejak triwulan I tahun 1999 saat krisis ekonomi. Jadi pada triwulan I 1999 pada waktu itu mengalami pertumbuhan minus sebesar 6,13%," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto saat menyampaikan rilis secara virtual, Rabu (5/8).

Sebelumnya BPS menyampaikan laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus 5,32% pada triwulan II 2020 bila dibandingkan dengan triwulan II 2019 (year on year/yoy) dan minus 4,19% bila dibandingkan dengan triwulan I 2020 (quarter to quarter/q to q). Begitu pula bila dihitung secara kumulatif pada semester I 2020, ekonomi Indonesia tumbuh minus 1,26%.

Suhariyanto berharap, anjloknya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini menjadi satu-satunya yang terjadi di 2020. Seiring dengan itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mau bahu membahu memulihkan perekonomian nasional agar pertumbuhan ekonomi dapat menuju ke arah positif.

"Untuk triwulan III saya mengajak semua untuk membangun optimisme. Sejak adanya relaksasi PSBB di awal Juni, sudah ada geliat dibanding dengan yang terjadi pada Mei meski masih jauh dari normal," imbuh Suhariyanto.

"Jadi untuk triwulan III ini kita harus bergandeng tangan, optimis sehingga geliat ekonomi bergerak. Salah satu kunci penting adalah penerapan protokol kesehatan. Ini kunci utama supaya covid betul-betul tidak menyebar kemana-mana," sambungnya.

Baca juga : Tumbuh Negatif, Indonesia Masih Relatif Lebih Baik

Ia menambahkan, sejatinya tanda pemulihan ekonomi mulai tampak pada Juni 2020 sejak pemerintah memutuskan untuk merelaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Itu terlihat pada pertumbuhan positif di sektor transportasi.

Misal, pada sektor penerbangan domestik dan internasional, pada Juni 2020 tumbuh 54,70% dibanding Mei 2020. "Ada kenaikan yanh cukup signifikan. Transportasi udara domestik, sudah banyak perjalan dari satu provinsi ke provinsi lainnya sehingga membuat pergerakkan transportasi udara domestik itu naik 791,38% di bulan Juni kalau dibandingkan Mei 2020. Meski pun kalau dibandingkan pada kondisi normal, masih mengalami penurunan yang dalam," jelas Suhariyanto.

Begitu pula dengan laporan IHS Markit yang menyebutkan adanya perbaikan pada Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia yang pada Juli berada di level 46,9.

"Sudah mulai ada denyut ekonomi. Kemarin IHS Markit juga merilis angka PMI, dan itu menunjukkan pergerakkan ke angka positif, kalau Mei 2020 28,6 di bulan Juni naik 39,1 dan Juli 46,9, semakin mendekati angka 50," pungkas Suhariyanto. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT