05 August 2020, 12:17 WIB

BPS: Pandemi Covid Beri Efek Domino


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PANDEMI covid-19 telah memberikan efek domino yang semula berawal dari masalah kesehatan kemudian merambat ke permasalahan sosial dan ekonomi. Seluruh lapisan masyarakat terpukul dampak dari pandemi tersebut.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto saat menyampaikan rilis secara virtual, Rabu (5/8).

"Banyak kebijakan yang diterapkan berbagai negara, mengutamakan kesehatan untuk mencegah penyebadan covid-19 dan di sisi lain pemerintah berupaya menjaga denyut ekonomi agar tetap berjalan. Untuk menjaga keseimbangan itu bukan lah persoalan gampang," ujarnya.

Suhariyanto melanjutkan, berdasarkan catatan BPS selama triwulan II 2020 harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional secara umum mengalami penurunan baik secara quartet to quarter (q to q) maupun year on year (yoy).

Misal, harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada triwulan I 2020 masih senilai US$52,07 per barel namun anjlok di triwulan II 2020 menjadi US$27,67 per barel. Begitu pula dengan harga komoditas hasil tambang seperti timah, alumunium dan tembaga turut terimbas pandemi covid-19. Tercatat pada triwulan II 2020 harganya menurun baik secara q to q maupun yoy.

Suhariyanto menambahkan, pelambatan ekonomi nasional juga tercermin dari rendahnya tingkat inflasi. Tercatat pada triwulan II 2020 tingkat inflasi hanya 0,32% secara q to q dan bila dibandingkan secara yoy sebesar 1,96%.

"Angka inflasi ini relatif rendah. Kalau dibandingkan dengan posisi inflasi pada Juni 2019 yang angka inflasinya sebesar 3,28%. Fenomena di semua negara memang tejadi pelambatan inflasi bahkan mengarah ke deflasi karena lemahnya permintaan dan adanya kendalaan pada pasokan," jelas Suhariyanto.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Triwulan II 2020 Minus 5,32%

Lebih lanjut ia menyampaikan, produksi mobil mengalami penurunan dalam. Sebab pada triwulan II 2020 hanya sebesar 41.520 unit atau turun 87,34% secara q to q dan yoy turun 85,02%. Seiring dengan penjualan tersebut, penjualan mobil secara whole sale pada triwulan II 2020 hanya mencapai 24.042 unit atau turun 89,95% secara q to q dan 89,44% yoy.

"Indikator ini akan berpengaruh pada pergerakan industri alat angkutan, sektor perdagangan dan kepada konsumsi rumah tangga, terutama untuk golongan menengah atas," ujar Suhariyanto.

Tren penurunan juga terjadi pada penjualan sepeda motor. Tercatat terjadi penurunan tajam mencapai 80,06% bila dibandingkan secara q to q dan 79,70% secara yoy. Penjualan sepeda motor pada triwulan II 2020 hanya sebesar 313.625 unit.

Begitu pula produksi semen, pada triwulan II tingkat produksinya hanya mencapai 12,68 juta ton atau turun 18,80% q to q dan 9,08% yoy. Pengadaan semen dalam negeri juga turun sebesar 15,09% q to q dan 7,69% yoy, atau hanya 12,65 juta ton pada triwulan II 2020.

"Ini dampaknya bisa dilihat kepada sektor konstruksi yang akan mengalami kontraksi," pungkas Suhariyanto.

Sebelumnya diberitakan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 tumbuh minus 5,32% bila dibandingkan dengan triwulan II 2019 yang tumbuh 5,07%. Sedangkan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2020 tumbuh negatif 4,19%. (A-2)

 

 

BERITA TERKAIT