05 August 2020, 06:39 WIB

Gage Berhasil Urai Kemacetan di Ibu Kota


Tri/Put/Ins/J-2 | Megapolitan

PEMBATASAN kendaraan berdasarkan pelat nomor polisi yang kembali diaktifkan terbukti efektif mengurangi kemacetan di Jakarta. Pun volume kendaraan di ruas jalur yang menerapkan sistem ganjil-genap (gage) dapat ditekan hingga 40%.

Hal itu dikemukakan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo dan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syaf rin Liputo saat dihubungi dalam kesempatan terpisah, kemarin.

Sambodo mengatakan kebijakan gage pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi kembali diaktifkan sejak Senin (3/8) di 25 ruas jalan di Ibu Kota.

“Pemberlakuan gage sangat efektif dari sisi mengurai kemacetan. Contohnya, di ruas Jalan Sudirman-MH Thamrin bisa berkurang sampai
30%-40%,” ujarnya.

Selain Jalan Sudirman-MH Thamrin, sistem gage juga diterapkan di beberapa ruas jalan lainnya, antara lain Jalan Gatot Subroto, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gadjah Mada, Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Suryopranoto, Jalan MT Haryono, dan Jalan Rasuna Said.

Kebijakan itu diberlakukan selama lima hari, Senin-Jumat, dengan dibagi ke dalam dua jadwal, pukul 06.00-10.00 WIB dan pukul 16.00-21.00 WIB.

Menurutnya, sosialisasi gage berlangsung hingga hari ini. Petugas di lapangan juga tetap siaga sembari membagikan brosur informasi. “Kita masih mendapati banyak pelanggaran. Hari pertama saja ada 369 pelanggaran. Karena sifatnya masih sosialisasi, kita berikan teguran.”

Namun, sambung dia, penindakan akan dilakukan polisi mulai Kamis (6/8) mendatang. Penindakan tersebut merujuk Pasal 287 ayat (1) UU LLAJ No 22 Tahun 2009. Denda maksimal kepada para pelanggar ialah Rp500 ribu subsider dua bulan kurungan.

Syafrin Liputo menyebut pelaksanaan ganjil-genap di hari pertama cukup baik dan lancar. “Saat ini kami bersepakat dengan Polda Metro Jaya masih hanya memberikan pembinaan dan teguran, serta diminta putar arah ke jalan lain,” tukas Syafrin.

Selain itu, berdasarkan data-data yang ada, terjadi penurunan mobilitas kendaraan pribadi di sejumlah ruas jalan yang diterapkan kebijakan gage.

“Ada penurunan mobilitas kendaraan di ruas-ruas jalan ganjil-genap. Bervariatif ya, ada yang 5% dan ada yang turun 2%,” katanya.

Angkutan umum

Meski pembatasan kendaraan cukup efektif menekan mobilitas warga, kenaikan jumlah penumpang angkutan umum ternyata belum signifikan.

Seperti di Trans-Jakarta, kenaikan jumlah penumpang hanya sebesar 5,96%. Pada Senin (27/7), ada 318.155 penumpang dan 337.118 penumpang pada Senin (3/8).

Sebaliknya, terjadi penurunan di angkutan MRT Jakarta. Pada Senin (27/7), jumlah penumpang mencapai 22.711 orang. Kemudian, Senin (3/8), jumlah penumpang justru turun se- besar 2,38% menjadi 22.171 orang.

Fakta ini pun sekaligus membantah prediksi bahwa akan terjadi gelombang perpindahan pengendara pribadi ke angkutan umum.

“Jadi ganjil-genap ini cukup baik dalam menekan aktivitas warga. Artinya pe san yang kami sampaikan dengan ganjil-genap ini berhasil,” pungkas Syafrin. (Tri/Put/Ins/J-2)

BERITA TERKAIT