05 August 2020, 06:27 WIB

Ancaman Kekerasan di Balik Pembelajaran Daring


Muhammad Rajab Director of Ma’had and Islamic Studies Tazkia International Islamic Boarding School | Surat Pembaca

PANDEMI covid-19 hingga saat ini telah memberikan dampak signifikan terhadap dunia pendidikan. Sekolah-sekolah ditutup dan pembelajaran dilakukan secara daring. Namun, ternyata ancaman terhadap dunia pendidikan tak berhenti di situ. Kini ancaman nyata yang perlu diwaspadai ialah kekerasan 'digital' di dunia maya terhadap anak usia sekolah.

Kebijakan untuk melakukan pembelajaran secara daring otomatis membuat intensitas anak bersama dengan internet akan semakin lama. Di satu sisi, kondisi demikian dapat memberikan dampak positif dalam peningkatan kemampuan teknologi anak. Di sisi lain, hal itu menjadi peluang bagi para pelaku kejahatan untuk melakukan 'serangan' melalui dunia maya. Salah satunya ialah kekerasan.

Laporan PBB terbaru menunjukkan separuh anak di dunia mengalami kekerasan. PBB juga mengingatkan dampak dramatis pandemi ini yang mengubah pola kekerasan dengan meningkatnya perundungan di dunia maya.

Laporan tersebut juga memperingatkan negara-negara akan dampak dramatis covid-19 yang juga mengubah pola kekerasan antarpribadi. Pembunuhan dan cedera akibat kekerasan dilaporkan menurun karena penguncian wilayah dan pembatasan sosial. Namun, penguncian yang diikuti penutupan sekolah meningkatkan potensi perundungan di dunia maya dan eksploitasi seksual seiring dengan meningkatnya penggunaan internet.

Laporan tentang eksploitasi seksual anak secara daring yang diterima National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) pada April 2020 mencatat terdapat 4,2 juta konten eksploitasi seksual anak yang didistribusikan atau diakses. Jumlah itu meningkat 2 juta dalam sebulan jika dibandingkan dengan data pada Maret 2020.

Kondisi itu menjadi penting untuk diperhatikan secara serius mengingat pembelajaran jarak jauh akan terus dilaksanakan hingga akhir 2020 mendatang. Hal ini tentu menuntut semua pihak, baik pemerintah, sekolah, maupun keluarga, dalam hal ini orangtua, harus berpikir keras untuk membentengi anak-anak agar terhindari dari berbagai ancaman di dunia maya. Ironisnya, ancaman dan tayangan kekerasan di dunia maya sulit sekali dikendalikan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menguatkan 'benteng pertahanan' terhadap aksi kekerasan di dunia maya ialah memberikan pembekalan literasi digital kepada para siswa. Hal itu bisa dilakukan dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada para siswa agar mereka memiliki keterampilan literasi digital yang baik.

Dengan pembekalan literasi digital ini, diharapkan, para siswa bersikap cerdas dan kritis dalam menggunakan internet sebab informasi-informasi di dunia maya melalui perangkat telepon pintar atau komputer dan laptop dengan beragam aplikasi beredar tanpa terkendali. Informasi positif dan negatif secara bersamaan tersebar secara bebas di dunia maya. Di sinilah para siswa dituntut untuk mampu memfi lter informasi negatif di dunia maya.

Hal lain yang perlu ditingkatkan untuk meminimalkan terjadinya kekerasan terhadap anak di dunia maya ialah kerja sama antara sekolah dan
keluarga di rumah. Sekolah dalam hal ini senantiasa memberikan edukasi kepada para siswa agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap bahaya internet. Edukasi tersebut dapat dilakukan dengan memberikan sosialisasi baik melalui video, flyer, maupun tulisan-tulisan pendek tentang manfaat dan bahaya internet.

Tidak cukup di situ, para siswa juga perlu diberi pemahaman tentang bentuk-bentuk kekerasan yang sering terjadi di dunia maya serta dampaknya terhadap perkembangan fisik dan psike anak. Selain itu, para siswa perlu mendapatkan pemahaman tentang langkah-langkah praktis yang harus mereka lakukan jika ada ancaman kekerasan terhadap dirinya di dunia maya.

Sementara itu, peran keluarga ialah mengoptimalkan pengawasan dan kontrol di rumah, terutama saat anak sedang berinteraksi dengan internet, baik melalui telepon seluler maupun laptop. Pengawasan yang baik dari orangtua akan mempersempit kesempatan anak untuk mengakses konten-konten negatif di dunia maya. Sebaliknya, kelengahan orangtua akan memberikan peluang bagi anak untuk mengakses konten-konten negatif.

Kontrol dan pengawasan itu bisa dilakukan dengan melakukan pembatasan waktu dalam menggunakan internet di rumah. Anak diizinkan menggunakan internet untuk kepentingan pembelajaran saja. Lebih-lebih kepada anak di bawah umur atau anak usia SD ke bawah. Kondisi psikologis mereka masih belum mampu untuk melakukan kontrol terhadap stimulus dari informasi-informasi yang beredar di internet.

Para orangtua di rumah juga diharapkan aktif untuk berkoordinasi dan konsultasi dengan pihak sekolah jika terdapat kendala dan kesulitan dalam memberikan pendampingan dan pengawasan terhadap anak di rumah. Selain itu, jika ada informasi-informasi penting tentang perkembangan atau perubahan perilaku anak di rumah, itu sangat penting untuk dikomunikasikan dengan pihak sekolah. Apalagi jika ada indikasi ancaman kekerasan yang dialami anak di dunia maya.

Pada intinya, kerja sama dan koordinasi secara intensif antara pihak manajemen sekolah dan orangtua di rumah menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak di dunia maya. Karena itu, kesadaran dan tanggung jawab sekolah dan orangtua untuk membentengi anak dari tindak kekerasan, khususnya di tengah pandemi covid-19, perlu ditingkatkan. Hal itu merupakan upaya untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak di dunia maya.

BERITA TERKAIT