05 August 2020, 04:25 WIB

Coba-Coba ala Bupati Sukri


Lina Herlina | Nusantara

AM Sukri Sappewali sudah berencana membuka sekolah dengan tatap muka. Bupati Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu akan mencobanya di Kecamatan Ujung Bulu. Satu kecamatan dulu.

Tidak tanggung-tanggung, tatap muka digelar di semua SD dan SMP. “Jika terjadi penularan di sekolah, kegiatan belajar tatap muka dihentikan. Namun, jika aman, metode itu akan diberlakukan ke kecamatan lain,” tegasnya.

Rencana sang bupati itu sempat mengagetkan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. Meski operasional SD dan SMP jadi kewenangan bupati, ia mengimbau sekolah tatap muka jangan dilaksanakan dulu.

“Saat ini, Sulsel memang sudah landai. Angka penambahan kasusnya di bawah satu. Tapi kita tidak boleh anggap enteng karena DKI Jakarta dan Jawa Timur juga tiba-tiba naik,” tambahnya.

Bulukumba memang sudah berada di zona hijau. “Tapi itu karena semua yang positif dirawat di Makassar. Saya minta tunggu kajian epidemiologi untuk menilai kondisi daerah,” tandas Nurdin.

Di Sikka, Nusa Tenggara Timur, para siswa sempat mengikuti kegiatan belajar kelompok dengan pendekatan luar jaringan di rumah khusus. Namun, adanya satu warga di Desa Hepang, Kecamatan Lela, yang positif terjangkit, membuat kegiatan itu dihentikan.

“Saya sudah menyurati semua kepala sekolah tingkat PAUD, TK, SD, dan SMP di Lela untuk menghentikannya. Guru, kita minta menyiapkan bahan ajar dan mengirimnya ke rumahrumah siswa,” kata Kepala Dinas Pendidikan Manyella Da Cunha.

Sementara itu, Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat, tetap memilih opsi aman dengan memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Namun, mereka tidak membiarkan para pelajar kesulitan belajar daring.

“Kami membuka seluruh wifi di kantor pemerintah, kecamatan hingga kelurahan, untuk siswa. Pemkot juga membuatkan aplikasi untuk menunjang proses belajar mengajar secara daring,” ungkap Kepala Dinas Komunikasi Ma’ruf Nuryasa.

Belajar daring belum berpihak pada warga kurang mampu. Caca Alfarizki, 10, siswa SDN I Kota Banjar, Jawa Barat, harus belajar ke sekolah seorang diri karena orangtuanya tidak memiliki telepon seluler.

Di Tuban, Jawa Timur, Bupati Fathul Huda memprioritaskan pesantren untuk melakukan pembelajaran tatap muka lebih awal. “Tidak semua yang diajarkan di pesantren dapat disampaikan secara daring.” (LN/GL/UL/AD/YK/N-2)

BERITA TERKAIT