05 August 2020, 06:00 WIB

Korona Picu Diabetes Baru


Atalya Puspa | Humaniora

PERTENGAHAN April 2020, Finn Gnadt, seorang pelajar berusia 18 tahun dari Kiel, Jerman, tahu kalau dirinya terinfeksi SARS-CoV-2 penyebab covid-19. Namun, ia merasa dirinya baik-baik saja.

Kondisi Gnadt berbeda dengan kedua orangtuanya yang jatuh sakit karena covid-19 setelah perjalanan mereka ke Austria. Awalnya, Gnadt mengira dia telah lolos dari infeksi itu karena tanpa gejala. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, dia mengeluh sangat lelah dan selalu haus.

Pada Mei 2020, Gnadt didiagnosis menderita diabetes tipe I. Dokternya, Tim Hollstein, dari Rumah Sakit Universitas Schleswig-Holstein, menduga serangan mendadak diabetes itu mungkin terkait dengan infeksi covid-19.

Dari hasil pemeriksaan darah, Hollstein mendapati tak ada sel beta pada pankreas Gnadt. Padahal, sel beta berperan penting memproduksi hormon insulin yang memecah gula menjadi energi. Diketahui, ada banyak organ yang terlibat dalam pengendalian kadar gula darah kaya akan protein ACE2, protein yang dibutuhkan SARS-CoV-2 untuk bisa menginfeksi sel.

“Diabetes ialah dinamit jika Anda mendapatkan covid-19,” kata Paul Zimmet yang mempelajari penyakit metabolik di Monash University di Melbourne, Australia, seperti dikutip dari Nature.

Kasus Gnadt bukan satu-satunya sebab ada banyak orang dengan gejala covid-19 tiba di rumah sakit dengan tingkat yang sangat tinggi. Hal ini menarik perhatian sejumlah ilmuwan dan menelitinya lebih lanjut.

Digerogoti

Diabetes melitus merupakan faktor risiko yang meningkatkan keparahan infeksi covid-19 dan menjadi komorbiditas kedua setelah hipertensi dengan angka kematian tiga kali lipat jika dibandingkan dengan kasus umum.

“Itu karena komplikasi yang ditimbulkannya. Diabetes ialah penyakit mematikan,” cetus Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM Dante S Harbuwono.

Sebelum pandemi covid-19, imbuhnya, diabetes dikenal sebagai mother of disease atau akar dari semua penyakit. Penderita strok, pasien cuci darah, pasien amputasi, serangan jantung, dan disfungsi ereksi sebagian besar disebabkan diabetes.

“Di seluruh dunia memang ada pandemi covid-19, tapi di seluruh dunia juga ada pandemi diabetes. Bayangkan, tiap satu detik ada delapan orang mati karena diabetes. Silent complication. Enggak akan kelihatan, enggak me­ngeluh se­suatu, tapi badannya digerogoti dari dalam,” ujarnya dalam webinar Online Festival Beat Diabetes, belum lama ini.

Baca juga : Diabetes Melitus Pintu Masuk Gagal Ginjal

Di Indonesia sendiri, kata Dante, saat ini terdapat 10,8 juta pasien diabetes yang terdeteksi. Dante menggarisbawahi jika seseorang sudah terkena diabetes, yang harus dilakukan ialah kontrol diri guna mencegah komplikasi. “Terapkan pola hidup sehat,” ungkapnya.

Penderita diabetes disarankan mengatur konsumsi gula harian per hari maksimal 50 gram. Selain itu, olahraga rutin harus dilakukan dengan catat­an olahraga dilakukan saat kadar dula darah di bawah 300 dan jangan minum obat sebelum berolahraga. (H-2)

BERITA TERKAIT