05 August 2020, 04:05 WIB

Kerja Berisiko di Tengah Wabah


Sriyanti | Nusantara

AKHIR Juli lalu, empat petugas pemakaman dengan protokol covid-19 jadi korban penganiayaan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pelakunya ialah keluarga korban yang ingin pemakaman dilakukan sesuai keinginan mereka.

Kejadian yang mengancam jiwa para petugas pemakaman itu juga membuat khawatir para tenaga kesehatan yang melakukan pemulasaran jenazah covid-19. Salah satu di antara mereka ialah Ricka Brillianty Zaluchu, seorang dokter spesialis forensik dan medikolegal yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Doris Syalvanus, Palangka Raya.

“Kami melakukan pemulasaran dengan tahapan cukup panjang dan penuh kehati-hatian. Saya memimpin tim yang berjumlah 13 orang,” ungkap Ricka.

Ia dan tim mulai bertugas saat pasien covid-19 dinyatakan meninggal dunia. Sebelumnya, dokter di ruangan sudah memberikan penjelasan kepada keluarga korban. Termasuk soal pemakaman yang harus dilakukan di area yang sudah ditentukan pemerintah daerah.

Dokter di ruangan perawatan juga harus memastikan bah wa pasien yang meninggal dunia positif terjangkit. Pemulasaraan pun dilakukan dengan prosedur covid- 19.

Ricka dan tim bekerja dengan alat pelindung diri level 3. “Dengan APD itu, kami tidak bisa bebas bernapas, tertutup, panas. Oksigen yang kami hirup, ya oksigen yang ada di situ saja,” papar Ricka.

Dokter yang bertugas di Palangka Raya sejak 2014 itu juga memastikan perangkat dan prosedur pemulasaraan jenazah dilakukan teliti dan sangat ketat. Dimulai dari peti jenazah yang terbuat dari kayu dan tidak boleh renggang. Di dalamnya harus dilapisi aluminium tebal. Setelah itu ada lapisan plastik sebagai alas.

Sebelum dilapis dengan tiga lapisan plastik, jenazah harus disemprot cairan disinfektan. Setelah itu, jasad dibungkus kain kafan. Itu saja belum cukup. Di luar kain kafan, plastik kembali jadi pembungkus terakhir. Seorang ustaz menutup proses itu dengan tayamum.

Proses panjang dan hati-hati itu bukan berarti tidak ada risiko. “Semua orang pasti ada rasa takut. Saya juga ibu dari dua anak. Demi mereka, kalau di rumah, saya tidur di kamar sendiri. Saya juga selalu memakai masker meski di dalam rumah,” jelas dokter lulusan Universitas Diponegoro Semarang itu. (SS/N-2)

BERITA TERKAIT