05 August 2020, 05:20 WIB

Sentimen Positif di Pasar Modal


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menilai saat ini sudah mulai terjadi adanya sentimen po­sitif di pasar modal baik di Indonesia maupun global. “Penguatan ini lebih didorong adanya investor domestik,” katanya dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, kemarin.

Wimboh menyatakan penguatan di pasar modal didorong adanya investor domestik, khususnya investor ritel dan nonresiden yang tercatat melakukan net buy sebesar Rp1,5 triliun. Adapun di pasar surat berharga negara (SBN), ujarnya, hingga akhir Juli terjadi net buying sebesar Rp5,06 triliun.

Meski demikian, menurut Wimboh, volatilitas tinggi masih terjadi di pasar modal yaitu dapat terlihat pada indeks harga saham gabungan atau IHSG yang kembali tertekan menjadi 5.006 saat awal Agustus.

Ia menuturkan hal itu terjadi karena adanya beberapa faktor seperti dirilisnya data deflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan pretensi dari investor atas data produk domestik bruto (PDB) Indonesia di kuartal II 2020.

Tak hanya itu, Wimboh mengatakan vak­sin covid-19 yang saat ini masih dalam proses uji coba dan pengetesan turut berkontribusi dalam terciptanya ketidakpas­tian di kuartal-kuartal berikutnya.

“Vaksin juga masih belum bisa meskipun sudah ditemukan beberapa sumber, tapi masih belum bisa kita eksekusi karena masih harus dites. Ketidakpastian masih ada,” tegasnya.

Menguat

Kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup naik seiring menguatnya bursa saham global. IHSG ditutup menguat 68,78 poin atau 1,37% ke posisi 5.075.
Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 15,53 poin atau 2,01% menjadi 789,9.

“Dari eksternal, penguatan IHSG dipicu menghijaunya indeks global seiring musim laporan keuangan dan cukup bagusnya data manufaktur,” kata analis Indo Premier Sekuritas Mino di Jakarta, kemarin.

Adapun dari dalam negeri, lanjut Mino, penguatan IHSG didukung meredanya kekhawatiran investor akan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 dan juga harga komoditas yang kompak menguat, kecuali batu bara.

Dibuka menguat, IHSG betah berada di zona hijau sepanjang perdagangan hingga penutupan bursa saham.

Secara sektoral, sembilan sektor meningkat dengan saham pertaniannya naik paling tinggi yaitu 1,99%, diikuti industri dasar dan sektor manufaktur masing-masing 1,86% dan 1,75%. Adapun satu sektor terkoreksi yaitu sektor properti, yaitu minus 0,21%.

Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing sebesar Rp45,18 miliar.

Adapun nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada sore kemarin ditutup menguat tipis di tengah variasi mata uang kawasan Asia.

Rupiah ditutup menguat 5 poin atau 0,03% menjadi 14.625 per dolar AS dari sebelumnya 14.630 per dolar AS.

“Kemungkinan pasar masih menunggu persetujuan stimulus fiskal pemerintah AS sebesar US$1 triliun  yang bisa memberikan sentimen positif ke aset berisiko,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta.

Rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat di posisi 14.565 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran 14.565 per dolar AS hingga 14.673 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indone­sia kemarin menunjukkan rupiah menguat menjadi 14.697 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi 14.713 per dolar AS. (Hld/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT