05 August 2020, 04:22 WIB

Perilaku Menyimpang dan Upaya Pencegahannya


Bagong Suyanto Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga | Opini

DI luar berita penyebaran covid-19 yang terus meningkat, publik dikejutkan dengan penyebaran informasi tentang munculnya perilaku seksual yang menyimpang. Belum usai perbincangan masyarakat tentang kasus dugaan fetish yang dilakukan Gilang, mahasiswa salah satu PTN terkenal di Surabaya, publik kini kembali terhentak dengan munculnya kasus seorang pria yang mengaku dosen dan melakukan pelecehan seksual dengan kedok riset swinger.

Kelakuan Gilang yang meminta para korbannya ‘dibungkus’ kain jarik menyerupai pocong menjadi trending topic di Twitter ketika sejumlah korban Gilang mulai mengunggah peristiwa pelecehan yang mereka alami.

Salah seorang korban, @m_fikris, mengaku dirinya tertipu dan bersedia membantu ‘riset’ Gilang yang mengharuskan dirinya dibungkus kain sampai tiga jam. Namun, ia akhirnya sadar bahwa ‘riset’ yang dilakukan Gilang itu untuk melecehkan dirinya dan merupakan tindakan fetish.

Sementara itu, kelakuan Bambang Ariyanto, salah seorang alumnus PTN terkenal di Yogyakarta membuat publik terkaget-kaget karena jumlah korban dilaporkan ternyata mencapai 300 orang lebih.

Bambang yang melakukan aksi menyimpangnya sejak tahun 2014 itu memperdaya ratusan perempuan untuk mendengarkan cerita fantasi seksualnya yang menyimpang, yaitu keinginan dia melakukan tukar pasangan seksual. Ulah menyimpang Bambang mulai terbongkar ketika ada sebagian korban yang sadar kalau mereka menjadi korban pelecehan seksual yang berkedok riset ilmiah itu.

Bahaya

Seseorang yang memiliki fantasi seksual dan perilaku seksual yang menyimpang sebetulnya wajar-wajar saja. Sepanjang ulah mereka tidak sampai menimbulkan gangguan seksual bagi orang lain, tidak ada yang keliru ketika seseorang mengembangkan imajinasi tersendiri tentang seks. Namun, lain soal ketika fantasi seksual dan fetish yang dilakukan seseorang itu memicu munculnya hal-hal yang merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.

Perilaku seksual dikatakan menyimpang ketika melibatkan dan menyebabkan orang lain menjadi korban. Secara teoretis, yang dimaksud perilaku menyimpang ialah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan, atau norma sosial yang berlaku.

Secara sederhana, kita memang dapat mengatakan seseorang berperilaku menyimpang di bidang seksual apabila menurut anggapan sebagian besar masyarakat (minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu) perilaku atau tindakan seksual tersebut di luar kebiasaan, adat istiadat, aturan, dan nilai-nilai atau norma sosial yang berlaku.

Baik fetish maupun fantasi seksual yang memakan korban orang-orang yang tidak bersalah merupakan bentuk penyimpangan seksual. Fetish merupakan bentuk perilaku seksual yang menyimpang, yang mana seseorang memiliki rangsangan pada objek-objek tertentu yang tidak biasa, misalnya jarik, sandal, celana dalam bekas, buah-buah tertentu, dan benda-benda lain.

Sementara itu, fantasi seksual menjadi hal yang tidak wajar ketika pelaku melibatkan orang lain yang bukan pasangan sahnya sebagai
objek untuk mencari kenikmatan seksual.

Bahaya dari perilaku orang yang mengidap penyimpangan perilaku seksual ialah kemungkinan mereka mengembangkan bentuk-bentuk perilaku seksual lain yang menyimpang atau bahkan memiliki lebih dari satu penyimpangan atau multiple penyimpangan seksual. Lebih dari sekadar menyimpang, tidak jarang orang yang mengidap kelainan seksual kemudian melakukan berbagai hal yang masuk dalam wilayah kriminal.

Ketika hasrat kelainan seksualnya tidak kunjung terpenuhi, bukan tidak mungkin orang-orang yang melakukan perilaku seksual yang
menyimpang mengembangkan ke bentuk perilaku lain yang berbahaya, seperti sadisme, voyeurism atau perilaku seksual lain yang mengancam keselamatan, dan mempermalukan korban.

Apa yang dilakukan Gilang, misalnya, yang merekam kelakuannya dan kemudian mem-posting rekamannya ke orang lain, sedikit-banyak mengindikasikan adanya unsur voyeurismnya--semacam rasa senang menonton apa yang dia lakukan pada korbannya.

Mencegah

Mencegah dan menangani munculnya perilaku seksual yang menyimpang di masyarakat tentu bukan hal yang mudah. Akan tetapi, dengan melacak dan memahami faktor-faktor yang menjadi penyebab seseorang hingga memiliki orientasi dan perilaku seksual yang menyimpang, paling tidak dapat dirumuskan program intervensi yang tepat.

Secara teoretis, dua faktor yang menjadi penyebab seseorang miliki orientasi dan perilaku seksual yang menyimpang ialah kondisi psikologis dan pengalaman masa lalu pelaku. Seseorang yang memiliki kecenderungan psikologis yang menyimpang dengan cepat mereka akan terjerumus dalam perilaku yang keliru ketika habitus sosial di sekitarnya mendukung ke arah itu.

Sementara itu, seseorang yang mengalami pengalaman traumatik semasa kecil, juga bukan tidak mungkin akan menyebabkan mereka ketika besar melakukan hal yang sama.

Seeorang yang pada masa kanak-kanak, dilecehkan, menjadi korban KDRT, mengalami tindak perundungan, dihina-hina, dibandingbandingkan, atau mendapatkan perlakuan tidak senonoh, disodomi dan lain sebagainya, kemungkinan ketika besar mereka justru akan meniru dan mengembangkan perilaku yang menyimpang.

Ketika kecil mereka menjadi korban, ketika besar mereka menjadi pelaku tindakan yang menyimpang. Untuk mencegah agar tidak muncul perilaku seksual yang me nyimpang, apalagi menjadi predator seksual, yang dibutuhkan tak pelak ialah langkah-langkah yang sifatnya preventif. Artinya, fokus penanganan seyogianya bukan pada upaya penanganan setelah anak terlanjur tumbuh besar dan berpotensi menjadi pelaku tindakan seksual yang menyimpang.

Dalam keluarga, pengawasan orangtua merupakan kunci ter- penting untuk memastikan perkembangan psikologis anak dapat tumbuh secara wajar. Namun, ketika ancaman berasal dari orangtua, pelibatan keluarga besar untuk melakukan pengawasan dan memberikan

perlindungan kepada anak menjadi sangat penting.

Studi yang dilakukan Dervishi et al (2017) menemukan bahwa risiko munculnya perilaku yang menyimpang mau tidak mau memang harus dilacak pada pengalaman masa lalu, terutama masa kanak-kanak. Dengan memahami dan berempati pada arti penting proses tumbuh-kembang anak, peluang mencegah terjadinya praktik perilaku seksual yang menyimpang akan lebih mungkin dilakukan.

BERITA TERKAIT